Sastra Jawa Tak Kan Mati

0
395

Saya sempat keliru arah. Saya mengira rumah itu berada di Jalan Raya Babat-Jombang, tapi ternyata salah. Saya menyadari kekeliruan itu setelah lumayan jauh dari rumah yang saya tuju. Sebenarnya, saya tadi sudah dekat tapi malah menjauh.

Ya, siang itu, Minggu (1/1/2019) saya sedang mencari rumah seorang sastrawan bahasa Jawa yang dikenal dengan nama Nono Warnono. Nama asli yang disandangnya waktu kecil adalah Suwarno.

“Su iku linuwih, apik, warno itu rupa. Jadi harapan orang tua saya dulu, saya jadi orang yang baik,” kata Nono sambil tersenyum. Sesampai di rumahnya yang tenang dan di antara rak buku koleksinya, kami berbincang sekitar dua jam tentang sastra jawa dan perjalanan hidupnya di dunia sastra jawa.

Nono bukan orang baru di dunia sastra jawa. Buku antologi berisi cerkak (cerita cekak) sudah terbit pada tahun 1997 berjudul Tes. Namun jauh sebelum masa itu, ia sudah berproses dalam dunia bahasa jawa, tepatnya di profesi panoto coro atau pembaca acara atau master of ceremony (MC).

Pada kurun waktu sebelum tahun 1982, sebenarnya ia sudah mulai menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia. Fase ini beriringan dengan kesukaannya membawakan acara-acara pernikahan atau acara kumpul-kumpul keluarga. Kefasihannya berbahasa jawa membuat namanya makin dikenal di jagad MC.

Ketertarikan pada sastra jawa sebenarnya sudah ada sejak kecil yakni dimulai dari kesukaannya nonton wayang dan cerita-cerita wayang. Waktu kecil buku-buku tentang cerita diperolehnya dari meminjam buku tetangga atau “nebeng” membaca buku kepunyaan teman.

Nono Warnono mempunyai banyak karya dan memperoleh banyak penghargaan tingkat lokal hingga nasional. Dia berada di tiga dunia berbeda namun saling melengkapi. Yakni sastra jawa, MC, dan pendidikan.

Bagaimana masa kecil Anda dan perjumpaan dengan dunia MC?

Saya kecil ya seperti anak-anak pada masa itu. Saya tiap hari diminta ngarit (mencari rumput untuk ternak, pen). Kadang sampai di belakang rumahmu (saya dan Pak Nono bertetangga, pen). Saya kadang mengenang itu dan merasa nggak mungkin bisa seperti sekarang.

Saya sejak kecil suka wayang dan baca-baca majalah bahasa jawa. Kemudian mencoba untuk MC tahun 1984 sejak lulus SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Awalnya ya coba-coba, di acara teman gitu. Pernah sih ikut pelatihan dari Panata Cara di Tuban.

Kalau MC itu pernah sebulan lebih dari 30 hari. Nggak pernah berhenti. Sehari kadang bisa 3 kali. Pernah saya pengen keluar dari PNS untuk fokus di MC. Waktu itu tahun 1997-2002. Ramai banget. Setelah itu saya mulai mengurangi MC karena jabatan di dunia pendidikan.

Kencenge tekad kan kerono seneng. Jadi cenderung bukan hanya cari uang saja, tapi lebih kepada kepuasan batin yaitu nguri-nguri, melestarikan. Tidak pernah punya pikiran, bikin gini bikin gitu agar biar laris. Sampai sekarang masih MC, terutama untuk acara pernikahan dengan tradisi lengkap, mulai siraman, panggeh manten, dan seterusnya. Karena mendalami tata cara lengkap. Kalau sekarang kan trennya lebih show of force pada resepsinya. Kalau tradisinya lengkap, biasanya sampai 3 hari.

___

Nono Warnono memang menggeluti tiga dunia yang saling berkelindan. Yakni dunia MC, dunia sastra jawa, dan dunia pendidikan. Di bidang pendidikan, ia memulai dengan menjadi guru berstatus sukarelawan atau guru sukwan pada tahun 1985. Lalu diterima menjadi PNS pada tahun 1987. Kariernya terus naik menjadi kepala sekolah sejumlah SD tahun 1999 hingga tahun 2001. Lalu menjadi Pengawas TK/SD wilayah 6 (Kecamatan Baureno dan Kepohbaru).

___ 

Kalau MC, istilah yang benar itu pranata cara apa pranata cara?

Yang benar ya Panata Cara, tapi pranata cara ya benar juga. Nggak salah. Kan maknanya penata acara.

Bagaimana awal mula menulis sastra jawa?

Awalnya ya waktu di PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro, pen). Saya masuk ke PSJB tahun 1986. Ketertarikan sastra Jawa mulai tahun 1986 itu. PSJB itu tua banget. Saya awalnya mengenal Pak Maklum (alm), Pak Djajus Pete, Pak JFX Hoery, dan lainnya. Saya anjang sana ke mereka. Lalu masuk ke perkumpulan. Saya kepengurusan terakhir ini masuk di Bidang Geguritan. Sebelumnya pernah jadi sekretaris.

Yang nuntun ke sastra jawa ya PSJB. Awalnya saya suka baca Joyoboyo. Di sana sering muncul nama-nama top dari Bojonegoro. Awalnya tidak kenal orangnya. Ternyata mereka punya sanggar sastra jawa, ya PSJB itu. Sehingga sejak saat itu saya berporses di sana.

PSJB berarti sangat berarti bagi Anda?

PSJB itu tidak hanya mengurusi individu, tapi juga komunitas anak-anak muda yang menyukai sastra jawa diopeni. Guru bahasa jawa atau mahasiswa banyak diundang. Musyawarah Guru mata pelajaran bahasa jawa, butuh diskusi dan seminar ya dilayani. Jadi bergerak terus.

Sastra Jawa di Bojonegoro sangat maju. Peran PSJB tidak bisa dinafikan.

Dulu saya tidak punya chanel. Buku saya dikirim ke Rancage, dan menang. Dan Bojonegoro paling banyak menerima penghargaan Rancage. Solo dan Jogja tidak sebanyak Bojonegoro.

__

PSJB adalah sanggar sastra yang digawangi oleh para sastrawan jawa di Kabupeten Bojonegoro. Banyak sastrawan jawa di PSJB yang memperoleh penghargaan Rancage. Penghargaan sastra jawa tertinggi ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikan oleh budayawan Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S. Ekajati, dan beberapa tokoh lainnya.

PSJB berdiri tahun 1982 dan berpusat di Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Selain JFX Hoery, para pendiri lainnya adalah: Djayus Pete, Yusuf Susilo Hartono (kini Pemred Majalah Visual Art), Yes Ismi Surya Atmaja, Muhammad Maklum, dan Sri Setyo Rahayu. Pendeklarasian di Jalan Panglima Sudirman Bojonegoro, di rumah Yusuf Susilo Hartono. Saat ini anggota yang aktif sekitar 25 anggota.

Sanggar sastra ini sudah berdiri puluhan tahun dan menelorkan banyak karya sastra jawa yang berkualitas. Beberapa nama yang pernah menerima hadiah sastra Rancage adalah JFX Hoery, Djajus Pete, Susilo Bambang Hartono,  Herwanto, dan Nono Warnono sendiri.

__

Lebih asyik mana, MC atau dunia sastra jawa?

Sama-sama asyik. Hanya secara kepuasan ya tetap di sastra. Kalau di MC dokumennya kan foto dan video. Dan pengaruhnya untuk orang lain kan nggak begitu banyak. Kalau di sastra kan luas. Kalau edukasi lebih mantab di sastra. Orang yang dulu nggak suka baca, sekarang suka baca. Kalau MC kan paling orang pengen dapat uang.

Kalau pendapatan lebih banyak mana, MC apa menulis sastra?

Relatif sih. Begini, kalau MC kan missal sekarang manggung dibayar Rp 500 ribu, tapi kalau buku dan sudah dapat penghargaan bisa langsung Rp 10 juta. Memang keduanya tidak diniati mencari uang. Uang itu akan hadir dengan sendirinya sesuai dengan kualitas karya kita.

Bagaimana mendapat ide-ide menulis?

Ide itu kan datang sewaktu-waktu. Ide itu di segala situasi bisa muncul. Jadi tidak perlu membagi slot waktu antara MC, nulis sastra atau kerjaan di pendidikan. Hendak tidur ya nulis di HP. Kalau dulu ya pakai kertas kosong di samping saya dan pulpen. Itu selalu.

Saya senang menikmati ini. Keluhan-keluhan saat manggung bisa menjadi inspirasi menulis. Kita manggung mengenal banyak orang. Karakter orang. Cerita hidup orang. Misal, lagek saya nge-MC di pernikahantapi setelah itu sudah pegatan (pisahan). Karena ternyata dia dipaksa untuk menikah. Begitu indahnya waktu resepsi, semua senang. Tapi ternyata semua kepalsuan. Setelah pulang dari nge-MC, saya dikasih tahu bahwa pengantin itu sudah pisahan. Itu kan cerita sangat menyedihkan. Dan benar-benar ada.

Apa beda sastra jawa dan sastra Indonesia?

Secara garis besar hanya berbeda di bahasa. Tapi kalau dari substansi kan ada diksi di bahasa jawa yang tak bisa diwakili bahasa Indonesia. Banyak bahasa jawa nggak ada padanan kata di bahasa Indonesia. Kalau ngomong soal kualitas sesebuah karya, maka sebenarnya sastra jawa tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Juga sebaliknya. Tapi mentese lebih dengan bahasa jawa.

