Story  

Ceritaku Ngekos di Gresik

Spreiku. Foto yang tersisa dari kosku di Gresik

Cerita ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, Kamar yang Nyaman untuk Diri Sendiri. Rencananya ada empat tulisan tentang topik ini. Semoga bisa diterima pembaca.


 

PULANG DARI SOLO aku tinggal di rumah milik keluarga di Surabaya pinggiran. Aku banyak memanfaatkan waktu bersama ibu, bapak, kakak perempuanku dan suaminya serta ketiga anaknya. Tiga bulan kemudian, kira-kira bulan September2019 aku kembali ngekos. Kali ini aku memilih Gresik. Kota Gresik lebih dekat dengan rumahku dari pada Surabaya Kota, hanya 30 menit kalau bisa motoran dengan kecepatan 60 kilometer perjam. Selain itu aku memilih Gresik karena waktu itu aku tengah memulai pekerjaan baru sebagai karyawan di sebuah perusahaan kayu. Sementara pekerjaan jualanku juga masih kujalani meski jauh dari Surakarta, tempat barang-barang jualanku berada. Aku menjalani dua pekerjaan sekaligus karena punya banyak kebutuhan. Baik kebutuhan harian maupun kebutuhan tagihan bulanan yang harus kubayar tepat waktu.

Belum pernah berpengalaman dengan kota Gresik akhirnya aku mencari rumah kos melalui aplikasi MamiKos. Banyak pilihan sebenarnya, cuma aku memilih sesuai budget yang ada saat itu. Menurutku fasilitas kos yang wajib ada dan prioritas adalah harus ada layanan internet (wifi) gratis dan kamar mandi bersih. Aku butuh wifi untuk melancarkan jualan onlineku yang membutuhkan kuota internet yang cukup. Kamar mandi yang bersih adalah ukuran yang menurutku bisa menunjukkan bagaimana keseluruhan bagian rumah diperlakukan. Kalau kamar mandi bersih maka seisi rumah juga sehat. Untuk lainnya bisa kuterima.

Setelah mencari-cari, akhirnya aku menemukan pilihan. Aku bertanya melalui pesan tulis dengan pemilik kos via aplikasi. Saat melihat foto-foto yang ada di aplikasi tersebut, aku merasa cocok. Ada dua jenis kamar yang ditawarkan, yaitu AC dan non AC. Yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama adalah letak kos ini sangat dekat dengan minimarket, atm dan tempat-tempat makan. Hanya dengan jalan kaki saja aku bisa menjangkau kemana moodku ingin pergi. He he he… Aku bisa dalam sehari makan dengan menu berganti-ganti. Karna memang sepanjang jalan dekat gang kosku banyak sekali warung makan dan PKL berjejeran dari rate harga sepuluh ribu hingga dua puluh lima ribu rupiah  perporsi. Poin ke dua  yang bikin aku senang dengan rumah kos ini adalah tempat tidurnya yang memakai tempat tidur panggung, bukan dipan. Meski ukurannya kecil buatku itu sudah mewah dan nyaman. Kasurnya pun juga memakai springbed, bukan kasur kapuk.

Baca Juga:  Timur Budi Raja: Cerita Tentang Sebuah Taman

Biasanya dari pengalaman kos teman dan yang aku cari sendiri melalui aplikasi, kos lain menawarkan kasur yang tipis dan dibiarkan tergeletak di lantai tanpa dipan atau panggung. Tapi di rumah kos ini tidak. Benar-benar tempat tidur yang nyaman.

Ukuran tempat tidur yang kecil kukira masuk akal karena ukuran kamarnya juga tidak luas. Lebih kecil daripada kamar kos yang di Solo. Jumlah kamar rumah kos ini juga lebih sedikit. Ada delapan kalau tidak salah. Rumah kos ini dua lantai. Tetapi semua kamar yang disewakan untuk kos berada di lantai dua semua. Sementara ibu dan bapak kos berada di lantai bawah. Bentuk bangunan lantai dua ini sebenarnya polos saja, berupa lorong biasa panjang sampai ujung ada dua kamar mandi, tapi disulap dan diberi pembatas berupa dinding partisi. Nggak ada jemuran baju dan dapur. Itu barangkali kurangnya dari rumah kos ini. Karena bukan dari tembok, kadang aku bisa mendengar suara percakapan telepon  perempuan di samping kamarku dengan pacarnya setiap malam. Suara pacarnya di seberang yang dia loudspeaker bahkan bisa kudengar. Aku tidak berniat nguping, tapi memang nyatanya itulah setiap hari yang biasa kudengar sebelum tidur. Bagiku itu bukan kendala yang berarti. Karena selama kos di Gresik aku paling cuma numpang mandi dan tidur. Selebihnya aku sibuk di kantor tempatku kerja dan kalau ada waktu longgar aku sering main ke rumah sepupuku yang jaraknya dekat. Namanya Niken. Usianya di atasku tiga tahun. Dia anak sulung dari saudara bapakku. Seharusnya aku memanggilnya Dek tapi aku lebih nyaman memanggil langsung namanya karena terasa lebih dekat.

