BUKU, Sosok  

6 Tokoh Penting Dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

ilustrasi

Hari ini (10/11/2022), tepat 77 tahun lalu ada sebuah peristiwa dahsyat terjadi di negeri ini. Peristiwa itu adalah yang hari ini biasa kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Ya, peristiwa 10 November atau juga dikenal dengan Hari Pertempuran Surabaya.

Peristiwa ini berlangsung di Surabaya, Jawa Timur. Latar belakang terjadinya Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah datangnya pasukan Sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherland East Indies (AFNEI) pada 25 Oktober 1945, yang bertindak di luar kesepakatan.

Pada awalnya, Sekutu telah menyetujui kesepakatan untuk tidak melibatkan pasukan Belanda dalam AFNEI yang ditugaskan di Indonesia. Namun, setelah mendarat di Surabaya, pasukan AFNEI yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sother Mallaby justru tidak menjalankan tugas-tugasnya dan mengibarkan bendera perang.

Mereka menyerbu penjara dan membebaskan tawanan perang (termasuk perwira berkebangsaan Belanda) yang ditahan di Surabaya, serta mengeluarkan ultimatum agar pejuang Indonesia menyerahkan senjatanya. Alhasil, pertempuran antara pejuang di Surabaya dengan pasukan Sekutu tidak dapat dihindarkan, yang mencapai puncaknya pada 10 November 1945.

Tentu kita sangat akrab dengan nama pahlawan satu ini: Bung Tomo, ya Bung Tomo atau Sutomo adalah saah satu sosok penting dalam pertempuran 10 November itu. Pria asli Blauran, Surabaya itu terkenal sebagai sosok pejuang yang gigih dan selalu sukses membakar semangat arek-arek Suroboyo yang datang untuk angkat senjata lawan penjajah.

Baca Juga:  Akhir Kisah Api di Bukit Menoreh yang Belum Berakhir, Lalu?

Ternyata, selain Bung Tomo, masih ada banyak sosok lain yang menjadi kunci dalam pertempuran penghabisan itu. Siapa saja mereka? Berikutini, kami rangkum

1. Sutomo atau Bung Tomo.

Nama pahlawan satu ini selalu akrab dan mungkin sangat sering kita dengar. Benar saja, ia adalah sosok pejuang yang selalu setia dan gigih membangkitkan semangat para pejuang lain agar sama-sama berjuang mengusir penjajah. Dia juga dipercaya di kalangan santri. Pidatonya yang khas karena selalu diawali dengan “Allahu akbar! Merdeka!” itu selalu bikin halang nasioanalis siapa saja yang mendengarnya akan bangkit.

2. Moestopo.

Pejuang satu ini adalah juga seorang dokter kemerdekaan yang pada akhir Perang Dunia II bertugas mengendalikan kekuatan militer di Surabaya. Dalam Pertempuran Surabaya, ia berperan menghadang pasukan Inggris sebelum pecah pertempuran.

3. Gubernur Suryo Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo

atau dikenal sebagai Gubernur Suryo diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur pada 5 September 1945. Sebagai pimpinan tertinggi di Jawa Timur kala itu, Gubernur Suryo mendeklarasikan bahwa Surabaya harus dipertahankan. Sebelum itu, Gubernur Suryo sempat berunding dengan pihak Sekutu, tetapi tidak mencapai kesepakatan yang mengikat. Dalam peristiwa sekitar Pertempuran Surabaya, pemerintah pusat di Jakarta menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Gubernur Suryo.

Baca Juga:  Biografi Imam Bonjol, Sang Ulama Pemimpin Perang Padri

4. Mayjend Sungkono.

Saat peristiwa itu pecah, Mayjen Sungkono menjabat sebagai komandan BKR Kota Surabaya yang bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan seluruh kota. Dalam pertempuran besar-besaran itu, ia pun menjadi pucuk pimpinan pasukan di Kota Surabaya. Dengan persenjataan ala kadarnya, Mayjen Sungkono tetap gigih memimpin perlawanan terhadap pasukan Sekutu yang memiliki pengalaman militer serja senjata lebih mumpuni. Sebelum memimpin pertempuran, Sungkono juga sempat memberi semangat para pejuang lewat pidatonya pada 9 November 1945. Hal ini dilakukannya setelah mendengar seruan dari Gubernur Suryo.

5. HR Muhammad Mangoendiprodjo

Ia bertempur melawan pasukan Sekutu di Surabaya bersama Bung Tomo dan para tokoh yang lain. Ketika itu, ia baru saja diangkat oleh Jenderal Urip Sumoharjo sebagai pimpinan TKR Divisi Jawa Timur. HR Muhammad sempat berkeliling Surabaya bersama AWS Mallaby untuk memantau gencatan senjata yang diupayakan.

6. Hadratussyeikh Hasyim Asyari.

KH Hasyim Asy’ari merupakan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang menyadari bahwa perjuangan Indonesia belum berakhir meski proklamasi telah dikumandangkan. Untuk itu, ia menggelar pertemuan dengan beberapa tokoh NU yang melahirkan Resolusi Jihad.

Baca Juga:  Biografi Sukarni Kartodiwirjo, Aktivis 'Penculik' Soekarno-Hatta

Resolusi Jihad menyerukan kepada Pemerintah Indonesia untuk menentukan sikap dan tindakan nyata terhadap usaha asing yang membahayakan kemerdekaan Indonesia, terutama Belanda dan sekutunya.

dok.pribadi

Resolusi jihad 22 Oktober itu benar-benar menjadi pecut bagi para santri dan pejuang Surabaya untuk bertarung melawan penjajah. Dan hari santri pun juga mempunyai kaitan yang amat erat dengan pertempuran 10 November.

Resolusi Jihad yang resmi dihasilkan dari rapat besar wakil-wakil daerah Perhimpunan Nahdlatul Ulama Seluruh Jawa – Madura itu dilangsungkan di Surabaya dari tanggal 21-22 1945. Banyak yang benar-benar merasa terbakar semangatnya untuk ikut juhad fi sabilillah.

Bahkan sebelum Pertempuran 10 November meletus, Bung Tomo sempat mengunjungi KH Hasyim Asy’ari untuk meminta izin membacakan pidatonya yang terinspirasi dari resolusi jihad itu. Pidato Bung Tomo yang selalu diawali dan diakhiri dengan takbir “Allahu Akbar” itu, juga saran dari KH Hasyim Asyari.

Dari Kakek Gus Dur itu pulalah muncul fatwa “Khubbul wathon minal iman”. Mencintai tanah air itu sebagian dari iman. Dan salah satu bentuk rasa cinta terhadap tanah air adalah berjuang melawan penjajah, Jihad fi Sabilillah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *