Story  

Belajar Menerima Perubahan dari Tukang Delman

dailypainters.com

Perubahan, seperti yang kerap kita rasakan, selalu memberi dampak tidak biasa. Sebab, tugas perubahan sendiri adalah mengubah kebiasaan. Dari kebiasaan lama menuju kebiasaan baru. Atau, dari sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilakukan menjadi sesuatu yang harus mulai belajar dilakukan.

Sayangnya, kedatangan perubahan juga kerap membuat orang terkaget. Sebab, perubahan datang membawa dua mata pisau yang dalam waktu bersamaan memicu dua dampak berbeda. Penerimaan dan penolakan. Meski terkesan sia-sia (mengingat perubahan mau tidak mau bakal tetap terjadi), gejala menolak perubahan masih juga tetap eksis hingga kini.

Revolusi Industri di Inggris pada 1760 misalnya, tidak lepas dari dua dampak yang saling berkelit-kelindan, antara dampak positif dan dampak negatif. Selain dampak positif berupa peningkatan mutu hidup, hidup menjadi lebih dinamis, hingga berbagai produksi tercipta untuk memenuhi kebutuhan manusia, revolusi industri menghadirkan dampak negatif berupa kecemburuan sosial akibat perbedaan pendapatan.

Baca Juga:  Mengunjungi (Makam) Sultan Agung, Raja yang Selalu Dicintai Rakyat

Upah buruh yang sedikit berbanding terbalik dengan pendapatan para pemodal yang kian melejit. Darisana timbul keresahan berakibat pada munculnya kejahatan dan kriminalitas. Revolusi Industri berdampak buruk bagi masyarakat karena hanya kaum borjuis yang bisa mengambil keuntungan besar. Dari Revolusi Industri pula muncul kecemburuan sosial antara kaum proletar dan kaum borjuis.

Namun begitu, toh pada akhirnya masyarakat menerima kehadiran Revolusi Industri. Meski, perlawanan antara kaum borjuis dan proletar tetap berlangsung hingga membentuk sejarahnya sendiri, memicu berbagai subhistory-subhistory yang pada akhirnya berperan pada pergerakan peradaban umat manusia. Yang harus kita ingat adalah, relief sejarah terlahir dan dipicu oleh perubahan.

Baca Juga:  Setiap Kita Adalah Jaka Tarub dan Nawang Wulan

Tentang perubahan, akhir-akhir ini, berbagai media kerap mengulas tentang pertentangan antara transportasi online dan transportasi konvensional. Kedua kubu saling ngotot mempertahankan keinginan masing-masing. Kubu konvensional ngotot tidak menerima perubahan karena takut keuntungannya berkurang. Sedangkan kubu online bersikeukeuh menjalankan transportasi online karena terbukti lebih efektif.

Pihak konvensional meyakini posisinya tertindas dan terjajah oleh modernitas. Sebab, semenjak eksistensi kendaraan online, keuntungan dan potensi laba yang mereka dapat sangat berkurang. Ada kesan tidak terima dan menolak perubahan. Mereka memerankan diri sebagai sosok terjajah dan tertidas.

Namun, mereka lupa, bahwa mereka juga pernah menjajah tukang delman dan tukang becak. Beberapa dekade lalu, pihak yang saat ini berlabel konvensional itu berperan menjadi penjajah bagi transportasi ultra konvensional seperti delman dan becak. Bedanya, meski dijajah, ditindas dan dikurangi keuntungannya secara langsung, tukang delman dan tukang becak tak pernah protes. Sebab, meski keuntungan mereka berkurang, mereka sangat menerima perubahan.

Baca Juga:  Becak dan Cerita-Cerita Masa Lalu Kaum Pinggiran

Dengan kecenderungan takut berlebihan akan berkurangnya keuntungan, seharusnya para driver taxi offline dan tukang ojek pengkolan belajar pada ketabahan hati dan sifat qonaah para tukang delman dan tukang becak yang dulu pernah mereka jajah. Mereka harus belajar tentang bagaimana memaknai dan menjalani perubahan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *