7 Perlombaan Tujuhbelasan dan Sepenggal Cerita Sedih di Baliknya

Dok. Pribadi


“… lomba Jangkungan ini adalah salah satu bentuk perlawanan balik terhadap perlombaan de Klimmast milik Belanda

Sepuluh hari lagi, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2022 nati, Republik ini genap berusia 77 tahun. Saat itu pukul 10.00 WIB, hari Jum’at, di jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta, Dwitunggal; Soekarno-Hatta, menjadi wakil atas nama seluruh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan kita.

Jelang 77 tahun Indonesia Merdeka, di daerahmu, baik di perkotaan maupun pedesaan, sudah tentu ikut menyambut serta memeriahkan bulan kemerdekaan ini ­- setelah sempat 2 tahun sepi karena pandemi. Tak hanya di komplek perumahan warga, namun perlombaan ini juga diadakan di beberapa sekolah dan instansi.

Akhir-akhir ini, kamu pastinya sering menjumpai berbagai atribut merah putih, kerlapan lampu aneka warna di malam hari dan sebagian orang yang hampir tiap petang selalu sibuk membuat lampion dan mengecat trotoar jalan. Dan tak lupa perlombaan tujuhbelasan dengan berbagai hadiah dan nominasi.

Perlombaan macam balap kelereng, tarik tambang, makan kerupuk, panjat pinang dsb, tampaknya sudah akrab sekali di telinga kita. Namun, tahukah kamu makna dan kisah di balik perlombaan-perlombaan itu?

Berikut ini, penulis rangkum beberapa kisah yang cukup sedih di balik perlombaan-perlombaan tujuhbelasan. Kisah ini, penulis dapatkan dari beberapa warga sepuh di desa penulis tinggal — yang kebetulan menangi zaman Belanda dan juga Jepang. Di antaranya adalah nenek sendiri.

  1. Balap Karung

Perlombaan yang biasanya dilakukan dengan cara main, peserta masuk ke dalam karung kemudian melompat cepat-cepat hingga garis finish ini rupanya mempunyai kisah yang cukup syedih syekali. Dulu, jangan bayangkan pakaian/outift atau OOTD nenek kakek kita seperti saat ini. Sesuai nama lombanya, balap karung. Karung yang dimaksud di sini ialah karung goni. Kamu tahu kan karung goni? Ya, benar. Karung yang berwarna coklat, tebal serta bahannya bikin gatal itu, dulunya adalah gaya OOTD kasual maupun formal nenek kakek kita.

  1. Makan Kerupuk
Baca Juga:  365 Hari dan Cerita-cerita Mengejutkan

Kerupuk atau biasanya juga ditulis dengan kata krupuk, adalah makanan hasil kebudayaan. Kerupuk adalah makanan pelengkap, ia tak bisa berdiri sendiri. Lain dengan keripik atau rambak, makanan yang masih berkerabat dengan kerupuk itu bisa berdiri sendiri. Jika kamu adalah pecinta dan pemuja kerupuk, rasanya ada yang kurang jika makan tanpa dibarengi suara krupuk dikunyah-kunyah.

Nah, pada masanya, jangankan makan kerupuk, makan nasi dari beras putih saja itu sudah istimewa, barang yang langka. Dengan kata lain, kerupuk ini biasanya dikonsumsi oleh orang yang sudah selasai dengan masalah nasi dan lauk pauk, baru kemudian mengkonsumsi kerupuk sebagai pelengkap santapnya.

Orang terdahulu mungkin hanya sekali dalam seminggu bisa makan nasi putih. Makanan utama adalah nasi jagung, nasi menyok, nasi gobet/globet, nasi jrintil. Tampaknya, perlombaan ini seolah mengenang masa-masa susah itu, di mana geprek, lalapan, pahe-pahe dan seblak belum se-hits saat ini.

Di beberapa daerah selatan Bojonegoro yang notabene penghasil ubi-ubian terutama menyok, juga punya produk budaya bernama krupuk menyok, atau yang dikenal dengan nama kerupuk sadariah. Ini konon untuk mengakali bagaimana para pribumi saat itu tetap bisa makan kerupuk, meski bukan kerupuk yang terbuat dari tepuk tapioka, seperti kerupuk kelenteng/bangjo, misalnya.

  1. Tarik Tambang

Menarik dan mendorong adalah kegiatan yang hampir sepenuhnya menggunakan tenaga. Kamu  pasti ngerti dong monumen berupa kayu yang berada di pojok selatan sebelah barat Alun-Alun Bojonegoro? Ya, benar. Mbah Balok. Kayu jati berusia ratusan tahun itu konon berasal dari daearah Bojonegoro Selatan. Tepatnya di Desa Ngorogunung, Kecamatan Bubulan.

Pada tahun 1865 ada sebuah peraturan yang mengatur tentang hutan, yang dinamakan Boschordonantie voor Java en Madoera 1865 (Undang-Undang Kehutanan untuk Jawa dan Madura 1865) atau dikenal dengan istilah Reglemen Kehutanan. Nah sejak itu, pembabatan hutan secara habis-habisan terus dilakukan.

