Ustadz Ali Musthofa, Founding Father dan Bapaknya Asskar Attanwir

0
195
Ustadz Ali Mustof Hammam Munaji/Foto: Koleksi Habib Baihaqi

Setiap berbicara tentang Asskar atau Asosiasi Kaligrafer Attanwir, tentu dan harus menyebut satu nama ini. Hukumnya fardhu ‘ain. Kami memanggil beliau Kak Thofa, lebih akrab. Lulusan Pondok Modern Gontor. Penyuka celana jeans yang ujungnya dilipat satu lipatan. Lebih suka pakai kaos dari pada baju formal.

Beliau semacam “Master Shifu” bagi Po, sang “Kung Fu Panda”. Semua bentuk kemajuan Asskar berawal dari idenya yang selalu baru dan variatif.

Pertemuan Pertama

Akhir Tahun 1990, saat saya kelas 1A. ada pelajaran yang kosong karena gurunya tidak bisa hadir untuk mengajar. Tiba-tiba ada anak muda berkaos lengan pendek bercelana jeans masuk kelas. Maksudnya sekedar mengisi kekosongan. Lalu memberi beberapa pertanyaan. Salah satunya begini: “Siapa yang bisa menulis Arab kata ABTADI’U?”

Seisi kelas tidak ada yang menjawab kecuali satu orang, Agus Sholahuddin Shiddiq yang memang kemampuan ilmu nahwu sharafnya sudah bagus. Dia maju untuk menulisnya di papan tulis (black board karena warnanya hitam. Sekarang disebut white board karena warnanya putih). Penulisannya benar, seuai kaidah pelajaran Imla’. Penulisannya أبتدئ

Beberapa tahun kemudian saya baru tahu bahwa pemuda itu bernama Ali Musthofa alias Kak Thofa, putra dari KH Hammam Munaji.

All Round – Multi Talent – Serba Bisa

Kak Thofa ini multi talent. Tulisan Arabnya bagus. Juga pandai menulis kaligrafi Arab dengan berbagai media: kaca, tembok, kanvas dan lain-lain. Pokok’e iiisonan, paket komplit. Bisa melukis juga. Alat melukisnya juga bisa macam-macam: bisa memakai cat air, cat minyak, cat kaca, serbuk dan lain-lain.

Tidak hanya mahir dalam dunia kaligrafi Arab dan melukis, ternyata beliau juga pandai bermain alat musik: gitar dan piano (pianika, dulu belum ada keyboard).

Saat ada pertunjukan musik dalam even pelantikan atau ulang tahun ASSKAR, beliau yang mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Asskar Vocal Group. Lagu diringi dengan gitar, kadang dengan piano, sehingga suasana lebih syahdu dan heroik.

Apalagi kalau mengiringi Mars OH ATTANWIR PONDOKKU, auranya semakin mendayu-dayu menusuk kalbu.

Urusan setting panggung yang progresif jelas beliau jagoan tiada tandingnya. Banyak ide, banyak variasi. Organisator ulung. Kak Thofa lah yang mbaurekso perjalanan dan pergerakan Asskar.

Kak thofa mempelajari alat musik gitar dan piano, melukis, letter dan kaligrafi saat belajar di Pondok Modern Gontor yang memang ada ekstrakurikuler segala keterampilan tadi.

Ilmu keorganisasian juga banyak dipelajari di Gontor, karena dua tahun terakhir di Gontor (kelas V dan VI) ikut aktif dalam kegiatan keorganisasian. Kelas V jadi pengurus Rayon (asrama) dan kelas VI jadi pengurus di Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Bagian Kesenian. OPPM ini kalau di Attanwir disebut PPM.

Sejarah Mendirikan Asskar

Sebelum masuk Gontor tahun 1987, Kak Thofa sudah sering diajari melukis oleh ayahanda, KH Hammam Munaji. Kak Thofa juga belajar seni melukis kepada sang paman, Ust. Drs. H. Muhammad Rofiq Sahal.

Tahun 1990 Kak Thofa masih nyantri di Pondok Modern Gontor kelas III Eksperimen (kelas akselerasi, untuk di Gontor berarti sudah dua tahun).

Saat liburan bulan Ramadhan tahun 1990, Kak Thofa pulang untuk liburan di rumah di Desa Talun (komplek PP Attanwir).

Untuk mengisi liburan di rumah, Kak Thofa mengadakan kursus kaligrafi Arab. Ada sekitar 30 siswa yang sedang ikut kegiatan pondok Ramadhan di Attanwir. Mereka dikumpulkan dalam satu ruangan untuk diajari cara menulis huruf-huruf Arab yang indah sesuai kaidah penulisan yang baku.

Jika dilihat dari sisi usia sebenarnya memang unik. Kak Thofa yang masih setaraf kelas III Tsanawiyah (SLTP) mengajari kaligrafi Arab kepada siswa yang sudah di kelas III Aliyah (SLTA).

Di samping mengajar kaligrafi Arab, Kak Thofa juga diberi tugas oleh ayahanda, KH Hammam Munaji untuk menulis ulang kitab Al-Tarbiyah wa Al-Ta’lim dan Ilmu Al-Manthiq yang merupakan bagian dari mata pelajaran di tingkat Aliyah.

Kegiatan kursus kaligrafi Arab inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Asskar. Asskar berkembang pesat sampai sekarang.

Di Asskar beliau mengajarkan seni kaligrafi, organisasi dan cara bekerja sama sebagai team work yang solid dan menyenangkan.

Saya banyak menimba ilmu dari beliau. Beliau guru saya.

Semarang, 13 Juni 2020

SHARE
Habib Baihaqi merupakan alumnus Pondok Pesantren Attanwir tahun 1996. Kini kesibukannya sebagai Kepala Sekolah di SMP Islam Tunas Harapan Semarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here