Tidur-tidur Tak Wajar ala Mukicoi

0
1250
foto: stephanie robin/kelley riden

Apapun mungkin bagi Mukicoi. Tak ada yang tak mungkin. Separoh hari berada di toilet mungkin bagi orang lain sesuatu yang nggak mungkin dilakukan. Tapi Mukicoi melakukannya. Ketika semua temannya makan enak, dia bisa menahan diri hanya gara-gara dia mengira sedang puasa. Boleh jadi itulah “The Power of Mukicoi”.

Seperti kebiasaan Mukicoi satu ini. Saya yakin nggak banyak yang punya ‘kekuatan’ macam ini. Mukicoi mudah sekali tidur. Di manapun dia bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan, kalau dia ngantuk dan berusaha tidak tidur, biasa dia berjalan mondar mandir meski akhirnya tertidur juga berdiri di pojok ruangan sambil berdiri. Kalau di perjalanan dan tiba-tiba dia ngantuk, maka kendaraannya diparkir di sebuah bank, lalu dia tidur di kursi ruang tunggu.

Nah, pada sebuah malam, Mukicoi tidur. Mukidin, sohib akrabnya itu tiba-tiba menarik tangan Mukicoi dan membangunkannya. Setengah sadar, Mukicoi mengikuti tarikan tangan Mukidin yang menyeretnya keluar rumah, tepatnya ke arah pintu gerbang rumah. Di situ Mukidin telah menyiapkan kursi dan menaruh Mukicoi duduk disana. Bukannya bangun, Mukicoi malah tertidur pulas di kursi itu.

Banyak warga tetangga yang lalu lalang melewati jalan depan rumah kaget melihat ada orang duduk di depan gerbang rumah. Ada yang lewat sambil lari-lari kecil, mungkin takut karena dianggap ada orang yang tidak waras. Kami yang melihatnya dari dalam rumah nggak bisa nahan tawa. Dan bayangkan, dia tidur di kursi itu sampai pagi. Mukicoi baru bangun saat mendengar adzan Subuh.

Dan ini kisah ‘gila’ yang lain lagi. Ketika sholat Jumat, saat mendengar khutbah, Mukicoi tertidur. Saya dan teman-teman sudah bersepakat untuk kali itu tidak akan membangunkannya sampai sholat Jumat berakhir. Benar juga, ketika iqomah, dia masih tertidur dan tak satupun dari kami berusaha membangunkannya. Bahkan kami sengaja melarang orang lain yang hendak membangunkannya. (Keusilan kami pada Mukicoi kadang keterlaluan juga ya. Duh, maaf ya Coi).

Usai sholat, segera kami bangunkan Mukicoi.

“Coi.. bangun Coi.. ayo pulang,”  kata saya membangunkan Mukicoi. Setelah itu saya berlari kecil meninggalkan Mukicoi sambil tertawa cekikikan diikuti teman-teman yang lain.

Terlihat Mukicoi segera bangun dengan muka kebingungan dan segera mengejar kami. Kami hanya berpura-pura kasihan.

Tidur Mukicoi yang nggak wajar kalau dihitung banyak jumlahnya. Lain waktu, saat malam ketika Mukicoi tidur, Mukidin menyampaikan sebuah ide untuk mengusili Mukicoi. Mukidin mengambil spidol dan mulai mencorat-coret muka Mukicoi dan diikuti teman-teman yang lain termasuk saya. Sesaat setelah aksi corat coret muka Mukicoi selesai, Mukidin lalu membangunkan Mukicoi.

“Coi.. bangun Coi. Ayo “ngronde”.. kata Mukidin sambil menggoyang-goyang tubuh Mukicoi agar bangun.

Ngronde maksudnya beli ronde, minuman hangat yang kayak wedang jahe tetapi ada campuran kacang, kolang kaling dan pentol dari tepung berisikan kacang.

Mendengar kata ronde, segera Mukicoi bangun. Maklum dia hobi makan, jadi kalau dengar nama makanan atau minuman, dia jadi bersemangat. Lalu, kami pun kira-kira 6 orang berangkat ke sebuah pasar. Kebetulan basecamp kami sangat dekat dengan pasar pahing Kota Kediri sehingga kami cukup jalan kaki saja. Malam itu kita semua menahan tawa agar Mukicoi tidak curiga apa yang terjadi. Sesekali dari kami berjalan melambat untuk meluapkan tawa kami agar tidak ketahuan Mukicoi karena tidak mampu menahan tawa atas kejadian ini. Bahkan beberapa teman termasuk saya merasa malu juga menjadi bahan perhatian banyak orang.

Banyak orang sepanjang perjalanan yang tertawa. Tak ketinggalan si penjual ronde yang terus tertawa. Mukicoi yang nggak tahu apa-apa iikut tertawa-tawa juga. Tapi, lama kelamaan ia mulai curiga, ada yang aneh pada dirinya.

Sekembalinya dari ngronde, Mukidin langsung menarik tangan Mukicoi dan mengajaknya ke arah almari dan menunjukkan wajah Mukicoi di cermin.

“Wkwkwkwk…” tawa Mukicoi meledak.

“Kebangetan kowe.. Din,” kata Mukicoi. Tapi dia tetap tertawa. Mungkin dia kaget dengan wajahnya sendiri. Oalah Coi.. Mukicoi.

_______________

*) Penulis adalah tipe orang yang serius, kini hidup bahagia bersama keluarga di Kota Kediri.

SHARE
Penulis menerbitkan buku Urip Mung Nderek Ngguyu, Menabur Tawa Menuai Bahagia (2019). Alumni Ponpes Attanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro. Kini Tinggal di Kediri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here