Riwayat Dunia Rupa yang Terlewat

0
227

Buku ini tipis tapi cukup padat. Saya girang mendapatkannya di lapak buku bekas di kawasan Jalan Semarang Surabaya. Harganya juga cukup bersahabat alias murah meriah.

Berisi 111 cerita di dunia seni rupa Indonesia. Tentang pelukis dan karyanya, tentang lika-liku kolektor mendapatkan lukisan, hingga tentang karya-karya yang punya cerita misterius. Ada banyak cerita ajaib yang sepertinya nggak masuk di logika tapi benar-benar nyata. Dan sepertinya ini salah satu poin yang hendak ditunjukkan oleh sang penulis buku Agus Dermawan T, seorang pengamat seni yang banyak melahirkan karya tulis.

Tiap tulisan tak lebih dari 2 halaman. Bahkan kebanyakan cuma satua halaman saja. Namun tulisan yann pendek diramu dengan data yang padata. Sehingga tidak bertele-tele dan to the point.

Sebut sajan satu tulisan berjudul “Amang Rahman dan Tiket Kematian” (hal:17). Amang adalah pelukis yang selalu bergembira meski lama hidup dalam kemiskinan. Pelukis kelahiran Surabaya tahu 1931 ini pernah berkeliling naik becak menjajakan lukisannya. Dari belasan lukisan dibawa hanya 1 yang terjual. Dan itu sama dengan ongkos naik becaknya. Amang juga pernah membarter lukisannya dengan seliter beras.

Namun di tengah kemiskinan itu, Amang tak pernah berhenti bergembira. Pada suatu ketika, ia nggak bisa pulang dari Jakarta karena tidak punya ongkos. Lalu ia bilang ke pelukis A.D. Pirous “Rous, tolong paketkan saya ke Surabaya”. Hingga pada tahun1985 ia sukses pameran lukisan di Jeddah. Lalu dengan uang itu ia membeli rumah.

Lain lagi dengan kisah pelukis Kidro. Bernama asli Abdul Kadir. Waktu kecil ia belajar melukis. Namun saat beranjak dewasa ia terjebak dalam hidup miskin dan harus narik becak. Tapi nasib tetap “memasukkannya” ke dunia lukis. Pelanggan becaknya ternyata pelukis, dan ia bisa bergabung ke Sanggar Besar Seni Rupa Sekar Gunung tahun1960 an. Di kemudian hari lukisannya banyak dipamerkan, dan sukses. (Hal: 102).

Selain dua pelukis itu, nama-nama pelukis besar lain seperti Basuki Abdullah, S. Sudjojono, Nashar, Hendra Gunawan, Affandi, Dullah, dan banyak pelukis lain diungkap di sini. Menariknya, cerita yang dihadirkan benar-benar jarang diungkap. Sehingga cocok bagi pecinta dunia lukis yang hendak melihat dunia seni rupa Indonesia. Meski sekilas-sekilas namun cukup mengobati dahaga. Boleh jadi tulisan ini menjadi pintu masuk mengakrabi nama-nama pelukis Indonesia.

Bagaimana anda tertarik baca buku ini?

Saya bukan pelukis, tapi entah kenapa selalu menyukai lukisan dan cerita-cerita tentang pelukis. Mungkin kecintaan saya dengan dunia lukis tak bisa lepas dari masa lalu saya. Waktu kecil, saya memiliki tetangga seorang pelukis. Usianya kira-kira dua tahun di atas saya. Waktu itu saya usia SMP, dan dia sudah lulus dan tidak mau melanjutkan sekolah. Dia pandai banget melukis. Konon keterampilannya diperoleh dari dalam dirinya, karena memang ia tidak pernah belajar melukis.

Lukisannya cukup bagus, menurutku. Setidaknya itu juga anggapan umum waktu itu.selain fi kanvas, ia biasa melukis di atas kulit kambing. Bapak saya pernah membeli satu lukisannya di atas kulit kambing, namun sekarang sudah tidak ada lagi.

Selain melukis, ia hebat di qiroatul Quran. Suaranya bagus. Beberapa kali menang lomba MTQ yang digelar di masjid atau musholla. Profesi lainnya adalah tukang poto keliling dan hasil jepretannya keren-keren. Waktu kamera masih analog dan menggunakan film, si teman saya ini sudah biasa membuat foto seseorang yang dibikin kembar dengan menjepret dua kalipada posisi film yang sama. Kebayang kan bagaimana menggulung film tanpa membakar gambar dan memosisikan dengan pas.

Ke mana-mana saya bersama dia. Hingga suatu ketika saya mengetahui dia berangkat ke Aceh, hingga kini tak pernah bertemu lagi.

Selain teman saya itu, ada beberapa pelukis yang saya kenal baik. Suatu saat saya ingin menceritakan satu demi satu teman saya yang pelukis. Sekarang sudahi dulu saja ya tulisan ini. Mari nyruput kopi pagi.

 

 

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here