Wedang Kopi Mas Guru

0
3502

“Wedang kopi panas disajikan dengan cangkir putih kembang-kembang. Jian, kenapa kok rasanya beda ya. Wedang yang begini lebih terasa nikmat dibandingkan dengan wedang yang disajikan dengan gelas bening”.

Aku mengatakan itu kepada Kang Tolib sambil jigrang di warung Mak Ni. Kang Tolib yang kuajak ngobrol malah cengar-cengir sambil tatapannya mengarah ke perempuan seksi penjual rokok. Haduh ini jelas-jelas maksiat dan melecehkan teman. Wong diajak ngobrol malah matanya kemana-mana.

“Kang!” kataku sambil neblek bahunya.

“Eh, kowe ki mengagetkan saja. Jantungku ki lemah lho,” katanya sambil membetulkan posisi pantatnya seperti orang sedang menahan kentut.

“Lha kowe ki dijak ngomong malah matanya piknik kemana-mana. Hayo apa yang kubicarakan tadi,” kataku agak marah.

“Halah, kowe ki kok mudah sekali marah to. Wong begitu saja kok marah. Mbok dadi wong itu yang sabaran dikit. Masa aku harus memperhatikan dirimu dan melewatkan perempuan tadi. Kan aneh jadinya. Haha.”

“Sekarepem wes.”

“Lho. Mbok jangan mudah marah begitu. Apa kamu sekarang sudah seperti orang-orang itu. Yang mudah marah, mengumbarnya di media sosial, merasa paling suci,” kata Kang Tolib.

Aku tidak melanjutkan obrolan itu. Males banget nanggapi Kang Tolib kalau sudah demikian. Dan kebetulan Mas Guru lewat. Langsung saja kusapa dan kupersilahkan ikut ngopi. Bersyukur dia berkenan. Maka jadilah kami bertiga ngopi sambil ngobrol ngalor ngidul.

Mas Guru orangnya baik. Kami mengenalnya sebagai orang yang  tidak ngetok-ngetokno ilmunya. Rendah hati. Aku dan Kang Tolib selalu senang kalau ngopi bareng dia. Selalu ada saja ada yang menarik untuk dibicarakan, dan itu berbeda ketika aku dan Kang Tolib ngobrol. Pengennya berantem saja.

“Mas Guru, menurutmu kenapa orang sekarang mudah sekali marah ya. Beda dikit saja langsung marah. Saling ancam. Saling membenci,”  tanyaku sambil nyomot pisang goreng anget. Di warung, makin banyak orang yang datang. Rata-rata pegawai berseragam yang curi-curi keluar kantor.

“Ah sampean terlalu banyak melihat dunia dari media sosial. Jadi terpengaruh. Saya juga tidak tahu, kenapa media sosial dipenuhi dengan orang-orang yang marah-marah melulu. Makanya jangan hanya hidup di media sosial saja. Tapi, coba lihat juga masyarakat sekitarmu. Mereka di sawah, pasar tradisional, dan warung kopi. Nah, yang begini-begini kan adem ayem saja. Yang sebenarnya mudah marah itu ya orang-orang gede itu, yang kemudian mengajak orang-orang kecil seperti kita ikutan marah,” katanya.

“Tapi, di medsos kan tidak semua orang gede. Banyak wong cilik juga seperti kita ini. Tapi mereka juga sering marah-marah,” kataku. Wedang kusruput lagi dikit.

“Ya, medsos macam fesbuk memang unik. Fesbuk adalah produk dari modernitas, yang seharusnya mengarahkan manusia kepada kesetaraan dan kebebasan sebagaimana watak modernitas. Tapi kenyataannya, fesbuk malah membawa orang pada kepicikan berpikir, pemutlakkan identitas, dan sangat yakin bahwa dirinya adalah paling benar. Akibatnya orang mudah tersulut emosinya, meski gara-gara kabar tak benar. Yang penting marah dulu,”

“Dan orang-orang yang marah itu seakan-akan yakin bahwa Tuhan juga marah kepada orang yang dimarahi. Sehingga, mereka meyakini telah menjadi wakil Tuhan untuk marah.  Saya ingat wejangan Gus Mus. Begini kata beliau. Bahwa kita seringkali merasa ketika kita marah, Tuhan juga sama marahnya. Jadi kita menyamakan diri kita dengan Tuhan. Padahal kita adalah ciptaannya yang sama-sama keciiiiilllll banget. Kita hanya sama-sama makhluk Tuhan lho”.

“Terus gimana Mas Guru?” tanya Kang Tolib tiba-tiba ikutan ngobrol.

“Apanya yang gimana,” kataku ketus. Entah kenapa aku selalu bengkerengan kalo sama Kang Tolib. Tapi ya kami tetap cengengas cengenges gitu setelahnya. Mungkin gaya persahabatan kami model begitu. Lebih asyik.

“Ya ndak gimana-gimana. Kita perlu pandai-pandai menjaga diri. Jangan ikut-ikutan marah. Tidak perlu ngeshare apa-apa di fesbuk yang berujung pada kebencian. Biarkan mereka begitu. Kita berdoa saja semoga semua baik-baik saja,”  kata Mas Guru.

Aku dan Kang Tolib beradu tatap. Aku tahu apa yang dipikirkan Kang Tolib. Pasti dia minta wedang kopinya dibayari Mas Guru. Jian kurang ajar banget kok pancen.

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here