Kuliner di Gresik

Dari sepupuku inilah aku dikenalkan dengan kuliner Gresik yang sebelumnya aku belum pernah dengar dan coba. Di antaranya sayur menir. Aku tidak pernah tahu sebelumnya dengan sayur menir ini. Di Gresik banyak sekali yang jual. Harganya juga sangat murah karena hanya sayur dengan isi dedaunan seperti bayam, daun ketela, waluh, pepaya muda dan lainnya. Yang menjadi khas dari sayur ini adalah kekentalannya dan warnanya yang putih keruh yang berasal dari menir yang dilembutkan. Menir sendiri adalah kepingan atau remukan beras yang tidak dipakai untuk nasi karena bentuknya remuk atau terlalu kecil. Sayur menir ini segar sekali rasanya. Cocok dimakan dengan sambal dan lauk seperti dadar jagung, tempe goreng dan lauk rumahan sederhana lainnya.

Baca Juga:  Ruang Renung Pasca Lebaran

Selain itu Niken juga mengenalkanku makanan khas Gresik lainnya yaitu martabak usus. Sebagai penyuka makanan berlemak tinggi, martabak ini langsung menjadi jajanan favoritku. Martabak ini dengan isian usus yang digoreng dengan minyak gajih sapi.

Gresik adalah asalnya nasi krawu. Niken mengajakku ke warung nasi krawu yang tak jauh dari rumahnya. Aku lupa nama warungnya. Tapi itu adalah nasi krawu yang enak sekali. Tidak ada yang bisa menyamai nasi krawu olahan orang Gresik. Dan menurutku yang paling pas adalah nasi krawu di warung dekat rumahnya Niken itu.

Dari semua makanan dan jajan gresik yang pernah dikenalkan Niken, aku sangat obsessed (emotikon mata love wkwk) sekali sama pentol Cak Poponk. Kata Niken pentol ini terkenal sekali. Saat mencobanya aku langsung merasa pentol ini adalah pentol terenak yang pernah kumakan selama ini. Pentol Cak Poponk ini berjualan sore hari di bawah Gardu Suling, tempat bersejarah di Gresik. Tempat jualannya sederhana, hanya didasarkan di bak pikap. Tapi yang datang setiap hari sangat banyak dan selalu ramai. Banyak varian isi pentol yang disediakan, mulai dari gurita, cumi, telur puyuh, bader, kakap, udang, keju, telur kepiting, daging sapi, hati ayam, kerang, otak-otak bandeng, tahu, dan masih banyak lagi isian lainnya. Yang menjadi favoritku jelas isi gajih dan keju. Tekstur pentolnya empuk dan lembut sekali. Saat kukunyah isi gajihnya bisa meletus dan meluber di dalam mulut. Sensasi seperti itu yang nggak bisa aku dapatkan pada pentol manapun sampai sekarang. Untuk minumannya juga ada banyak pilihan, seperti es blewah, es teh, es timun, es susu, es buah dan lain sebagainya. Pokoknya tidak rugi aku nobatkan pentol Cak Poponk sebagai pentol terenak sejawa timur. Aku bukan endorser atau tim marketingnya, tapi aku rela merekomendasikan pentol ini sebagai jujugan wajib bagi siapapun yang datang ke Gresik.

Di Tengah Pandemi COVID-19

Sayang, kesenanganku kulineran di Gresik mendadak harus terhenti karena pada Maret 2020 diberlakukan PSBB. Aku tidak tahu itu apa, tapi itu sepertinya serentak diberlakukan di mana-mana. PSBB itu diberlakukan untuk memutus mata rantai virus corona yang melanda negeri ini kala itu. Di perbatasan Surabaya-Gresik sudah sangat biasa aku menemui pos-pos pemeriksaan plat motor dan kadang sesekali pemotor juga kena semprot cairan disinfektan sembari sedikit diinterogasi oleh petugas dari kepolisian dan tentara, seperti ditanya ada keperluan apa dan mau kemana serta sedikit nasihat agar di rumah saja dan keluar kalau tidak ada yang penting.

Baca Juga:  Olimpiade Aswaja Nasional Prodi PAI Unugiri Diikuti Mahasiswa dari Kampus Lintas Provinsi

Atas dasar itulah aku pindah kos lagi karena aku merasa agak keribetan harus menjelaskan terus menerus ke petugas pengecekan itu mengenai alasanku mau masuk ke Gresik atau ke Surabaya. Sebagai perempuan yang hobi makan, he he.., aku merasa sedih begitu tahu tempat makan, kafe, dan fasilitas publik lain harus tutup. Bahkan kantor-kantor tempat kerjapun juga ikut tutup dan memberlakukan kerja dari rumah. Kosku juga semakin sepi, hanya tinggal aku dan satu orang saja yang kamarnya tepat di sebelah kamarku. Anehnya juga ibu kos tiba-tiba menghilang, hanya menyisakan bapak kos dan anaknya saja di rumah dan itupun jarang. Aku juga tidak tau nomor hape mereka. Pada hari aku memutuskan keluar dari kos aku berinisiatif menulis surat untuk pak kos. Aku menulis ucapan terimakasih, permintaan maaf, dan juga beberapa ulasan ketidaksesuain yang kurasakan selama tinggal di rumah kos itu atau gampangnya sejenis kritikan. Surat itu kutulis tangan pada sesobek kertas di buku binderku dan kuletakan di ruang tamu lantai bawah. Di atas surat itu juga kutaruh sekalian kunci kamarku.

Sebelum melangkahkan kaki untuk pergi kupandangi rumah kos yang lengang itu. Dan aku sadar bahwa aku benar-benar sendirian.

Dengan berat hati sekali aku harus cari tempat kos yang satu kota dengan rumah orang tuaku agar bisa pulang sewaktu-waktu tanpa perlu diperiksa lagi oleh petugas virus.

(Bersambung)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *