Rumitnya Hidup yang Sederhana & Sederhananya Hidup yang Rumit

1
1995

Memandang kehidupan ini mirip-mirip dengan gambar di kamera. Jika lensa kamera dizoom-in, maka objek akan kelihatan dengan detail. Sementara jika lensa dizoom-out maka objek akan kelihatan samar. Ini mirip juga ketika kita melihat keluar jendela pesawat, maka yang terlihat hanyalah hamparan yang semua sama. Padahal, di bawah ada danau, rumah, gedung menjulang, sungai, gedung sekolah hampir roboh, dan lain sebagainya.

Seringkali kita melihat seseorang yang tertawa-tawa dan kita akan berkomentar “Wah bahagianya keluarga itu ya!”.  Atau ketika kita melihat seorang kawan pulang dari kota besar dengan pakaian rapi berdasi, kita akan berkomentar “hebat kamu ya dah jadi orang besar”.  Ya, begitulah kita sering memandang hidup ini dengan lensa zoom out saja. Padahal, seharusnya perlu seimbang antara zoom in dan zoom out.

Pikiran-pikiran itulah yang memenuhi pikiran saya saat membaca novel pendek berjudul Kaas (Keju) karya Willem Ellsschot. Novel yang-jika kamu serius membaca-akan selesai dalam sehari saja. Tapi, novel pendek itu malah memberi makna yang dalam bagi saya. Kok bisa?

Biarkan saya bercerita tentang kisah di novel ini. Frans Laarmans adalah tokoh utama dalam kisah ini. Ia bekerja sebagai kerani di sebuah perusahaan perkapalan. Sebagai karyawan tetap ia mendapat gaji tetap tiap bulan. Kecil sih, tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Hanya saja, untuk kepentingan “status sosial” seperti kepemilikan kendaraan, makan di restoran mewah, tentu ia tak mampu. Apalagi, ekonomi sedang sepi yang berimbas pada performa perusahaannya.

Laarmans hidup sederhana bersama istri dan dua anaknya. Setelah ibunya meninggal di usia tua, Laarmans ikut aktif di perkumpulan di mana kakaknya yang seorang dokter juga ikut. Perkumpulan itu diisi oleh orang-orang kaya dengan status sosial tinggi. Perbincangan pun seputar wisata, jalan-jalan, dan kuliner. Pada saat-saat demikian Laarmans memilih diam dan mendengarkan.

Lalu di perkumpulan itu, ia bertemu dan akrab dengan Van Shoonbeke, seorang bujang dari keluarga kaya raya. Laarmans kemudian dikenalkan dengan Hornstra pengusaha keju dari Amsterdam. Larmaans pun kemudian diminta menjadi agen penjualan keju untuk wilayah Belgia. Tawaran yang sungguh menggiurkan. Dia sudah membayangkan hidup kaya sebagai pengusaha, memiliki kantor sendiri, pesawat telepon sendiri, dan seterusnya.

Singkat cerita, Laarmans resmi menjadi agen keju. Meski harus berpura-pura sakit dan izin nggak ngantor selama tiga bulan demi kesembuhannya. Hari-harinya disibukkan dengan menjual keju. Dua anaknya tak kalah girang. Mereka ikut menjual keju. Rumah disulap menjadi kantor. Laarmans pun bisa datang ke perkumpulan dengan menyebut diri sebagai pengusaha keju, bukan lagi seorang kerani di perusahaan perkapalan.

Tapi sayang harapan tak selalu sesuai realitas. Karena nyatanya menjual keju tak selalu mudah. Di kantornya yang dulu, ia cukup duduk lalu menjalankan tugas mengetik membuat laporan. Kini, ia perlu menjual berton-ton keju. Bagaimana bisa melakukannya? Hingga akhirnya target tak terpenuhi. Hornstra marah dan memutus kontrak. Harapan menjadi pengusaha keju yang kaya raya menjadi pupus.

Keesokan harinya, ia kembali ke kantor lamanya. Teman-temannya di perusahaan perkapalan menyambutnya dengan gembira. Beberapa teman berharap ia tidak memaksakan diri masuk kerja kalau memang masih sakit. Maklum, ia memang bohong soal bisnis kejunya tersebut yang membuatnya tak bisa masuk kantor.

Laarmans pun terenyuh dengan sambutan teman-temannya. Betapa mereka adalah keluarga yang sangat perhatian, yang beberapa waktu terakhir coba dijauhinya. Betapa pekerjaan yang dianggapnya menjemukan itu sebenarnya sangat membahagiakan. Saya membayangkan Laarmans menitikkan air mata dan memeluk erat temannya satu persatu. Sementara teman-temannya mendoakan kesehatannya yang senyatanya ia tidak sedang sakit.

Lalu, apa yang menarik? Ending kisah itulah yang menjadi titik pijak saya membaca keseluruhan cerita. Bahwa tokoh Laarmans bisa saja sangat menyesal gagal di bisnis keju. Mengaca pada pelajaran entrepreneur yang “anti kemapanan” dan selalu mencoba hal baru, maka keputusan tokoh  cerita untuk mundur dari bisnis keju yang baru saja digelutinya adalah hal yang tidak bagus. Seharusnya-menggunakan logika motivator tersebut-Laarmans harus berusaha lebih keras dan pantang menyerah.

Apa yang jadi keputusan Laarmans untuk kembali ke pekerjaan yang lama boleh dibilang sebagai langkah mundur. Tapi benarkah pilihannya itu adalah bentuk kekalahan? Sebagai pembaca kamu bisa mendebatnya. Namun bagi saya, pilihan Laarmans adalah pilihan sangat tepat. Karena dunianya adalah dunia kerani di perusahaan perkapalan. Pengusaha bukanlah dunianya.

Apa yang tampak indah di kejauhan, belum tentu indah saat kita mendekat. Apa yang bagus dipilih oleh orang lain, belum tentu bagus saat kita pilih. Begitulah hidup. Laarmans hanya salah satu sosok dengan lika liku kehidupan.

Bagaimana kamu mengambil keputusan dalam hidup ini?

***

Oh ya, sekadar tambahan saja. Ini sepele namun penting (bagi saya tentunya). Buku ini pernah saya beli sekitar tahun 2012 silam. Tapi waktu membacanya kok rasanya nggak “nendang” gitu. Saya tidak mendapatkan “sesuatu” dari membaca buku tersebut. Tapi, pada saat jalan lebaran, saya mampir di sebuah toko buku bekas di Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro. Sebenarnya bukan toko karena hanya berupa ruang kecil berisi tumpukan buku berdebu. Saya lihat-lihat dan bertemulah saya dengan buku ini yang kemudian saya beli seharga Rp 5.000

Saya pulang dan langsung membacanya. Ada sesuatu yang beda saat membaca untuk kedua kalinya. Entah kenapa saya menikmati cara bercerita penulis yang santai, tenang, dan sederhana. Tokoh-tokohnya saja sudah diperkenalkan sejak halaman pertama seperti naskah drama yang tentu memudahkan saya mencerna isinya. Buku tipis ini pun menjadi sesuatu yang banyak memberi makna. Yang penting adalah: bersyukur. Ya, seringkali kita kurang bersyukur pada apa yang kita punya saat ini.

___________

Data Buku:

Judul: Kaas (Keju), Penulis: Willem Elsschot, Penerbit: Gramedia, Cetakan: 2010, Tebal: 173 halaman.

__________

*) Penulis menyukai buku dan kopi. Pernah menerbitkan Buku yang Membaca Buku (2013). 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here