Dosonomo (padanan kata) bahasa Jawa banyak. Tanah berarti kismo, pertiwi. Angin itu berarti bayu samirono, pokoknya banyak. Kalau bahasa Indonesia padanan katanya sedikit. Bahasa jawa itu kaya diksi.

Untuk urusan makan ada muluk, ngemplok, nguntal dan sebagainya. Tapi di bahasa Indonesia kan cuma ada menyuap. Kalau menggunakan bahasa Indonesia harus menggunakan kalimat penjelas.

Karya siapa yang jadi idola?

Saya menyukai karya-karya klasik, Ronggowarsito, Yasadipuro dan Mangkunegoro. Saya peroleh dari buku dan majalah. Buku-buku itu kadang dikasih teman. Ada teman yang punya buku, tapi nggak bisa menikmati. Lalu dikasih ke saya.

Sastra jawa itu memakai “kelas” bahasa apa, ngoko, madya, apa kromo inggil?

Sastra jawa itu tidak berkaitan dengan itu. Hanya mengolah keindahan dan diksi saja. Dalam geguritan (misalnya), bukan berarti penggurit tidak bisa kromo inggil. Dia bisa mengarang geguritan, tapi nggak harus bisa bahasa karma inggil. Artinya sastra jawa ya mengolah keindahan dan diksi itu.

Di geguritan tidak ada level kromo atau ngoko. Secara umum tidak memandang level bahasa. Bahasa ngoko malah banyak yang masuk ke geguritan dicampur bahasa kawi.

Kalau bahasa Jonegoroan gimana?

Sebenarnya perbedaan sastra jawa ada di dialek yang kemudian ditulis. Kan Bojonegoro bahasanya beda. Mirip basa Suroboyoan, tapi juga mirip basa Mataraman. Kalau yang saya gunakan ya bahasa umum saja. Bahasa strandar.

Kalau geguritan Jonegoroan nggak mencerminkan wong kulonan. Misal kalimat “jengkeranem wes mbok gowo mrono mrene”. Nah itu kan khas dialek Bojonegoro. Saya sudah menulis (menggunakan bahasa Jonegoroan) tapi belum saya bukukan.

Eksistensi bahasa Jonegoroan sudah diakui di level Jawa Timur. Tapi kekayaan kosakatanya tetap banyak meminjam Solo. Geguritan Bojonegoro itu kan antara Solo dan Suroboyo. Khasnya ya leh, gonem, jengkeran, matoh, dan lainnya.

Ke depan, bagaimana “nasib” sastra jawa di tengah perkembangan teknologi industri?

Orang bilang bahasa jawa akan mati, tapi menurut saya tidak. Malah akan berkembang. Kalau kita lihat, buku-buku sastra, dan anak-anak yang membaca buku bahasa jawa makin berkembang. Tapi orang awam akan bilang, bahwa bahasa jawa hilang karena tertutup hiruk pikuk kehidupan sosial saat ini.

Jawa tidak akan mati, selama orang jawa masih ada. Orang justru dulu tak memahami sastra jawa, kini belajar bahasa jawa. Buku-buku secara jumlah makin besar. Pembaca juga makin besar. Contoh, buku kita cetak berapa ribu eksemlar, dan habis, lalu cetak lagi. Karena di mana-mana ada yang membantu memasarkan secara online.

Penutur dan penulis akan tetap eksis. Media bahasa jawa macam Joyo Boyo dan Penjebar Semangat (PS) dan lainnya masih eksis sampai sekarang.

Pembaca Joyo Boyo dan PS itu kan militan. Tiap Balai Bahasa di daerah sekarang kan punya media berbahasa jawa.

Internet itu kan memudahkan penyebaran bahasa jawa. Orang mencari geguritan di internet kan sangat mudah. Saya tidak tahu, karya saya ternyata divideokan oleh kelompok seniman di Jogja. Alam Lelembut karya Nono Warnono untuk drama. Saya tahunya lewat internet juga. Artinya internet punya pengaruh besar. 

Apa obsesi Anda sekarang?

Obsesi saya ya tinggal mengedukasi. Kalau mencari juara penulisan atau lain ya sudah tidak waktunya. Apa yang bisa diperuntukkan mengedukasi orang ya saya kembangkan.

Bahasa jawa itu memperhalus budi pekertinya. Orang banyak berpikir, perilaku bagus hanya karena ngaji agama di musholla. Tapi sebetulnya lahan itu tidak hanya dari situ saja. Sastra jawa itu kan etikanya sangat luhur. Kalau membentuk pribadi luhur dari pemahaman ilmu agama saja, sementara yang lain tidak digarap ya kurang sempurna.

Bahasa punya peran. Kelembutan dari sastra itu punya peran sangat besar. Tidak an sich dari semata-mata agama.

Kalau dicekoki ilmu saja ya kurang afdhol. Kalau agama disampaikan tekstual ya kurang bagus, harus dengan tata bahasa yang halus.

 

 

 

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here