Sosok  

Bathara Katong dan Islamisasi di Ponorogo

Makam Bathara Katong/Sumber: ponorogo.go.id

Mengutip laman resmi Pemkab Ponorogo, bahwa Kadipaten Ponorogo berdiri pada tanggal 11 Agustus 1496 Masehi. Dan tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal Hari Jadi Ponorogo. Penetapan tanggal ini juga setelah adanya kajian mendalam atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala di Ponorogo dan sekitarnya. Juga merujuk data buku Hand book of Oriental History yang menyebut hari wisuda Bathara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo.

Berdirinya Kabupaten Ponorogo memang tak bisa lepas dengan sosok Bathara Katong. Bathara Katong lah yang disebut sebagai pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo.

Lalu, siapa sosok Bathara Katong tersebut? Berikut penjelasan singkat tentang sosok Bathara Katong dan kisah islamisasi di Ponorogo.

Bathara Katong Seoang Wali keturunan raja Majapahit Terakhir

Sejarawan Ong Hok Ham (2018) menyebut Bathara Katong adalah pahlawan dan penyebar agama Islam di daerah Ponorogo dan Madiun. Pangeran ini, sebagaimana ditulis dalam Babad Ponorogo, tunduk kepada Sultan Demak. Nama aslinya adalah Joko Piturut yang kemudian diganti dengan Rade  Alkali (Raden Harak Kali).

Ketika kemudian menjadi seorang wali, ia berubah nama menjadi Bathara Katong. Sebagai penyebar islam, Bathara Katong mendapat tugas khusus dari Sultan Demak untuk mengislamkan masyarakat di timur Gunung Lawu. Dan di daerah tersebut terdapat seorang tokoh suci bernama Ki Ageng Kutu yang merupakan pemimpin Budha. Ia tinggal di Jetis atau Arjowinangun. (hal:17).

Baca Juga:  Kalau Kau Bukan Anak Raja, Jadilah Penulis

Babad Ponorogo menyebut memiliki pengikut sebanyak 140 orang yang semuanya bisa mengaji. Komandan pasukan tersebut yang sekaligus tangan kanan Bathara Katong bernama Ki Ageng Mirah. Dari Demka, rombongan Bathara Katong tiba di Plampitan. Dari tempat itulah, ia menyebarkan agama Islam kepada masyarakat.

Setelah wilayah Plampitan berhasil diislamkan, Bathara Katong bergerak ke daerah Ngianjur. Di sekitar itulah Ki Ageng Kutu tinggal. Saat Ki Ageng Kutu diminta untuk pindah agama, ia menolak meski tidak melarang pengikutnya masuk islam. Akhirnya perang tak terhindarkan. Ki Ageng Kutu dibantu oleh murid-muridnya dari berbagai daerah datang membantu. Ki Ageng Kutu menyerang dengan mengendarai seekor banteng besar. Perang terjadi di utara Desa Nglawu. Dalam perang itu, banyak muslim terbunuh dan sebagian melarikan diri.

Setelah itu, Demak mengirim bantuan pasukan di bawah pimpinan Kiai Selo Aji. Perang pun kembali berkobar. Tapi pasukan Bathara Katong kembali mengalami kekalahan. Lalu, Bathara Katong mendapat petunjuk agar menyalakan oncor sebanyak-banyaknya saat perang terjadi. Karena pasukan Ki Ageng Kutu tak bisa dikalahkan di malam hari. Akhrnya Ki Ageng Kutu terbunuh dalam pertempuran dengan Kiai Selo Aji. Para pengikut Kutu kemudian banyak memeluk islam.

Baca Juga:  Agung Ridwan Asmaka; Pinjam Buku Pakai Botol, Les Bayar Sampah

Dari Plampitan, Bathara Katong memerintah seluruh wilayah di sebelah timur Gunung Lawu yang berbatasan dengan Bengawan Solo di utara, Pegunungan Pandan di barat, pegunungan Wilis di serta Samudra Hindia di selatan.

Makam Bathara Katong Ramai Dikunjungi

Makam Bathara Katong berada di Dusun Plampitan Desa Setono Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Makam ini selalu ramai pengunjung, apalagi saat menjelang Pilkada. Banyak politisi yang datang berziarah dan melakukan ritual doa.

Konon, menurut cerita yang menyebar, warga yang berziarah di makam Bathara Katong bisa membuat keinginan seseorang untuk menjadi pejabat atau naik pangkat terkabul. Namun, ada sejumlah hal yang harus dilakukan para peziarah di makam Bathara Katong jika keinginannya ingin terkabul. Salah satunya, peziarah harus melewati tujuh gapura di makam Bathara Katong dan membawa bunga yang tidak bercampur daun pandan wangi.

Baca Juga:  Cartenius van der Meijden, Nyonya Belanda Jago Masak Sambal Era Kolonial

Dikutip dari LIBERTY, edisi 1-10 Mei 2010, disebutkan bagi siapa saja yang memang benar-benar berharap berkah dari sang Bathara Katong, maka dia harus rela berjalan menyusuri tiap gapura yang antara satu dengan lainnya berjarak sekitar 200 meter. Jadi tentu butuh sedikit pengorbanan, demi menggantung- kan harapan pada sang tokoh.

Selain itu, peziarah juga harus berwudhu dengan air dari gentong keramat. Ada larangan yang harus ditinggalkan yaitu tidak boleh ada daun pandan dalam campuran bunga yang digunakan untuk ziarah.

“Biasanya kalau kita beli bunga, di dalamnya pasti dicampurkan irisan daun pandan wangi. Nah, kalau mau ke sini, daun pandan itu harus dibuang. Sebab Kanjeng Bathoro Katong tidak suka. Dan bila tidak suka berar­ti apa yang kita harapkan tentu akan sulit terkabul,” terang Mukim sang Juru Kunci Makam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *