Catatan Kecil GUSDURian Bojonegoro: Memantik Kesatriaan, Meneladani Gus Dur

0
191
Suasana nobar film Gus Dur/Foto: Rian

Sifat keksatriaan merupakan sumber dari keberanian dalam memperjuangkan serta menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan yang ingin diraih.

***

Muda mudi berkumpul di bawah hiasan lampu Sematta Kopi yang sederhana. Dan kesederhanaan itulah yang memancarkan energi positif bagi kami yang hadir.

Semua yang hadir sedang berusaha meneladani kesederhanaan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Kesederhanaan yang menjadi salah satu dari 9 nilai utama Gus Dur.

Gus Dur adalah sosok yang sangat sederhana dalam berpenampilan. Namun gaya berpikirnya yang cukup luas dan visioner. Tak terhenti di situ, seringkali kita juga melihat Gus Dur menyampaikan pesan dengan khas humor intelektualnya yang selalu membuat orang di sekelilingnya tertawa lepas.

Di Sematta Kopi, layar proyektor besar telah terpampang, menandakan acara segera dimulai. Acara tersebut ialah nonton bareng, eitz bukan Drakor, Hollywood, ataupun Bollywood, tetapi film dokumenter yang membutuhkan analisis mendalam bagi para penikmatnya.

GUSDURian Bojonegoro kali ini mengadakan Haul Gus Dur ke-12, dengan cara membedah film dokumenter Gus Dur saat masih menjabat jadi Presiden RI di Sematta Kopi Bojonegoro, Sabtu 08 Januari 2022. Film tersebut berjudul “High Noon In Jakarta” yang disutradarai oleh Curtis Levy, seorang sutradara asal Australia.

“Dengan membedah film dokumenter tersebut, diharapkan akan menjadi pemantik semangat Keksatriaan para penggerak GUSDURian, khususnya GUSDURian Bojonegoro,” ungkap Aziz ketua panitia.

Kordinator GUSDURian Bojonegoro Hendro Sulistiyo menambahi. “Bahwa GUSDURian itu sudah ada rel dalam melaksanakan roda-roda berjalannya komunitas. Yaitu dengan Sembilan Nilai Utama Gus Dur atau (9 NU GD), yang salah satunya adalah Keksatriaan’.

GUSDURian secara khusus memaknai sifat keksatriaan merupakan sumber dari keberanian dalam memperjuangkan serta menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan yang ingin diraih. Proses ini dapat digambarkan dengan integritas pribadi; memiliki rasa tanggung jawab yang utuh pada proses yang harus ditempuh serta konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istiqomah. Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apapun, dalam menyikapi hasil yang dicapainya.

Nah, dalam film dokumenter yang berjudul “High Noon In Jakarta” tersebut menggambarkan bagaimana sikap (Keksatriaan) Gus Dur dalam mengambil sikap sebagai presiden yang penuh risiko. Salah satu kebijakannya ialah memberhentikan Menko Polkam yang diduga tersangkut pelanggaran HAM di Timor Leste.

Pada acara nobar ini, hadir juga empat pemantik di tengah muda-mudi yang tengah menikmati kopi dan diskusi bedah film. (Saat itu saya mencoba menyimak obrolan para pemantik dengan ditemani kopi dan sebatang rokok).

Bapak Mahmudi (Kepala Bakesbangpol Bojonegoro)

Beliau menuturkan, bahwa di dalam film tersebut terdapat nilai-nilai yang sangat luar biasa yaitu Jiwa Kebangsaan yang ditunjukkan oleh Gus Dur kepada masyarakat seluruh Indonesia dan juga dunia internasional dalam menghadapi konflik tersebut.

Mr Ari Hakim (Unsur Pegiat Sejarah dari Kampung Inggris Pare Kediri)

Sumber: Rian

Beliau menuturkan, di dalam film tersebut menggambarkan sangat jelas. Bahwa, Gus Dur rela berkorban dicaci-maki diolok-olok bahkan diteror demi membela siapa saja yang teraniaya. Karena Gus Dur membela manusianya, bukan latar belakangnya, manusia semua sama, ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, punya hak sama. Khususnya pada waktu konflik pelanggaran HAM di Timor Leste. Dan pada saat yang bertepatan juga, Gus Dur memberhentikan Menko Polkam.

Meskipun sebenarnya Gus Dur sangat butuh Back up dari militer. Tapi, Gus Dur memilih memberhentikannya, demi apa (?) Demi Bangsa Indonesia Tercinta.

Kita mengenal Gus Dur merupakan sosok yang sangat pemberani dalam membela nilai-nilai kemanusiaan, bahkan beliau tidak butuh ditemani. Sebenarnya kala itu, Gus Dur bisa saja menggunakan kekuatan militer untuk meredam kasus di Timor Leste. Akan tetapi, semua itu tidak digunakan oleh Gus Dur, beliau lebih memilih mengedepankan kemanusiaan. Bahwa manusia memiliki hak yang sama, semua itu dilakukan Gus Dur demi Bangsa Indonesia.

Bapak Agus Salim (Unsur pembelajar sastra dari Bojonegoro)

Foto: Rian

“Wiuw wiuw wiuw wiuw, ada yang tau ini bunyi alarm apa?”

Mulutnya seakan-akan membunyikan suara sirine mobil polisi, lalu melontarkan pertanyaan kepada para audien, dan audien pun diam.

“Wiuw wiuw wiuw wiuw wiuw wiuw wiuw, demokrasi telah mati, itulah bunyi suara iring-iringan ketika Gus Dur telah dilengserkan”.

Dengan nada tegas, dia menyampaikan, Gus Dur gagal memiliki diri sendiri. Gus Dur sangat memiliki jiwa dan apapun dalam fikiranya, tapi Gus Dur merelakan jabatannya lepas.

Seperti yang sudah kita lihat bersama, di film dokumenter tadi, keberanian Gus Dur disandingkan dengan seorang sheriff (dalam film High Noon In Jakarta), seorang sheriff sendirian mendatangi tantangan bandit yang akan menuntut balas, padahal dihari itu pula, Sheriff akan melangsungkan pernikahan dengan sang kekasih.

Begitulah gambaran seorang Gus Dur, demi membela rakyatnya tak pernah ia pedulikan dirinya sendiri. Rasa hidup yang enak dan nyaman, itu semua ditepis olehnya demi untuk membela nilai-nilai kebenaran. Bahkan ancaman bandit yang sangat kejam-kejam sekalipun, sama sekali tak mengurangi sikap keberaniannya. Gus Dur tetap konsisten terhadap apa yang diperjuangkannya, sekalipun itu jabatan seorang presiden harus menjadi tumbalnya. Itupun beliau menerimanya dengan sabar dan sadar, lapang dada, serta ikhlas.

Ibu Wiwid Fransiska (Kepala Sekolah SMA Katolik Bojonegoro)

Foto: Rian

Beliau mengatakan: Semangat para anggota GUSDURian-GUSDURian untuk meneruskan apa yang telah dilakukan dan diwariskan oleh Gus Dur sangat luar biasa. Meskipun nantinya, dari Sembilan Nilai Gus Dur, kita hanya bisa melakukan dua atau bahkan satu, itu sudah luar biasa.

Karena apa, saya sendiri sangat jarang atau bahkan tidak pernah berkumpul dengan banyak orang yang (mohon maaf) diskusi melingkar lintas Agama seperti ini. Dan di GUSDURian ini, saya menemukan banyak sekali saudara-saudara lintas Agama yang mau bersandingan dan menikmati kopi bersama.

***

Dari empat pemantik dengan latar belakang yang beragam, telah melahirkan banyak sudut pandang yang berbeda-beda. Tentu perbedaan bukanlah perpecahan, akan tetapi dapat menambah kekayaan khasanah keilmuan.

Meminjam istilah dari Gus Dur “berkat perbedaan, semuanya jadi terang benderang”, perbedaan bukanlah perpecahan tetapi hadir sebagai pencerahan. Bunuhlah watak sektarian, dan hiduplah dengan keberagaman, sebab Indonesia ada karena keberagaman. Marilah kita instal 9 nilai utama Gus Dur (Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Kesederhanaan, Persaudaraan, Keksatriaan, Kearifan Tradisi) untuk diaplikasikan ke dalam diri kita.

 

SHARE
Penulis kontributor Gangkecil.com dan aktif di PMII Bojonegoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here