Sebaiknya Jonru Jadi Penulis Buku Best Seller Saja

0
290

Siang itu, kami duduk-duduk di warkop trotoar. Di tangan saya terselip koran Jawa Pos hari itu. Saya membaca salah satu features yang letaknya di bagian bawah. Judul berita itu: Frustrasi Jadi Orang Kantoran, Telurkan Puluhan Penulis Buku. Ya, tulisan wartawan itulah yang sedang kami obrolkan, sambil sesekali nyrutup wedang kopi.

Teman saya yang seorang guru bahasa Indonesia sangat antusias membincangnya. Sosok yang ditulis koran tersebut memberi inspirasi bagaimana menulis dan menerbitkan buku. Bagi kami yang sudah lama berusaha membuat gerakan literasi di daerah, apa yang disampaikan sosok dalam koran tersebut sungguh menggugah.

Sosok di koran itu menceritakan kisah hidupnya. Ia awalnya adalah seorang content editor di dua perusahaan berbeda. Lalu merasa bosan dan mencoba hal baru. Ia berani keluar dari pekerjaan kantoran dan membuka bisnis sendiri, yakni menghimpun penulis pemula dan menjadikan karyanya terbit dalam bentuk buku. Itu terjadi tahun 2007. Dan langkahnya memberi ruang penulis pemula memantik semangat kami. “Kenapa kita nggak melakukannya juga? Membikin penerbit dan menerbitkan karya-karya orang-orang di daerah?” kata kami serempak.

Apalagi internet memudahkan semua langkah tersebut. Sosok di koran itu memanfaatkan internet dengan membikin Sekolah Menulis Online (SMO). Pada Agustus 2007 ia memulai SMO pertama dengan peserta 35 orang. Tarifnya Rp 95.000/ bulan untuk tiap orang. Durasi pelatihan dan pendampingan selama 6 bulan. Guna memudahkan bisnis SMO, ia menerbitkan buku berjudul Menulis Buku Itu Gampang pada tahun 2008. Murid-murid SMO banyak yang sukses menulis buku di kemudian hari.

SMO terus bergerilya memberi pelatihan menulis, mencari penulis dan menerbitkan buku. Lalu, awal 2011, SMO resmi melebur ke Manajemen Oxford Course Indonesia, sebuah lembaga kursus bahasa Inggris pertama di Indonesia. SMO kemudian berubah menjadi Writers Academy, dan ia menjadi CEO. Tarif pun nggak lagi Rp 95 ribu, melainkan Rp 495 ribu.

 

Foto: Facebook/@Jonru

***

Kami masih sering membincang program memberi pelatihan menulis, menerbitkan buku, dan memasarkannya. Lalu, pada tahun-tahun selanjutnya kami sudah melupakan sosok di koran itu, hingga akhirnya di tahun-tahun belakangan wajahnya kerap muncul di media sosial dengan status-status, yang bagi saya, nyeleneh. Ada beberapa poto dia sedang berpeci putih dan memberi ceramah. Saya tidak tahu, apa dia memberi pelatihan menulis?

Sampai di sini, Anda pasti tahu siapa sosok yang saya ceritakan. Ya, dia adalah Jonru Ginting yang kini berstaus tersangka kasus ujaran kebencian di media sosial. Jonru memilih jalan tak lagi istiqomah di dunia kepenulisan. Ia memilih menjadi artis medsos dengan pengikut yang lumayan banyak. Ketika pertama melihatnya di medsos, saya bilang ke teman saya: Lha ini kan yang di koran Jawa Pos dulu itu? Apa bisnis dari pelatihan menulis kurang menghasilkan untung? Saya tidak tahu, begitu juga teman saya.

Yang jelas, Jonru “menyimpang” dari jalan yang pernah ditekuninya. Ia menjadi orang yang berbeda dari cita-citanya sebagaimana dikatakan kepada wartawan Jawa Pos tahun 2007 silam. Ia hendak bikin pelatihan menulis tak hanya di Jakarta, melainkan ke seluruh Indonesia. Tapi cita-cita itu sepertinya nggak akan kesampaian. Ia kini memilih “hidup” di medsos dengan status-status yang ditulisnya cukup nyleneh. Padahal, beberapa bukunya konon selalu best seller. Bahkan ia menulis buku berjudul : Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat.

Nah, saya menunggu bukunya saja daripada status-statusnya di medsos yang unik-unik itu. Apa jangan-jangan dia sudah nggak percaya buku? Dan hanya percaya pada pikirannya sendiri? Tapi kalau dia kini benar-benar akan menerbitkan buku apa serius saya akan membeli bukunya? Entahlah. Saya nggak yakin juga.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here