Seni Mengolah Tembakau di Kampung, Ini Alat-alat yang Digunakan

0
383
Sumber: galihsedayu.files.wordpress.com

Konon tembakau berasal dari bahasa Portugis yakni tabako atau tumbaco. Orang Jawa, khususnya di kampung saya di Bojonegoro lebih akrab menyebutnya dengan istilah mbako. Dan panen tahun 2018 ini harga mbako lumayan bagus, rata-rata Rp 27.000 per kilogram untuk mbako kering rajangan.

Semasa kecil saya, panen tembakau adalah lebaran ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Disebut demikian karena pendapatan keluarga petani akan meningkat, sehingga mampu membelikan ini itu untuk anak-anak mereka. Panen tembakau selalu di bulan September, sehingga warga kampung kami lebih mengenalnya dengan istilah ulang songo. Semisal anak kecil minta dibelikan sepeda, maka orangtuanya akan menjawab: nanti nunggu ulan songo. Ya, ulan songo adalah lebaran ketiga bagi kami, anak-anak.

Tembakau punya sejarah panjang di Bojonegoro. Tembakau yang merupakan tanaman perkebunan di bawah sistem tanam paksa Belanda sejak 1830, sangat akrab bagi petani. Dan di Bojonegoro, tembakau cukup mendapat tempat di hati petani sehingga tak heran jika banyak gudang dan pabrik rokok yang berdiri di Bojonegoro.

Pada era tahun 1950 an, jumlah petani tembakau di Bojonegoro sudah cukup banyak dan mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah melalui Perkebunan Rakjat Indonesia (Perrin). Di bawah Perrin terdapat 223 oven tembakau.

Nah, dalam hal mengolah tembakau ini petani mempunyai cara-cara tersendiri. Cara itu kemudian mempengaruhi pada peralatan yang digunakan. Kini, banyak peralatan yang berubah seiring perubahan teknologi.

Berikut alat-alat yang digunakan mengolah tembakau yang biasa dilakukan petani kampung saya. Tentu saja ini hanya berdasar dari ingatan saya dan ngobrol dengan petani tetangga saya. Jadi bisa saja keliru.

Congok

Sumber:kbr.id

Saat memulai panen, petani akan memetik daun tembakau paling bawah yang kebanyakan sudah kering atau sudah berwarna kuning. Usai dipetik daun itu akan ditusuk mirip sate gitu. Nah, alat tusuknya itulah yang disebut congok berbahan bambu dengan ujung lancip. Aktivitasnya biasa disebut nyongoki.

Sewaktu kecil, sepulang sekolah saya sering diminta untuk nyongoki daun tembakau ini. Meski seringkali kesal dengan perintah itu, namun saya tidak berani menolaknya. Dan usai dicongoki tembakau akan dijemur. Kini sepertinya nyongoki tembakau sudah tidak dilakukan, karena daun tembakau petikan pertama langsung dijemur dengan acak saja, tidak ditusuk seperti sate.

Bedok

Bedok ada pisau yang digunakan petani untuk merajang daun tembakau. Bentuknya agak lebar dan sangat tajam. Saat ngerajang, di samping petani pasti akan ada ungkal (batu asah)  yang digunakan mengasah bedok. Bedok sangat sering diasah karena getah daun tembakau (kelelet) sangat pekat dan mudah menempel di bedok.

Kini pisau bedok yang demikian sudah hampir ditinggalkan petani, karena pisaunya menggunakan mesin dinamo yang digerakkan energi listrik. Jadi tinggal colok, maka pisau itu akan berputar mengiris tembakau. Kalau dulu pisau itu digerakkan tangan sehingga produktivitas tentu saja berbeda jauh.

Jongko

Sumber: 3bp.blogspot.com

Jongko diucapkan mirip ketika kita mengucapkan makanan lontong. Jongko adalah dudukan yang didesain untuk merajang tembakau. Di kampung saya biasanya jongko terbuat dari kayu randu yang diberi kaki. Kini jongko juga sudah tidak digunakan, karena jongko sekarang didesain menyatu dengan pisau dan dinamo yang digerakkan listrik. Jadi sudah sepaket saat beli.

Widek

Sumber: dinaspertanian.situbondokab.go.id

Huruf e di kata widek diucapkan mirip kita mengucapkan huruf ‘e’. Widek adalah anyaman bambu berbentuk persegi panjang yang digunakan untuk menjemur tembakau rajangan. Sampai saat ini widek masih digunakan oleh petani. Sehingga keluarga petani biasanya mempunyai persediaan widek cukup banyak. Saat musim penghujan dan tidak digunakan, widek akan disimpan dengan cara ditumpuk.

 

Oh ya, perlu saya sampaikan di sini juga bahwa kebanyakan petani mengolah sendiri tembakau mereka. Setelah tembakau dirajang dan kering, maka rajangan tembakau itu akan dilipat dan ditumpuk kemudian dibungkus menggunakan sak. Cara menumpuk tembakau ini juga butuh keahlian lho.

Nah, kalau semua sudah jadi dan tengkulak sudah menentukan harga, maka tembakau itu akan dikirim ke rumah tengkulak yang biasanya masih tetangga kampung. Dulu mengantarnya dengan sepeda onthel, dan kini kebanyakan menggunakan motor.

Bagaimana, anda punya nostalgia dengan tembakau? Bolehlah berbagi cerita dengan saya.

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here