Story  

Anakmu Bukanlah Anakmu

Sumber: Pixabay

Siapa yang tak kenal dengan Kahlil Gibran? Ya, ia adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon Amerika. Dia lahir di Lebanon dan menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Amerika Serikat.

Ada salah satu puisi Kahlil Gibran dari buku The Prophet, yang menarik untuk dibahas. Puisi tersebut tentang seorang anak yang lahir dari rahim seorang Ibu. Tapi, Kahlil Gibran justru mengatakan bahwa anak itu sesungguhnya bukan anaknya. Apa maksudnya? Bingung kan?

Usut punya usut, makna dari puisi legendaris itu pernah diiklankan di Indonesia pada tahun 1980 an. Kalau nggak salah, iklan tersebut memiliki gambar seorang Ibu menggunakan kebaya yang sedang duduk bersama anak kecil.

Akan tetapi, gambar yang dipasang di pinggir-pinggir jalan itu tak bertahan lama. Pemerintah juga memutuskan untuk melarang semua yang berkaitan dengan iklan tersebut di seluruh media nasional waktu itu. Alasannya, karena dianggap dapat menghasut generasi muda untuk tidak patuh pada orang tuanya.

Baca Juga:  Gubernur Jatim Usulkan Formasi 6.141 PPPK Guru

Berikut puisinya!

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.

Baca Juga:  Apakah Kita Ini Orang Baik?

Jika dipikir-pikir, ada benarnya juga makna dari puisi tersebut. Sebagai orang tua, tugas Anda hanyalah menjadi fasilisitator, memberikan kehidupan yang layak, dan memberikan anak pendidikan.

Pendidikan itu ditujukan untuk kepentingan siapa? Apakah untuk kepentingan anak, kepentingan orang tua, kepentingan pasar tenaga kerja, atau kepentingan siapa?

95 persen dari kita menjawab bahwa pendidikan itu untuk kepentingan anak-anak. Agar mereka bahagia di hari tuanya, agar mereka terjamin masa depannya, agar mereka berhasil, dan jawaban-jawaban lain yang terdengar klise.

Namun, untuk jalan hidup mereka, alangkah baiknya jika anak dibiarkan untuk memilih jalannya sendiri. Orang tua tidak bisa meminta anaknya untuk menjadi apa yang mereka inginkan dan dengan siapa mereka harus berpasangan.

Terkadang kita lupa bertanya kepada anak: Apakah mereka menginginkannya? Apakah mereka menyukainya? Apakah mereka bahagia dengan ini semua?

Sebuah tantangan bagi orang tua untuk merefleksikan pertanyaan ini dan mencari titik temu antara apa yang kita anggap baik untuk anak-anak, dengan pendapat mereka mengenai segala sesuatu yang dijalaninya. Jangan-jangan mereka melakukan ini semua karena terpaksa, atau hanya ingin membuat orang tuanya bahagia?

Baca Juga:  Setiap Kita Adalah Jaka Tarub dan Nawang Wulan

Sebagaimana dinasehatkan oleh Kahlil Gibran, “anakmu bukanlah anakmu.” Mereka memang lahir melalui kita, tetapi mereka bukan milik kita. Mereka bersama kita, tetapi mereka bukanlah milik kita. Sebab, jiwa-jiwa mereka adalah milik masa depan. Sebab, kehidupan itu menuju ke depan, bukan tenggelam di masa lampau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *