Sejarah Jalur Transportasi Bojonegoro – Gresik Lewat Bengawan Solo

1
214
Ilustrasi bengawan solo

Kabupaten Bojonegoro dilewati sungai Bengawan Solo. Letak geografis demikian tersebut menjadikan Bojonegoro kaya akan hasil alam sejarah peradaban masyarakat. Di wilayah Bojonegoro, sungai ini membentang dari Kecamatan Margomulyo hingga Kecamatan Baureno.

Sejarah mencatat, sungai Bengawan Solo menjadi jalur transportasi utama dari Surakarta hingga Gresik. Pemerintah dan warga sudah lama memanfaatkan jalur transportasi air ini. Salah satunya pernah diberitakan koran Suara Masjarakat edisi 21 Oktober 1952, bahwa pengiriman kayu jati dari Bojonegoro ke Gersik banyak dilakukan lewat jalur sungai.

Jalur transportasi tahun 1952 lewat Bengawan Solo, salah satunya dilakukan oleh Djawatan Kehutanan yang mengirim 160 m2 ke Manyar (Gresik) untuk tahap pertama, dan 300 m2 untuk tahap kedua. Pengiriman menggunakan perahu-perahu khusus pengangkut kayu. Dermaga (stasiun) pengiriman kayu berada di Desa Ngulanan (Dander), sebelah barat kota Bojonegoro.

Mungkin yang menjadi pertanyaan kita sekarang, mungkin nggak memanfaatkan Bengawan Solo sebagai jalur transportasi sebagaimana masa lalu? Inilah yang perlu mendapat perhatian pemerintah.

Namun, ada sebuah studi yang bisa membantu kita melihat kemungkinan menghidupkan kembali jalur transportasi air Bengawan Solo. Studi itu berjudul Analisis Banjir dan Perencanaan Desain Transportasi Sungai di Kota Bojonegoro yang dilakukan Rian Mantasa Salve Prastica, Caya Maitri, Pratomo Cahyo Nugroho, Ade Hermawan dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Hasil studi yang dipublikasikan di Media Komunikasi Teknik Sipil, Vol 23 tahun 2017 ini membuka peluang tersebut.

Kedalaman yang dibutuhkan oleh kapal penumpang untuk berlayar di alur pelayaran Sungai Bengawan Solo sebesar 1,849 meter atau mendekati 2,00 meter. Berdasarkan dari perhitungan-perhitungan diketahui alur pelayaran Sungai Bengawan Solo dapat dilayari sepanjang tahun selama 24 jam oleh kapal-kapal barang dan penumpang dengan draft 0,6 meter pada kedalaman air surut terendah 4 meter (kecepatan kapal ≤ 12 knot). (hal: 98)

Analisis jenis kapal yang direkomendasikan oleh tim peneliti adalah kapal penumpang kapasitas 70 orang Seri JS 1843 dengan desain ukuran utama kapal adalah panjang 18,00 meter, lebar 4,30 meter, tinggi 1,80 meter, dan draft 0,60 meter.

Kajian ini cukup menarik, lantaran membuka peluang jalur transportasi Bengawan Solo yang selama ini tak banyak dilirik. Karena selama ini transportasi Bengawan Solo hanya untuk penyeberangan saja. Pemerintah kabupaten Bojonegoro perlu melakukan kajian-kajian lebih lanjut untuk membuka peluang itu.

Memanfaatkan jalur transportasi air Bengawan Solo mempunyai banyak dampak positif. Selain sebagai jalur wisata yang menyenangkan, jalur transportasi air ini tentu saja akan menghidupkan kekayaan budaya masyarakat sekitar Bengawan Solo. Karena Bengawan Solo adalah pusat budaya masyarakat di masa lalu.

Bengawan Solo dulu merupakan denyut nadi kehidupan masyarakat sekitar. Air sungai untuk pertanian, minum, mandi, hingga membersihkan pusaka. Oleh karena itu, di masa lalu ada istilah padusan lanang dan padusan wadon sebagai tempat mandi bagi pria dan wanita.

Merawat sungai Bengawan Solo dengan memanfaatkannya sebagai jalur transportasi merupakan upaya untuk mengembalikan sungai menjadi denyut nadi masyarakat. Revitalisasi air sungai dan pengurangan sampah di Bengawan Solo perlu menjadi gerakan masyarakat secara bersama dan berkelanjutan. Dan dengan menjadikan Bengawan Solo sebagai jalur transportasi akan lebih mendekatkan masyarakat kepada sungai.

Dulu sudah sering dilakukan upaya antar kabupaten yang dilewati Bengawan Solo untuk mengembalikan sungai pada kondisi yang indah, air tak tercemar limbah, dan layak untuk dijadikan jalur transportasi. Pendangkalan-pendangkalan di sejumlah titik dari hulu ke hilir pernah dibicarakan untuk dilakukan pengerukan. Tapi sayang hingga kini upaya itu belum ada realisasi.

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here