Calon Sarjana, Petani, Ini, Itu dan Air Mendidih

Dok. Pribadi Penulis

 

Mentari beberapa hari ini tampaknya sedang mengambil cuti. Bumi tempat manusia beserta segala persoalannya itu terasa lebih dingin dari biasanya belakangan ini. Kabut setiap pagi selalu menyelimuti daerah di mana kami tinggal.  Sekira, 5 atau 6 hari ini, hujan selalu datang kepagian.

“Buk, itu jemuranmu lhang diangkat. Bukan malah kering, tapi seharian pun juga akan tetap basah” Ucap Kusno kepada Hima, istrinya.  Kusno baru saja pulang dari sawah. Dengan cangkul yang ia sampirkan di pundak dan sebotol air minum ukuran tanggung di genggamannya.

“Kok sudah pulang pak?” Sahut Hima sembari melangkah menuju jemuran baju, di sebelah kanan rumah.

“Aku lapar banget”

“Padahal sebentar lagi sarapannya sudah mateng”

Biasanya, Hima akan mengirim bekal sarapan sekaligus makan siang ke sawah untuk Kusno. Suaminya yang tiap hari berangkat ke sawah di waktu petang–pagi buta itu.  Ia kini sedang membuat lahan yang akan ditanamai tembakau.

Maklum saja, rasanya tidak mungkin Kusno yang tiap hari berangkat pagi buta ke sawah itu harus sarapan dahulu, pasti masakan istrinya pun belum matang. Belum lagi sang istri yang musti mencucui baju, piring, menyapu dan  membantu anaknya untuk bersih diri, menyuapinya sarapan lantas mengantarkannya ke sekolah. Anak semata wayang mereka itu kini hendak mulai masuk SD.

“Gayatri sudah berangkat?” Ucap Kusno sembari meletakkan cangkulnya di dapur, tepat di belakang pintu yang terbuat dari kayu mahoni, yang sudah bolong sana sini. Gayatri adalah nama putri sewayang mereka. Sebuah nama yang dinukil dari salah satu istri raja di balik kejayaan Majapahit; Gayatri Rajapatni. Mereka berharap, datangnya Gayatri, putri kecilnya, di tengah-tengah keluarganya akan memberikan suatu kejayaan, dalam arti yang seluas-luasnya.

“Sudah Pak, baru saja aku pulang ngantar Gayatari” Sahut sang istri sambil mencentong sepiring nasi dari subluk yang masih nagkring di atas pawon dengan bara api yang mulai padam.  “Oiya Pak, remnya motor  ini tadi kenapa ya, berkali-kali tak starter kok gak bisa? Aku sampai diengkolkan sama Mas Her pas waktu mau berangkat tadi.”

“Lhoh, lha kenapa?” Kemarin tak pakai masih bisa kok”

“Ngga ngerti Pak. Coba nanti sampean cek dulu”.  Tampak sepiring nasi yang masih mengepul dengan 2 potong tempe goreng dan sambel trasi bakar diulurkan oleh istrinya.  “Ini sarapannya Pak”

Kusno menanggalkan kaosnya yang sudah kuyup karena peluh, di sebuah paku bekas cor yang tertancap di tiang dapur rumah mereka. Kemudian mencuci kaki serta tangan dengan air dari tempayan.  Nasi yang mongah-mongah itu ia lahap dengan muluk. Sesekali tampak ia meniup-niup setiap suapan nasi sebelum akhirnya masuk ke mulutnya.

Ya, meski Kusno sepulang dari sawah hanya mencuci tangannya dari air yang mengalir dari padasan, itu tetap saja sudah bersih, setidaknya untuk dia dan keluarganya. Kebanyakan, warga di desa Kusno, atau lebih tepatnya di sekitar lingkungan RT Kusno, yang notabene berprofesi rata-rata adalah sebagai petani dan peeladang itu, hampir semunya tak ‘mengenal’ kata higienis. “Apa itu higienis? Higienis itu adalah berhala bikinan WHO” seloroh Kusno suatu ketika kepada sang istri.

Baca Juga:  Kopi, Koran, dan Masker

Kusno dulu sempat merasakan manisnya bangku kuliah, meski hanya 3 semester saja. Ia dulu adalah mahasiswa di kampus negeri, suatu kampus di daerah yang terkenal dengan karapan sapi.

“Nasi satu piring dengan porsi kuli itu ludes. Kusno melibasnya bak sedang challenge makan ala-ala anak youtuber. Di piring bermotif bunga yang terbuat dari seng itu tampak benar-benar bersih, tak bersisa apapun. Hanya terlihat, barangkali 3 atau 4 upo (bulir nasi). Ia beranjak dari dingklik, di mana ia duduk dan  makan tadi, kemudian menuju sebuah bak timba berisi air yang sedikit keruh dan lantas mencelupkan piringnya sembari mengusap-ngusapnya dengan ala kadarnya. Kemudian menaruhnya di rak yang terbuat dari bambu yang terletak di samping padasan.

Ia memegang leher kendi yang berada di lis (sebuah tempat untk menaruh kendi yang biasanya dipaku–kaitkan di tiang rumah, berbentuk siku. Lis semacam ini hanya bisa  ditemui di tempat-tempat yang jauh dari pusat kota, ya, di daerah pedesaan yang akses jalannya (kebanyakan) juga jarang tersentuh dengan hingar bingarnya ‘pembangunan’).

Setelah makan dan minum, rasanya tak komplet, jika tidak mengasap. Ya kan? Kusno mengambil rokok slepo (lintigan dari tangan/tingwe; linting dewe) miliknya yang  ditaruh dalam sebuah plastik bekas bungkus permen. Dalam kantong rokok slepo itu layaknya sebuah swaka berkreasi. Ada tembakau sejumput, cengkeh tjap Topi, dan juga kertas rokok/sek, owiya lengkap dengan sebuah korek api yang antik.

Entah sudah berapa ribu lintingan dihasilkan dari plastik permen yang sudah mbladus dan sedikit koyak itu. Hingga tjap atau merek permen itu pun sudah sayat terkelupas.

Dengan terampil dan prigel, sebatang rokok tingwe kini sudah jadi. Kusno pun menyulutnya. Asap tembakau itu tampak menutupi wajahnya,  lantas asap-asap itu menggantung di reng dan usuk dapur sederhana mereka.

“Anu pak, coba lihat remnya motor tadi” Ucap Hima sambil mengangkat subluk berisi nasi dari pemanggangan di atas pawon lantas menggantinya dengan ompreng berisikan sekitar 7-8 gayung air mentah dari sumur. Bara yang menganga dari arang kayu trembesi  yang mulai padam itu ditumpuki lagi barang satu atau dua batang kayu yang sudah kering agar menyala lagi.

 

 

Rumah beralaskan tanah itu selalu tampak resik dan juga rapi. Hima selalu menyapu dan menyiramnya dengan air bekas cucian baju ataupun bekas cucian piring setiap paginya.

Kusno berjalan menuju depan rumah. Ia tampak menyambar sebuah kresek hitam berisi beberapa obeng dan kunci ring dan juga sebuah tang yang tergelatak di sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu, di ruang tengah.

Di depan rumah, motor matic 125 cc yang mereka beli dari uang kado pesta pernikahan mereka itu adalah motor satu-satunya yang dimiliki. Meski sudah 11 tahun, namun kilometer di spedo motor matic itu belum genap 25.000 km. Maklum saja, motor itu dipakai hanya untuk pergi mengantarkan dan menjemput Gayatri sekolah, dan mengantar ngaji gayatri di sore harinya. Sekolahan maupun TPQ Gayatri hanya terletak sekira 3 km saja dari hunian mereka berbilik bambu itu.

Ia mendekati motor yang terstandar sedikit ndoyong itu. Ia mengambil sepotong papan kayu yang biasanya ia pakai untuk alas men-standar-kan tengah motornya saat mencuci dan mengelapnya. Dengan modal otodidak dan ilmu tembung jare serta sedikit tutorial dari youtube, Kusno mulai men-standar tengah motornya lantas mendiagnosanya layaknya seorang montir handal.

Baca Juga:  Berdikari, Sungkur dan Pengki

Beberapa kali ia mengerem dan menekan tombol start di motornya, namun benar kata sang istri; tak mau menyala. Ia berjongkok dan merendahkan kepalanya, matanya kini berpendar mengitari bagian bawah motor. Cukup lama ia mencari sesuatu di bawah kolong motor itu.

Setelah cukup lama mencari-cari penyebab rusaknya motor kesayangan itu, ia berdiri, salah satu tangannya berkacak pinggang, dan satu tangannya lagi tampak memegang sebuah obeng. Ia menghisap dalam-dalam lintingannya sebelum kemudian melemparkannya ke tanah. Peluhnya yang mulai mengering itu, tiba-tiba berleleran kembali. Satu persatu cairan bening menetes, lama-lama seperti mengalir dari sela-sela rambut di kepalanya, kemudian jatuh ke pelipis, kening dan leher sampai berkahir di antara lipatan otot-otot perutnya.

Kusno menyeka dahi dengan lengannya. Perlahan mulai membuka satu persatu baut tempat di mana accu berada. Kali ini, Kusno tampaknya sudah tahu penyebab dari kenapa saat direm — distarter, motor maticnya tak mau menyala. Sedangkan ditekan tombol klakson dan lampu sein, masih menyala. Ia mengira jika saklar penyuplai daya ke tombol starter dan mesin pasti ada masalah. Kalau kabelnya ngga putus, kemungkinan saklar pengaitnya lepas, gumam Kusno.

“Kenapa mas motornya?” Tanya Mbah Pardi, tetangga depan rumah Kusno, seorang pensiuanan berusia 79 tahun.

“Nganu mbah, distarter mboten saget e”. Sahut Kusno singkat.

“Paling accu-ne kui” Lanjut Mbah Pardi, denga gontai Mbah Pardi berjalan mendekat ke sebuah kursi di teras rumah. Usianya sudah lanjut, untuk menopang tubuhnya ia musti mendapatkan bantuan dari sebatang tongkat.

Dengan sebuah tongkat, ia menjatuhkan perlahan tubuhnya dan menata duduk di kursi rotan kesayangannya itu.  Setiap pagi, ia selalu duduk di kursi rotan itu.  Mbah Pardi adalah seorang pensiuanan bekas pegawai Dinsos.

“Nggih mbah, ketingale nggih niku”. Kini Kusno telah berhasil melepaskan semua baut yang mencengkram kuat wadah aki motornya. Saat ia buka penutupnya, tiba-tiba ia tersenyum kecut. Pasalnya, ia dapati 6 kabel yang terkait di accu. Ia tak tahu, kabel mana yang kiranya terhubung dengan starter dan rem.

Dengan bibir tersungging, Kusno menggaruk-nggaruk kepalanya.

Tiba-tiba dari dalam rumah, tepatnya dari dapur, terdengar suara orang terjatuh ke tanah disertai teriakan seorang wanita. Suaranya sayup-sayup, tak begitu jelas. Apalagi kini, ratusan tumbuhan jagung yang sedang berbunga itu gemerisik diterpa angin.

Kusno mendongakkan kepala, memasang telinganya dengan jeli. Memastikan.

“Aaaaargghhhh….. Haduhhh….. Pakkkkk!??”. Fix, itu suara istrinya. Secepat kilat ia melompat ke dalam rumah dan berlari menuju sumber suara itu. Obengnya terlempar entah kemana.

“Ya Alloh!!!!” Pekik Kusno mendapati istrinya tergelatak dan mengerang kesakitan di lantai tanah, di dapur, depan tungku. Tampak omprengnya juga tergelatak tak jauh dari istrinya.

Istrinya terpeleset, di lantai dapur dari tanah yang basah, saat mengangkat ompreng dengan air yang sudah matang. Air yang masih mublak-mublak mendidih itu mengenai tangan dan kaki serta kening sang istri. Dengan sigap, Kusno mengangkat istrinya lantas membawanya ke kursi panjang yang terletak di ruang tengah.

Baca Juga:  Nggurit dan Nyrikak Bareng Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro

Hima terus mengerang kesakitan, kini tangan, kaki dan juga keningnya melocot dan juga memerah. Kaki dengan kuku yang dicat warna merah itu juga melepuh. Kusno panik. Namun ia tetap berusaha tenang dan menenangkan istrinya.

“Sudah, ngga papa, tenang ya?!” Bujuk Kusno kepada istrinya, meski dia sendiri dihinggapi kepanikan.

Mbah Pardi yang sedari tadi menikmati secangkir kopi di kursi rotannya itu, tampak sedang berbicara dengan seseorang dengan nada khawatir dan gundah.  Entah siapa, suaranya hingga terdengar sampai di ruang tengah di mana kini Kusno membaringkan istrinya di sebuah kursi panjang dari bambu.

“Enek opo No?” Tiba-tiba Bu Ngasinah, istri Mbah Pardi  muncul dari balik pintu depan. Dengan setengah berlari menghampiri Kusno yang masih mencoba menenangkan sang istri.

“Kenopo ki mau No? Kenek banyu panas e?”. Tanya Bu Ngasinah sambil melihat kaki dan tangan Hima yang melepuh.

“Nggeh Bu”

“Wes Ayo, langsung digowo nek omahe bidan” Ucap Bu Ngasinah.

“Nggeh” Tubuhnya yang besar dan kekar itu dengan cepat meraih tubuh istrinya yang terbaring untuk membopongnya. Namun baru saja selangkah, ia teringat, jika motornya rusak.

“Motor kulo rusak e Bu”.

“Aduh Pak,, periiiiihh!?” Istrinya terus mengerang.

“Ojo nggo motor, nganggo mobil ku kae lho”. Jawab Bu Ngasinah. Mereka pun melangkah tergopoh-gopoh menuju mobil yang terparkir di garasi samping rumah pasangan pensiunan pegawai negeri itu.

Pagi yang berkabut gelap saat itu; sepi. Warga sekitar sedang sibuk mengolah lahan untuk bakal ditanami tembakau. Hanya kicauan sepasang burung gereja yang sedang sibuk membangun sarang.

Mbah Pardi yang kini berdiri dari kursi rotannya itu makin penasaran “Lhoh, kenopo Hima?” Nadanya parau.

“Kenek banyu panas” Jawab Bu Ngasinah.

Bu Ngasinah yang dinikahi Mbah Pardi saat usiaya baru menginjak 13 tahun itu, masih terlihat trengginas dan segera mengambil kunci mobil ke dalam rumah. Usia keduanya memang terpaut cukup jauh, 28 tahun.

“Lha ape digowo nek ndi iki?” Lanjut Mbah Pardi

“Teng Bidan, Mbah” Kusno yang masih telanjang dada dan sedang membopong tubuh Hima yang tingginya hanya sedada Kusno itu, tampak sedikit menggoyang-goyangkan sembari menepuk-nepuk lembut pinggulnya, persis seperti sedang menimang bayi.

Tak sampai satu menit, Bu Ngasinah keluar dari rumahnya. “Bojomu lhang lebokno mobil!”

Kusno pun segera mendekati pintu belakang mobil 4 WD itu. Bu Ngasinah membukakan pintunya.

Mentari perlahan mulai bangun. Ia menggantikan kabut yang menggelayut hingga kesiangan selama beberapa hari itu.

Mobil pun melaju cepat menuju rumah bidan desa. Di tengah perjalanan, sinar mentari menubruk jendela mobil dan merayap menembus ke dalam hingga menerpa  wajah Kusno. Dia pun tersadar, jika ia masih telanjang dada.

Klampok, saat pagi diusir siang, 18 Juni 2022

a.m

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *