Cerita Nguliner ala Santri Attanwir Era 90-an, Ke Lek Mu’ad atau Yu Mah?

1
312
Ilustrasi kegiatan di Attanwir

Bagi santri/pelajar Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliyah Attanwir, Talun, Sumberrejo yang sudah lulus, nostalgia saat menimba ilmu adalah masa-masa tak terlupakan. Bukan hanya soal proses belajarnya saja yang selalu diingat, akan tetapi segala hal mulai urusan ekstrakurikuler hingga urusan makan jadi kenangan tersendiri.

Meski sudah berpuluh-puluh tahun berlalu, kenangan tentang hal-hal sederhana di Attanwir menjadi cerita yang tak pernah kering. Seperti kenangan yang diceritakan oleh Habib Baihaqi, santri Attanwir yang mengenyam pendidikan era tahun 1990 an. Habib Baihaqi yang kini menjadi pendidik di Semarang, menumpahkan butiran-butiran kenangan menjadi cerita yang enak dibaca dan menjadikan siapa saja yang membacanya akan ikut bernostalgia. Selamat membaca!

Redaksi Gangkecil

______________

Saat itu di Attanwir belum menggunakan bel untuk menandai pergantian jam pelajaran.  Dulu saat saya masih sekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) di kampung saya Pilanggede, tanda belnya memakai besi potongan rel kereta api yang dipukul dengan besi bekas AS sepeda onthel.  Tapi di Attanwir tidak pakai alat penanda apapun.

Lalu apa penandanya? Kita cukup pasif menunggu keluar masuknya guru. Kalau guru sudah wassalamualaikum itu artinya jam pelajarannya sudah selesai, berganti dengan jam berikutnya.

Beli Jajan Kesukaan

Saat guru sudah ancang-ancang untuk memberi salam penutup menjelang istirahat, kami sudah tak sabar untuk segera keluar kelas. Radar di otak sudah menunjukkan bayangan beberapa jenis jajanan melambai-lambai berkelebat memanggil kami.

Begitu tiba waktunya jam istirahat, kami langsung menuju warung (kantin) langganan. Kami membeli jajanan sesuai kesukaan dan budget yang tersedia. Daftar warungnya banyak, tinggal pilih.

Warung-warung Langganan

1. Yu Mah

Saya tidak tahu nama asli beliau. Juga tidak pernah berusaha mencari tahu. Yang penting ikut memanggil Yu Mah. Ini warung paling laris. Fansnya paling banyak.  Tempatnya setrategis, di tengah sekolah, dikelilingi gedung-gedung kelas sehingga aksesnya mudah.

Sebenarnya kurang tepat kalau disebut warung karena hanya berbentuk dasaran di atas semacam dipan. Terbuka, tidak ada bangunan kayu atau tempok yang mengelilinginya. Atasnya hanya diberi bentangan terpal tipis untuk mengurangi panasnya sengatan matahari siang.

Kenapa kok menjadi paling laris?

Entahlah. Mungkin karena menu yang dijual banyak variannya. Kalau harga memang semua warung relative sama, murah.

2. Mbak Roh

Tempat jualannya di timurnya maqbarah keluarga pondok (KH M. Sholeh, Pendiri PP Attanwir), di sebelah pohon bambu.  Jualannya agak beda dengan Yu Mah. Mbak Roh ini jualan gorengan dan bakso super murah. Harga baksonya hanya Rp. 150,- Tapi jangan bayangkan menu baksonya seperti bakso saat ini. Baksonya Mbak Roh isinya tembe gembus sebagai pengganti pentholnya.

Penthol itu kalau di Semarang disebut glindingan. Karena itulah harganya super murah.

3. Mbak UL

Warungnya di baratnya sungai. Di Attanwir ada satu gedung menyendiri yang berada di seberang (baratnya) sungai. Tapi sungainya kecil, lebar hanya 3 meter. Gedung itu memiliki 3 ruang kelas dan 1 asrama guru (untuk guru-guru muda yang menginap di lingkungan sekolah). Nah warungnya Mbak Ul ini di selatannya gedung, satu tembok. Saya jarang ke warung Mbak Ul, hanya beberapa kali.

4. Lek Mu’ad

Warungnya di sebelah Mbak Ul. Special nasi pecel. Gorengannya hangat, enak. Tapi siswa jarang yang ke warung sini, karena sebenarnya dia warung untuk orang kampong. Warungnya menghadap jalan umum.

5. Mbak Ruk

Mbak Ruk itu adiknya Yu Mah. Warungnya di pinggir jalan raya. Penggemarnya mayoritas siswa putra yang memang senang duduk-duduk di pinggir jalan sambil mengawasi kendaraan yang lalu lalang.

6. Kantin Pondok Putra

Tempatnya super antik, terselip di belakang pondok putra. Tidak kelihatan oleh mata makhluk biasa. Hanya “pelanggannya’ saja yang tahu karena memang tempatnya benar-benar ngumpet.

7. Lek Suri

Ini warung langganan saya. Tempatnya sedikit agak menjauh dibanding warung-warung yang lain. Minuman andalan saya adalah SIRSAK. Harga sebotolnya Rp. 350,- Biasanya saya dan agus minta dua gelas berisi es batu, lalu sebotol sirsak itu kami tuangkan menjadi dua gelas, untuk berdua, pas.

8. Untuk warung yang berada di lingkungan pondok putri saya tidak tahu, karena siswa putra tidak boleh mengekses ke sana, pelanggaran, bisa kena semprit pihak berwajib.

Lalu, apa tandanya kalau jam istirahat sudah selesai? Tandanya adalah… jika suasana sudah mulai sepi, siswa sudah tidak ada yang berkeliaran, itu tandanya para siswa sudah masuk kelas. Itu tandanya jam istirahat sudah selesai. Kami harus segera masuk kelas. Pelajaran dilanjutkan. Saatnya serius lagi.

Semarang, 19 Juni 2020

SHARE
Habib Baihaqi merupakan alumnus Pondok Pesantren Attanwir tahun 1996. Kini kesibukannya sebagai Kepala Sekolah di SMP Islam Tunas Harapan Semarang.

1 COMMENT

  1. Masya Allah, Kang Baihaqi ingatannya sangat kuat. Saya sudah lupa beliau2. Terima kasih nostalgianya.. Nunggu episode at tanwir selanjutnya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here