Berhenti Memutlakkan Identitas Tunggal, Stel Kendho Saja

0
900
ilustrasi: tes.com

Anda termasuk pecinta kopi yang bagaimana? Apakah kopi kothok di cangkir? Atau cukup kopi saset di gelas? Lalu anda menjadi anggota komunitas pecinta kopi dan sering bergaul dengan sesama pecinta kopi. Tapi, sehari-hari anda bekerja di pabrik teh celup dan masuk organisasi pekerja teh.  Di organisasi itu, Anda menjadi ketua serikat pekerja dan sering menggelar kegiatan-kegiatan memberi bantuan kepada petani tembakau.

Di rumah, anda  adalah seorang pengurus langgar RT, karena anda seorang muslim yang taat. Oleh warga didapuk jadi imam sholat khusus untuk Maghrib, Isya dan Subuh. Karena Dhuhur dan Asar, anda masih bekerja di pabrik teh.  Sebagai muslim yang selalu belajar agama, anda juga aktif di ormas Islam NU dan belajar kepada guru thoriqot. Sementara, di luar kerja pabrik, anda juga membuka bisnis kecil-kecilan yakni jamur tiram. Dan anda tergabung dalam organisasi UMKM.

Nah, coba hitung berapa identitas yang anda sandang di diri anda? Sangat banyak. Identitas itu boleh dinamakan identitas sosial. Anda muslim, itu adalah satu dari sekian banyak identitas yang anda punyai. Anda di ormas Islam, itu identitas lainnya lagi. Anda bekerja di pabrik teh tapi juga aktif di komunitas pecinta kopi, itu juga identitas lain lainnya lagi. Begitu seterusnya.

Amartya Sen, meski meraih Nobel Ekonomi, tapi ia juga konsen di kajian sosial-politik dan filsafat. Salah satu buku kajiannya yang terkenal adalah tentang identitas. Judulnya Identity and Violence: The Illusion of Destiny dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas. (Marjin Kiri, 2007).

Dalam bukunya itulah dikuliti bagaimana identitas tak mungkin menjadi satu dan bersifat absolut. Identitas selalu beragam dan berkembang. Berkembang di sini bukan berubah dari satu identitas ke identitas lain, melainkan saling bekelindan. Pada konteks tertentu, identitas salah satu akan lebih dominan, sedang pada konteks lain identitas lainnya yang akan dominan. Tapi, multi identitas itu melekat pada diri seseorang. Multi identitas adalah semacam takdir manusia di muka bumi.

Pada saat seseorang memaksakan diri dengan identitas tunggal, kata Sen, hal itu akan menjadi sumber kekisruhan yang bisa menjurus pada pengabaian peran nalar. “Identitas itu secara mutlak bersifat majemuk, dan bahwa taraf kepentingan suatu identitas tidak harus meniadakan kepentingan identitas lainnya”. (Hal: 27). Maka, identitas tunggal adalah hanya ilusi yang, kata Sen, bisa berdampak mengerikan.

Masalahnya adalah, banyak orang akhir-akhir ini mencoba menunggalkan identitas. Soal latar belakangnya apa, itu bermacam-maca. Terlepas berhasil atau tidak, upaya menunggalkan identitas sebenarnya hal yang “melawan arus alam”. Sebagaimana saya gambarkan di atas.

Konflik-konflik yang terjadi sepanjang sejarah bisa dikaitkan dengan teropong identitas ini. Adolf Hitler yang menebarkan teror yang mengerikan bisa dilihat dari kacamata keinginan memanunggulkan identitas rasnya yang diyakini sebagai ras terbaik. Konflik-konflik bernuansa SARA di Indonesia misalnya juga bisa dijelaskan dengan ilusi identitas yang tunggal ala Amartya Sen tersebut. Teoris yang mengebom sana-sini adalah sebuah kisah tentang pemutlakan identitas yang tunggal.

Pada skala kecil, usaha pemutlakan identitas bisa kita lihat dalam keseharian kita. Terutama di media sosial. Banyak orang yang berusaha memutlakkan identitas yang menutup diri pada komunikasi yang sehat. Identitas diri dan kelompok yang coba dimutlakkan akan mengabaikan identitas-identitas yang lain. Sehingga yang terjadi adalah saling membenci, saling memaki, saling menyalahkan, dan sebagainya. Tanpa kita disadari, kita sedang mengunggulkan identitas tunggal dengan cara membabi buta.

Cara melihat identitas yang sempit itulah yang banyak menjangkiti diri kita. Ujung-ujungnya, identitas lain (the other) akan dipandang sebagai sesuatu yang bukan “termasuk kita”. Sikap selanjutnya adalah kegemaran memonopoli tafsir kebenaran, karena identitas lain dipandangnya berada di level lebih rendah dan mengancam identitasnya. Ketakutan akan hilangnya identitas diri inilah yang bisa memicu kekerasan dalam bentuknya yang beragam.

Memang, akan selalu ada identitas yang menonjol dalam diri seseorang. Tapi, kembali pada cara pandang Amartya Sen tadi, bahwa memaksakan identitas yang tunggal adalah sebuah ilusi. Ya, ilusi yang bisa berwujud sangat mengerikan. Oleh karena itu, marilah menghentikan pemutlakan identitas sosial yang tunggal. Tapi memaknai identitas kita dengan bijak. Via Vallen, biduan yang lagi ngehits itu berpesan stel kendho, jangan stel kenceng.

Ah, mari bekerja di pabrik teh dan jadilah pecinta kopi sejati. Begitulah hidup ini. Tak ada yang tunggal mutlak.  Yang mutlak hanyalah milik Tuhan.  Salam!

*) Tulisan ini pernah diunggah di blokBojonegoro.com

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here