Saridin Santri Mbeling dan Kisah Murid Sunan Kudus

0
2175

Pagi itu matahari setinggi tombak, meski tertutup awan putih yang berarak tak seragam, sesekali masih tampak.

“Anggeeer,” terdengar suara bapak (almarhum) memanggil saya. Saat itu saya masih di bawah 4 tahun, belum sekolah. Saya bergegas ke depan, di emperan rumah, bapak duduk di sebuah bangku kuno, di depannya tersaji sepiring seng singkong kuning godok yang ditumbuk tak lembut lengkap dengan kelapa parut buatan ibu.

“Kukurno gegerku,” perintah bapak sambil menyuapkan singkong ke saya. “Mbiyen iki eneng santri Cung, jenenge Saridin, mondoke nang nggone Sunan Kudus,” kata bapak memulai cerita. Tentu saja ini cerita rakyat, yang ditularkan turun temurun, saya sendiri tidak tahu, shohih apa tidak, wong ya tidak muttasil sanadnya.

“Menyoke (singkong, red) enak yo pak, meduk,” kataku masih dengan mulut molo molo siap mendengarkan cerita bapak. Sarapan menyok adalah hari hari kami, stoknya cukup banyak karena merupakan hasil panen dari musim kemarau di tanah tegalan kami. Sambil menggaruk punggungnya, saya simak ceritanya…

Tutur bapakku…

Saridin adalah anak orang tidak punya, dia mondok karena ingin pinter dan jadi orang baik, maka dia nekat berguru kepada Sunan Kudus. Bertahun tahun dia di situ, meski dia mendapat perlakuan tak layak dari teman temannya. Maklum, yang berguru kepada beliau sebagian besar adalah anak orang orang terpandang, orang kaya, para pejabat Demak, tokoh agama, dan keturunan darah biru lainnya. Saridin juga sering diadukan ke Sunan Kudus oleh temannya dengan tuduhan malas belajar dan senang keluyuran. Saat waktunya makan, Saridin juga harus sabar, tidak boleh ikut makan bersama, setelah semua selesai, barulah dia makan.

Nah, pada suatu hari, dia tak kebagian lauk karena telah dihabiskan. Tanpa pikir panjang, Saridin lalu nyemplung jomblang di dekat pondoknya, dia tawu, airnya diubeg-ubeg.

“He Din, kowe mek opo ?,” tanya seorang santri keheranan.

“Golek iwak,” jawab Saridin enteng.

“Haha ha, Din Din,” ejek santri tadi.

“He, Saridin bento Saridin bento, golek iwak i lho nang peceren, mosok yo eneng,” teriak santri tadi memanggil teman lainnya.

Syahdan, ternyata Saridin dapat ikan, dia lalu memasaknya sendiri untuk lauk makan.
Tak lama berselang usai kejadian, Sunan Kudus mendengar cerita itu, dipanggilnya Saridin. Bapak saya tidak menjelaskan apakah Sunan Kudus tahu atau tidak tentang Saridin yang sesungguhnya.

“Din,” serunya.

“Dalem Njeng Sunan, nyadong dawuh,” jawabnya.

“Opo bener kowe bar oleh iwak teko peceren?,” tanya Sunan Kudus.

“Nggeh,” jawabnya.

“Yo oleh tenan ?,” tanya Sunan Kudus lagi.

“Nggeh, angsal, sampun kulo bakar kulo tedo,” katanya.

“Lho, kok iso ?,” sahut Sunan Kudus.

“Lha nggeh Njeng Sunan, saben saben toyo mesti enten ulame,” jawab Saridin.

“Opo ucapmu kuwi bener, Din ?,” tanya Sunan Kudus.

“Leres,” jawab Saridin yakin.

“Opo nang kendi iki yo eneng iwake?,” tanya Sunan Kudus sambil menunjuk kendi yang tak jauh dari mereka ngobrol.

“Nggeh enten,” jawab Saridin. Seorang santri diminta memecah kendi, dan betul, ada ikan di dalamnya.

“Opo nang kelopo kae yo eneng iwake, Din ?,” tanya Sunan Kudus sambil menunjuk pohon kelapa.

“Nggeh enten,” jawabnya.

“Panjat, ambil,” perintah Sunan Kudus pada santri lain.

“Yae pecah, Din,” perintah Sunan Kudus.

Saridin memecah kelapa, dan benar, ikannya kokel kokel.

Tak seperti hari hari kemarin, kali ini Saridin mendapat aplaus panjang dari teman-temannya. Saridin si Santri Mbeling dan Sunan Kudus telah memberikan pelajaran berharga buat santri-santri yang lain.

Singkong sepiring telah habis, cerita juga sudah selesai. Bapak kemudian mengajak saya jalan jalan ke sawah bengkok, niliki padi yang menguning. Saya di belakangnya, dia berjalan dengan menyatukan tangan di punggungnya. Karena bertelanjang dada, masih tampak jelas bekas garukan saya tadi, kusi.

Bersyukur bahwa sekarang ini saya dapat berada di makam Saridin untuk mendoakannya. Siapa sebenarnya Saridin, dan mengapa harus ada cerita ini ?.

Foto Koleksi Pribadi

Sebenarnya masih banyak cerita tentang Saridin. Misalnya bagaimana dia bisa ngangsu (mengambil air) dengan keranjang, pulang setiap malam saat dipenjara, konfliknya dengan Branjung saudaranya, hingga bagaimana dia berhasil mengamankan kawasan hutan di daerah Pati dari para pemberontak dan akhirnya mendapat apresiasi dari pemerintah Mataram.

Tapi bapak saya tidak menceritakan tentang itu, mungkin bapak berpikir saya masih terlalu kecil saat itu, atau mungkin terbatasnya referensi bapak saya.

Seperti biasa, sejarawan berbeda pendapat. Ada yang berpendapat Saridin adalah anak dari Sunan Muria dan Dewi Samaran, ada yang mengatakan dia adalah anak Sujinah binti Usman Haji. Dengan demikian, berarti dia keponakan Sunan Kudus dan cucu dari Sunan Kalijaga.

Versi Ini, nama lengkap Saridin adalah Syaikh Jangkung Sayyid Raden Syarifuddin. Dipanggil sayyid karena garis keturunannya tersambung hingga rasulullah. Wallahu a’lam…

Bagi saya, lebih penting dari semua itu adalah bahwa Saridin telah mampu menjadi inspirasi bagi kita, menembus batas ruang dan waktu, menerobos jalur logika yang kadang dipertahankan atas nama akal sehat. Begitulah, selalu ada keseimbangan saat peradaban manusia berkembang pesat, atau kondisi sosial politik dan kemasyarakatan sedang jumbuh. Saridin adalah salah satu dari sederet tokoh yang lahir untuk menyeruak ke permukaan, membuka ruang kebuntuan atau menjadi referensi berpikir bagi manusia dalam konteks community atau annas, alias zoon politicon.

Perjalanan tempo hari, saya juga sowan ke Makam Sunan Pojok, panglima perang Mataram yang diyakini oleh sejumlah mursyid sebagai waliyullah. Dialah bapak dari Bupati Blora pertama, karier gemilang terakhirnya adalah saat memimpin pasukan menggempur pasukan VOC di Tuban dan dia memenangkannya.

SHARE
Politisi PKB di Bojonegoro, menyukai sejarah. Punya kebiasaan mengunjungi situs-situs kuno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here