Mbah Balok ini adalah salah satu fosil dari kegilaan blandongdiensten kala itu. Mbah Balok mempunyai panjang 17 meter dengan diameter 45-50 centimeter. Kayu Mbah Balok diperkirakan berusia 1600-1900. Namun Si Mbah kulo, mengatakan jika sekitar tahun 1870 an, sebatang kayu jati primitif ini dibawa oleh puluhan orang dan beberapa ekor sapi dari Ngorogunung menuju Bengawan Solo untuk dihanyutkan dengan maksud akan dikirim ke daerah tertentu. Caranya? Tentu saja; ditarik–dengan sebuah tambang, entah sampai berapa hari, sampai akhirnya, Mbah Balok bisa berpindah tempat dari Ngorogunung ke Bengawan Solo.

Baca Juga:  Poligami Adalah Laku Politik dan Bisnis

Kerja paksa lainnya tentu tak terhitung jumlahnya. Di daerah danproyek yang berbeda pula. Rodi dan Romusha memang mempunyai kenangan yang menyayat hati bangsa ini.

  1. Panjat Pinang

Perlombaan ini rupanya sudah ada sejak zaman Belanda. Panjat pinang dulunya dikenal dengan nama de klimmast, artinya “memanjat tiang”. Pesertanyabisa 3-5 orang. Biasanya, perlombaan ini digelar tiap tanggal 31 Agustus, bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau.

Saat itu, hadiah yang digantungkan di atas adalah berupa kebutuhan pokok, seperti roti, beras dan juga pakaian. Makanya tak heran, ada beberapa orang yang tiap tahunnya selalu memprotes dengan diadakannya lomba ini, meraka mengkalaim jika lomba ini hanya mengingatkan tentang pahitnya pengalaman pribumi kala itu.

Di sisi lain, lomba panjat pinang ini tentu menggambarkan betapa pentingnya kerja sama. Dan gotong royong. Kini, lomba panjat pinang ini sudah banyak dimodifikasi. Selain karena mencari pinang yang tinggi itu susah, akhirnya pinang pun diganti dengan bambu dan beberapa lainnya menggunakan gedebok pisang. Meski kini diganti dengan gedebok dan bambu, namun namanya, ya, tetap saja panjat pinang.

  1. Balap Egrang/Jangkungan

Nah, kalau lomba ini adalah salah satu bentuk perlawanan balik terhadap perlombaan panjat pinang milik wong londo. Egrang atau yang juga dikenal dengan permainan jangkungan ini mulanya dimainkan orang terdahulu dengan maksud menyindir dan mengejek wong-wong londo yang jenjang dan jangkung. Wong londo yang sukanya menyuruh bekerja paksa tapi dia sendiri tidak mau bekerja, dan itu membuat wong londo kurang sehat, jika berjalan selalu condong beberapa derajat ke depan seperti hendak tersungkur. Beda dengan pribumi, meski kebanyakan bertubuh dekil dan mungil namun, mereka gesit dan akas serta trengginas.

Baca Juga:  Sportivitas Pilkada dan Piala Dunia 2018

Wah, nenek kakek kita sudah elegan sejak dulu rupanya. Keren!

  1. Gerak Jalan

Perlombaan ini biasanya dilangsungkan oleh instansi dan pesertanya biasanya dari sekolah-sekolah, dari SD hingga jenjang SMA. Lomba ini merupakan wujud semangat para pemuda dan pelajar yang dengan jiwa berkobar dan kepala berapi-api mau angkat senjata untuk mengusir para penjajah. Lomba ini juga merepresentasikan sebuah kekompakan dan kerja sama yang solid dalam sebuah regu atau kelompok.

  1. Perlombaan ‘Berlomba-lomba dalam Kebermafaatan’

Beda dengan lomba-lomba sebelumnya, lomba satu ini tak musti dilakukan pada bulan Agustus dan tak harus bermula di hari senin dan berakhir di hari sabtu. Lomba ini tak terikat ruang dan waktu. Dan seperti lomba-lomba di atas, lomba ini juga tak terikat agama, suku, etnis dan ras.

Para pejuang dan pahlawan sudah memeras otak, keringat bahkan tumpahan darah, mengorbankan istri, anak dan keluarga untuk kemerdekaan negeri kita tercinta ini. Kita, sebagai anak cucu pewaris kemerdekan ini, sudah patutnya bisa mengisi kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan. Karena, seperti kata Bung Karno, Merdeka itu bukan tujuan, ia tak lain hanyalah sebuah jembatan.

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan berlomba-lomba dalam  kebermanfaatan. Pluralitas kita ini memang nasib, namun kebhinnekaan kita adalah sebuah amanah.  Kita sama-sama percaya akan amanat yang baik dalam kebhinnekaan yang merdeka dan tunggal ika ini.

 

Antara mendung dan cemas, Klampok, 7/8/22

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *