Tontonan Kampung

1
181
Ilustrasi pertunjukan kampung/Sumber: Sanapustaka Kraton Surakarta

Secara sederhana pertunjukan adalah tontonan yang bisa dilihat oleh banyak orang. Seni pertunjukan bermakna tontonan yang bernilai seni yang biasanya berisi pesan-pesan dari aktor atau pembuat pertunjukan.

Di sejumlah wilayah Jawa Timur misalnya ada langen tayub sebagai tontonan yang banyak disukai warga. Di Surabaya dikenal ludruk , di Yogyakarta dikenal wayang wong. Lalu, ketika zaman bergerak, tontonan makin beraneka ragam. Mulai musik, pantomime, hingga teater.

Geliat seni pertunjukan kini berpusat di gedung-gedung, mulai gedung serba guna hingga gedung hotel berbintang. Di stasiun Tawang Semarang, tiap malam minggu ada pertunjukan musik keroncong. Calon penumpang bisa menikmati musik sambil menunggu jadwal kereta datang.

Bagaimana dengan seni pertunjukan di masa lampau di kampung-kampung? Ternyata seni pertunjukan pada masa lampau terbilang lebih egaliter. Tontonan tidak hanya di gedung, melainkan bisa di lapangan, halaman rumah, atau halaman sekolah. Warga kampung berduyun-duyun datang menyaksikan.

Kampung pada masa lampau ternyata gudangnya tontonan. Beragam seni pertunjukan hadir dan dinikmati warga. Di Kabupaten Bojonegoro, sekitar tahun 1970-an, hampir semua desa mempunyai grup kesenian. Mulai wayang thengul hingga grup reog. Grup kesenian itu biasanya didanai oleh salah satu orang kaya di kampung dengan melibatkan warga pecinta seni untuk menjalankannya. Mereka ada yang ‘profesional’ diundang kesana kemari untuk tampil.

Di Desa Bungur, Kecamatan Kanor misalnya, konon ada beberapa grup kesenian. Salah satu Kamituwo di situ mempunyai seperangkat gamelan lengkap untuk mengiringi wayang thengul. Dalang dan para panjak adalah warga setempat. Wayang thengul tersebut sering tampil di halaman rumah. Terkadang sekedar latihan, tapi terkadang juga sedang memberi tontonan betulan, yakni pas masa panen raya.

Tak hanya wayang thengul, aneka tontonan seperti kuda lumping, sandur, jatilan, sering mampir di kampung-kampung dan ‘ditanggap’ warga. Grup kesenian yang demikian biasanya mengamen dari kampung ke kampung. Jika beruntung, ada orang kaya di kampung yang meminta mereka main dengan bayaran lumayan mahal.

Era tahun 90-an, tontotan di kampung terbilang masih cukup marak. Bahkan, orang mengamen atau pada masa lampau disebut orang mbarang, juga jadi hiburan warga. Kehidupan masih cukup sederhana, hiburan pun masih sederhana namun penuh keakraban.

Tontonan di kampung yang paling legendaris adalah layar tancap. Ketika ada acara pernikahan dan memberi suguhan layar tancap, lapangan akan penuh orang. Penjual (bakul) jajan hilir mudik menjajakan makanannya. Tidak sebagaimana bioskop yang penontonnya duduk manis tanpa suara, di momen layar tancap semua bisa bersorak, tertawa, suit-suit bebas. Bahkan, penonton yang ternyata hanya duduk-duduk di warung dan tidak menggubris film yang diputar pun sudah sangat senang.

Layar tancap di kampung-kampung kini sudah tidak ada. Bioskop dan mini theater menggantikan layar tancap yang penuh kenangan itu. Aneka kesenian seperti wayang thengul atau reog tak banyak yang menekuni.

Kini, tontonan di kampung tidak beda dengan di kota besar. Layar gadget menggantikan tontonan kampung yang berciri komunal dan egaliter tersebut. Layar gadget memang menyuguhkan segalanya. Tapi, tontonan kampung, bagi generasi masa lalu tetap menyimpan memori yang menyenangkan. Kini, orang kampung telah jauh dari tontonan kampung. Yakni ketika apa yang di kota juga ada di kampung. Kota dan kampung tak ada beda.

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here