Review Novel Tuyet, Mempertanyakan Kemanusiaan di Masa Perang

0
224

Tuyet. Gadis Vietnam usia 20 an tahun. Tubuhnya mungil, berkulit putih dan selalu mengenakan ao dai (baju nasional Vietnam mirip gamis dan dipadu celana pantolan). Ia satu di antaranya sekian banyak warga Vietnam yang terjebak dalam penderitaan akibat perang Vietnam tahun 1957-1975. Perang akibat dua ideologi berebut pengaruh, yakni komunis dan liberal.

Tuyet tak pernah mengerti apa itu komunisme dan apa itu liberalisme. Ia hanya merasakan perang antara Vietnam Selatan dan Vietnam Utara menghapus masa depannya. Tak hanya masa depannya saja, tapi juga masa depan jutaan orang lainnya. Nyawa begitu murah. Sewaktu-waktu dengan amat mudah bisa lepas dari raga. Sejarah mencatat, dalam kurun waktu perang Vietnam, sebanyak 280.000 orang di pihak Selatan meninggal dan 1.000.000 di pihak Utara juga meninggal.

Sosok Tuyet awalnya memang misterius. Ia teman Herbert seorang wartawan asing yang meliput perang Vietnam. Tapi ia harus ke Jerman untuk menyelesaikan penerbitan bukunya. Setelah Herbert tidak ada lagi di Vietnam, Tuyet meminta tolong ke Alimin (tokoh aku), seorang wartawan asal Indonesia, karena ia teman dekat Herbert.

Awalnya hubungan keduanya hanya masalah surat dari Herbert yang ditunggu Tuyet, yang kemungkinan dititipkan ke Alimin. Tapi surat tak kunjung datang. Dan Alimin terseret ke pusaran masalah yang dihadapi Tuyet. Alimin mencoba membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi Tuyet. Cerita semakin seru, karena Alimin juga berteman baik dengan Thi, warga Taiwan yang menjadi siswanya. Di Vietnam, Alimin juga mengajar.

Tuyet menyimpan kegetiran hidup yang mungkin sulit dipikulnya. Ayahnya yang guru dituduh komunis oleh pemerintahan militer waktu itu. Untuk menyelamatkannya, ia harus menebus dengan uang yang tidak sedikit. Alimin pun siap membantu mencarikan uang itu.

Untuk bertahan hidup, Tuyet menjadi buruh cuci seragam tentara. Tangannya menjadi kasar. Ia tidak memilih pekerjaan itu, tapi terpaksa memilihnya. Sebenarnya ada pilihan lain baginya, yakni ia “mau menjual diri” ke komandan yang menahan ayahnya. Tapi Tuyet sangat membenci mayor itu. Ia rela menjual diri kepada siapapun asal tidak kepada mayor itu, orang yang menahan ayahnya.

Oleh sang mayor, Tuyet juga dijanjikan akan dibuatkan “surat bersih” untuk Tuyet jika Tuyet mau dengannya. Mungkin kita bisa membayangkan surat itu seperti cap bukan PKI bagi keluarga eks tapol di Indonesia. Mereka sama-sama dicap komunis. Tanpa surat bersih itu, warga yang keluarganya ditahan akibat tersangkut komunis tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan layak. Mereka dianggap “bukan manusia” layak.

Sulit bagi Tuyet menentukan pilihan. Di satu sisi, ia tidak ingin menyeret Alimin dalam kepahitan hidupnya. Di sisi lain ia tidak ingin ayahnya dibuang ke pulau terpencil yang tidak akan kembali lagi. Tapi Tuyet harus memilih. Dan pilihan itu diungkapkannya lewat surat yang diberikan kepada Alimin melalui pesuruh.

Tuyet memilih “menghapus” dirinya. Ia membiarkan dirinya bukan apa-apa. Ia mengorbankan kehidupannya. Ia akhirnya memilih pergi bersama komandan, menyelamatkan ayahnya dengan cara demikian. Ia menulis dengan getir “….apalah artinya diriku, apalah artinya kehormatanku, jika alternatifnya adalah lenyap dan habisnya ayah kandungku serta orang yang kucintai!. Karena itu kuputuskan mengalah dengan keinginan mayor itu….”

Akhir yang …. Ah, silakan membacanya sendiri.

###

Novel Tuyet ini sebenarnya tidak hanya berkisah tentang Tuyet. Tapi kita bisa berdebar-debar karena semua cerita dilatari suasana perang Vietnam. Alimin adalah sosok wartawan yang terus memburu berita dan foto perang. Lika-liku meliput perang menjadi sesuatu yang menarik tersendiri dalam buku ini.

Tuyet adalah novel karya Bur Rasuanto. Review di atas merupakan Kisah dari Negeri Perang episode pertama. Diterbitkan PT Gramedia tahun 1978 setebal 162 halaman. Bur Rasuanto (lahir di Palembang, 6 April 1937 – meninggal pada 15 Mei 2019 pada umur 82 tahun) adalah sastrawan dan eks wartawan Indonesia. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang penulis buku, cerpen, novel, dan skenario film.

 

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here