Sasradilaga dan Ponpes Tegalsari, Persinggungan Siasat di Perang Jawa

1
434
Sudut Ponpes Tegalsari/Sumber: Guillot

Tumenggung Aria Sasradilaga tercatat sebagai Bupati Bojonegoro (dulu bernama Rajegwesi atau Rajekwesi) tahun 1827-1828. Bekas pemimpin pasukan raja Yogyakarta ini mendukung Pangeran Diponegoro mengobarkan perang yang kemudian dikenal dengan Perang Jawa (1825-1830). Sasradilaga sangat disegani masyarakat dengan ‘perang suci’ nya melawan penjajah Belanda.

Sasradilaga mengobarkan perang di wilayah timur, yakni Lasem, Rembang, hingga Rajegwesi. Berkat pengaruhnya yang besar, ia pun dinobatkan sebagai Bupati Rajegwesi. Akan tetapi Belanda sangat tidak menyukainya dan berusaha untuk mengusirnya dari bumi Rajegwesi.

Ketika Perang Jawa makin berkobar dengan perlawanan sengit Panglima Sentot Alibasya di sekitar sungai Progo, dan perlawanan Kiai Mojo yang memiliki banyak pengikut, pertempuran demi pertempuran tak terelakkan. Dan di tengah kobaran api perang, Sasradilaga datang ke Pondok Pesantren Tegalsari di Ponorogo.

Ponpes Tegalsari mempunyai peran penting dalam percaturan politik di tanah jawa. Ponpes ini didirikan oleh Kiai Ageng Mohamad Besari tahun 1742. Kiai Ageng membuka pemukiman di Tegalsari dan memperoleh tanah berstatus tanah perdikan. Beliau memimpin Ponpes Tegalsari selama 31 tahun. Selama memimpin ponpes tersebut, ada dua peristiwa besar yang menyertainya.

Saifudin Alif Nugroho, dkk. dari Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mencatat dua peristiwa besar itu. Pertama Geger Pacina (1742) yang memaksa Pakubuwono II keluar keraton dan mencari tempat pengungsian. Ponpes Tegalsari dipilih sebagai tempat pengungsian. Alasan kuat lain kenapa Ponpes Tegal Sari dipilih adalah karena Kiai Ageng Mohamad Besari memiliki leluhur yang sama dengan Pakubuwana II yaitu Prabu Brawijaya V dari Majapahit.

Peristiwa kedua adalah Perang Suksesi Jawa III (1746-1755). Pada masa-masa itu Kerajaan Kartasura sedang terjadi pesaingan kelompok-kelompok yang sedang berebut kekuasaan, yakni Pakubuwana II, Mangkubumi, dan Raden Mas Said. Kiai Ageng Mohamad Besari memainkan peran penting guna menjaga harmonisasi masyarakat tetap terwujud. Beliau enggan masuk pusaran politik secara terbuka dan memilih menyelamatkan kepentingan masyarakat Tegalsari yang saat itu dikenal sebagai penghasil dluwang kualitas tinggi.

Kembali pada Perang Jawa, pada tahun 1828, Sasradilaga datang ke Pondok Pesantren Tegalsari. Kedatangannya tak lain untuk meminta dukungan Sang Kiai untuk mendukung penuh perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Kedatangan Sasradilaga disebut mengatasnamakan Pangeran Diponegoro. Artinya memang diutus oleh Pangeran.

Waktu itu Pondok Pesantren dipimpin oleh Kiai Kasan Besari. Bagi sang kiai, ini pilihan sulit. Di satu sisi, jika ikut berperang Pesantren Tegalsari akan hancur apabila kalah, namun jika tidak ikut berperang risiko dituduh mencari posisi aman dan mendukung Belanda. Kiai Kasan Besari kemudian memilih untuk mengambil jalan tengah. Sang kiai tidak menyanggupi mengirim santri-santrinya untuk ikut berperang, tetapi siap mendukung secara secara moral dan ideologis. Pilihan ini diambil karena Kiai Kasan Besar ingin menjaga eksistensi Pesantren Tegalsari dan menjaga sosialekonomi masyarakat Desa Tegalsari. Namun ada analisa bahwa jawaban Kiai Kasan Besar yang diplomatis itu lantaran Ponpes Tegalsari berada di wilayah Kasunanan Surakarta. Sedang Perang Jawa merupakan konflik yang melibatkan banyak pembesar Kasultanan Yogyakarta.

Seusai pertemuan itu, Perang Jawa terus berkecamuk. Sasradilaga terus melancarkan aksi-aksi penyerangan terhadap serdadu Belanda. Namun, satu persatu kekuatan Diponegoro rontok. Kiai Mojo, salah satu panglima perang terkuat berhasil ditangkap di Mlangi, Selman, Yogyakarta pada 12 November 1828. Lalu, Sentot Alibasya, panglima pemberani lainnya menyerah kepada Belanda pada 16 Oktober 1829.

Perang Jawa akhirnya berakhir dengan penangkapan Pangeran Diponegoro secara licik oleh Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock pada 28 Maret 1830. Dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro, maka berakhirlah perang yang menelan korban 200.000 jiwa dari pihak Pangeran Diponegoro, dan 15.000 dari serdadu Belanda yang sebagian adalah serdadu pribumi.

Sementara itu, Tumenggung Aria Sasradilaga tak banyak diceritakan kemudian. Sasradilaga tidak berhasil ditangkap sebagaimana panglima perang lainnya, dan ia melancarkan perang gerilya. Konon ia kemudian berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran Belanda dan meninggal di Madiun.

 

 

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here