Tolong Beritahu Kami Apa yang Dikehendaki Tuhan

0
509
foto: pinterest

Kang Tolib mencoba memahami apa yang terjadi akhir-akhir ini dengan cara pelan-pelan. Ya, pelan-pelan sekali. Dia tak mau terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Terlalu menyederhanakan masalah, begitu pikirnya. Meski ia cuma nyantri sebentar saja di pondok tua di desa sebelah,  otaknya nggak tumpul-tumpul amat.

Sore itu lumayan panas. Kang Tolib berjalan dan membelok masuk ke warkop Mak Sablah. “Kopi satu Mak,” katanya memberi perintah. Hanya di warkop inilah ia bisa merasa seperti juragan,  memerintah Mak Sablah untuk membikinkan kopi. Maklum, di rumah ia tak berdaya di hadapan istrinya. Kalah power, begitu kesimpulannya.

Ia duduk dan melanjutkan apa yang dipikirkannya tadi. Dicobanya menjajar di otaknya apa-apa yang terjadi belakangan ini. Kelompok etnis Rohingya di Myanmar dibunuhi.  Anak Gus Dur diolok-olok sebagai anak orang buta. Orang menulis tentang Megawati dan Ang San Suu Kyi dipolisikan. Tahun 2018 Pilkada dan Pilgub digelar. Tahun 2019 digelar Pilpres. Muncul kelompok Saracen yang memperjualbelikan hoax. Candi Borobudur sempat hendak dikepung. Dan…dan….banyak sekali.

Hhmmmm…., Kang Tolib menarik napas panjang tepat saat tangan Mak Sablah menyuguhkan kopi dengan genit. “Mikir opo to Kang, kok sepertinya berat banget!,” kata Mak Sablah. Tapi, belum sempat dijawab malah Mak Sablah sudah berlalu. Aneh, wong tanya belum dijawab kok sudah pergi. Tapi Kang Tolib tak mempermasalahkannya. Biarlah sesukanya saja.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Tuhan!” katanya seperti orang meratap. Tak pernah ia merasa lemah seperti sekarang ini. Hatinya kacau balau. Baper lah pokoknya. Dan lagi, ia sangat yakin Tuhan pasti memiliki rencana tersembunyi dari tiap gerak dunia. Tak ada gerak apapun di dunia ini tanpa campur tangan Tuhan, begitu ilmu yang diperolehnya selain pelajaran nahwu dan sorof. Jangan-jangan memang Indonesia ini akan dijadikan seperti negara-negara Timur Tengah yang terus berkonflik? Atau memang ada kebangkitan komunis? Jangan-jangan, jangan-jangan……Ah pelan, ini harus dipikir pelan-pelan saja. Nggak usah ikut-ikutan panik lalu serampangan bertindak.

Di tengah kebingungannya itu, ia sering berkhayal menjadi seorang imam yang mampu mengatasi semuanya. Menentukan siasat, membaca tanda-tanda lalu menarik kesimpulan, menelaah dengan tajam tiap gerakan massa, dan menjadi sang penyelamat dunia, penyelamat agama. Tapi, jelas itu cuma  khayalannya saja. Dan daripada berlarut-larut dalam kebingungan, ia punya ide.

“Mak! Minta kertas dan pulpen,” teriaknya.

“Untuk apa? Mau nulis surat untuk Pak Jokowi ta?” teriak Mak Sablah tak kalah sengit.

“Sudahlah. Sini mana pulpennya. Pinjam. Ini sudah dapat kertas bungkus nasi nih.” Kang Tolib menunjukkan wajah serius.

Mas Guru, begitu ia memulai menulis di kertas bekas bungkus nasi. Kamu pasti tahu apa yang terjadi akhir-akhir ini mengkhawatirkan. Atau saya cuma terlalu baper. Kampung kita tak lagi damai. Perbedaan dikit saja bisa dibesar-besarkan. Saya tidak tahu kenapa, banyak yang tidak masuk dalam otak saya. Buntu. Kenapa orang berpikir bengkok tapi berkoar-koar tentang kebenaran. Saya seperti tidak mengenal lagi teman-teman kita.

Mungkin ini satu tanda akhir zaman, ketika ibadah diumbar di medsos. Ketika keikhlasan ditertawakan sebagai sesuatu yang kadaluarsa. Yang penting dilabeli Islam, maka semua dianggap berubah menjadi Islam. Ketika orang tak malu lagi menggunakan agama sebagai alat ketamakannya. Bagaimana ini Mas Guru? Plis, jawab ya.

Saya bukan hendak menunjukkan bahwa saya adalah orang suci yang prihatin dengan dunia. Bukan. Itu terlalu besar. Saya bukan siapa-siapa. Tapi, saya hanya prihatin pada diri saya, pada keluarga saya. Coba bayangkan, ketika sekarang sulit mencari guru yang benar-benar zuhud, bagaimana nanti guru anak-anak saya. Saya berdoa untuk saya dan keluarga saya sendiri saja sudah keteteran. Saya takut jika berdoa untuk umat yang banyak, nanti doa saya tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan semua orang. Nanti malah dihujat sana sini. Biarlah saya berdoa untuk diri dan keluarga saja.

Mas Guru, mbok di Tanah Suci, tanyakan kepada Tuhan. Apa yang sebenarnya sedang dikehendaki Nya. Saya jadi serba salah hendak melangkah kemana. Diam saja dianggap munafik. Ikut melangkah, tapi takut memperparah keadaan. Serba repot. Banyak pemimpin yang korupsi. Banyak ustadz yang malah membingungkan umat dengan ceramah yang kasar-kasar. Lalu, sebagai orang kecil seperti saya harus bagaimana. Jujur, saya sedang krisis panutan.

Jadi, plis. Tolong tanyakan kepada Tuhan ya. Saya ini hamba yang lemah, malu kalau bertanya sendiri. Takut, kok berani-beraninya bertanya langsung kepada Tuhan. Sampean sekarang kan berada di rumah Tuhan. Di Tanah yang suci. Tolonglah tanyakan. Saya yakin ibadah haji sampean mabrur. Saya yakin. Karena sampean orang baik. Dan Tuhan Maha Baik.

Keterangan ilustrasi: lukisan berjudul Kakbah karya Affandi. (sumber: pinterest)

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here