Story  

Bashoka, dari Ceracau hingga Ungkapan Cinta

IG Radinal Ramadhana

Merawat dan mencintai alam tidak cukup dilakukan dengan gerakan tanam-menanam. Agar tidak lupa, giat itu harus dimaksimalkan dengan laku menebar pesan. Agitasi-propaganda melalui aransemen nada, diyakini lebih efektif dan mudah diingat.

Mencintai alam lewat wasilah bermusik. Begitu tajuk yang diusung Bashoka: Sebuah band indie yang digawangi duo musisi muda Bojonegoro, Dian Wisnu Adi Wardhana dan Radinal Ramadhana. Dua sosok di balik kembali bergeliatnya musik “alam” di Bojonegoro.

Secara chemistry dan niat, Bashoka terbentuk beberapa tahun lalu. Namun, secara laku dan geliat, baru pada November tahun ini, Bashoka diresmikan. Melalui nada dan liriknya, Bashoka menjadi corong pesan cinta kepada alam, manusia, dan seluruh makhluk hidup di muka bumi.

Unsur rumput, hijau pepohonan, udara, hingga kabut pegunungan menjadi nuansa yang dibawa Bashoka dalam setiap bunyi yang ia sampaikan. Alam dan lingkungan hidup menjadi unsur penting yang kerap mereka kampanyekan melalui pesan dalam lagu mereka.

Dengan konsep folk akustik, sejumlah single sudah dibuat. Single-single tersebut, memang ditujukan untuk membuild-up rasa cinta pada alam, pada tempat manusia dilahirkan. Pohon yang Berbicara, Aroma Padang Rumput hingga Matamu Cula Badak menjadi single jagoan Bashoka.

Baca Juga:  Destinasi Paling Hits di Jogja untuk Ciptakan Foto Instagram yang WOW! Jangan Sampai Ketinggalan, Yuk!

Pada tiga lagu tersebut, tidak ada lirik yang diucapkan. Hanya ceracau. Instrumen yang berkolaborasi dengan ceracau rumput, pohon, hingga dedaunan. Bashoka meyakini, pohon dan dedaunan merupakan makhluk hidup yang berbicara. Hanya, bunyi yang ditangkap telinga manusia terkadang berbentuk kemeresek dedaunan.

Bashoka percaya jika setiap makhluk hidup hingga hal-hal terkecil  yang kerap diabaikan manusia, berhak  berbicara. Berhak menyampaikan  pesan. Oleh karena itu, dengan dibalut instrumen nada, Bashoka berusaha mewasilahi ungkapan-ungkapan pepohonan dan dedaunan itu menjadi sebuah lagu.

Tidak semua lagu Bashoka berisi ceracauan dan kata-kata tidak jelas. Beberapa judul lagu yang lain, seperti lagu-lagu pada umumnya: kolaborasi antara lirik dan instrumen nada. Selain tema alam, juga perihal kemanusiaan hingga ungkapan cinta sesama manusia.

Pentolan Bashoka, Dian Wisnu Adi Wardhana menjelaskan, kelahiran Bashoka merupakan upaya untuk kembali mengingat keindahan alam, mempertahankan sekaligus menjaga eksistensinya dari perubahan zaman— melalui pesan-pesan yang ditetas dari alunan musik.

Baca Juga:  Popularitas, Musik Anti Mainstream & Zona Nyaman yang Kurang Nyaman

Meski tidak secara vulgar berkiblat pada genre Post-Rock, Bashoka banyak dipengaruhi beberapa band Post-Rock macam Sigur Ros, Hammock hingga Mogwai. Sejumlah band yang membetot sisi lembut kemanusiaan.

“Kita membawa unsur Sigur Ros,” kata lelaki yang akrab disapa Wisnu tersebut.

Di tengah geliat industrialisasi, gesekan suasana politis, hingga kemajuan teknologi yang membunuh kesabaran, berdampak pada kecenderungan manusia yang abai akan keberadaan alam. Di sanalah, Bashoka mencoba masuk melalui celah-celah kecil kesunyian. Seperti oli mesin yang memeluk lembut piston mesin kendaraan.

Meski hanya beranggotakan dua personil, kata dia, komposisi Bashoka tergolong fleksibel. Pada konteks tertentu, jumlah personil bahkan bisa bertambah. Seperti menambah vokal, biola, hingga drum. Keberadaan additional player sesuai kebutuhan.

Penulis dan Desainer Grafis ini memang sudah lama bergelut di dunia musik—setidaknya sekadar hobi. Meski tak lebih hanya hasrat menyalurkan hobi, Wisnu mengatakan, Bashoka merupakan project serius yang ingin mereka jadikan simbol penebar pesan. Selain bertema alam, Bashoka membawa pesan damai dan universalitas kehidupan.

Frontman Bashoka, Radinal Ramadhana menambahkan, Bashoka dibentuk dari berbagai unsur. Alam, buku, dan geliat literasi. Setidaknya, untuk bisa mencintai dan mengenal alam, diperlukan pesan yang dikemas melalui tulisan, buku hingga lagu. Nah, Bashoka menggabungkan sejumlah unsur tersebut.

Baca Juga:  Puthuk Kereweng, Destinasi Wisata Desa di Wilayah Selatan Bojonegoro

“Tapi, Bashoka lahir dan berawal dari hobi” kata Dinal.

Musisi, pengusaha dan guru bermusik itu menerangkan, meski terlahir dari hobi, Bashoka ingin menebar manfaat melalui buah karya. Setidaknya, menyusupkan pesan-pesan mencintai alam dan kemanusiaan di setiap nada dan suara yang ia buat.

*
Pada 19 November 2017 nanti, Bashoka bakal perform pada Ngaostik Fest 3. Sebuah agenda rutinan bertajuk dendang buku dan lantunan akustik. Selain ikut perform, Wisnu dan Dinal juga panitia dalam agenda festival kecil-kecilan tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *