ChatGPT Vs Google Bard dan Kita

Di beranda Facebook, saya melihat ada iklan yang menarik. Yakni iklan dari Google yang memperkenalkan Google Bard. Di situ ditulis:

AI 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 The new version will replace 𝗖𝗵𝗮𝘁𝗚𝗣𝗧 in the present and in the future because 𝐁𝐚𝐫𝐝 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥e is a super AI with human thinking, 80 times smarter than 𝗖𝗵𝗮𝘁𝗚𝗣𝗧.
Try it here =>> https://www.aifuture.ink
The setting code is: 999
Note: after trying it out, please take 1 minute to rate this new version. Thank

Iklan ini tentu suatu “tantangan” atau boleh dibilang, sebuah persaingan bisnis di dunia AI atau artificial intelligence atau kecerdasan buatan. ChatGPT dikembangkan oleh OpenAI, sebuah perusahaan di Ohio, Amerika Serikat. Sedang Bard dikembangkan oleh Google yang berpusat di California, Amerika Serikat. Sama-sama AS.

Baca Juga:  Jangan Sedih, Yakinlah Anda Akan Mendapatkan Pekerjaan yang Cocok

OpenAI dan Google sedang berebut menjadi paling cerdas, paling maju bidang teknologi di dunia kecerdasan buatan. Persaingan itu pun bukan tanpa dampak. Konon, Google akan menghapus google search, dan menggantikannya juga dengan mesin AI. Jadi, para pencari informasi yang selama ini mencari di google, mungkin tak lagi perlu mengklik link/url media online atau publisher. Karena langsung akan dijawab oleh mesi. Ya, jadinya mirip ketika menggunakan ChatGPT.

Banyak skenario kemudian bermunculan. Bagimana nasib media online di masa depan? Bagaimana perilaku manusia nantinya dalam mengkonsumsi informasi? Apa filter yang bisa digunakan agar bisa menjamin bahwa informasi yang diperoleh adalah benar, tepat, dan sesuai fakta? Siapa verifikator semuanya?

Baca Juga:  Malapetaka Jaran Goyang & Tragedi Santet 1998

Okelah, itu akan menjadi bahan diskusi dan penelitian para pakar atau semua pihak yang berkepentingan. Tapi bagaimana dengan para konsumen informasi?

Informasi Makin Murah, Tapi Juga Murahan?

Saya tidak tahu cara kerja AI, baik ChatGPT atau Google Bard, apakah juga memverifikasi setiap data yang diperolehnya? Jika memverifikasi bagaimana caranya? Karena contoh sederhana saja, ChatGPT masih sering memberikan infomasi salah saat kita ajak “ngobrol”.

Padahal menggunakan AI yang murah dan cepat, maka konsekuensinya, mencari informasi akan makin mudah dan cepat, secepat kita memberi informasi di dunia digital. Namun, pertanyaannya kemudian, bagaimana nantinya masyarakat yang mudah mengiyakan setiap informasi yang diperoleh, kemudian berada di dunia persaingan mesin AI yang tanpa verifikasi? Betapa banyaknya informasi salah yang akan terus direproduksi, diolah, dikonsumsi. Bagaimana memisahkan informasi benar/salah, terverifikasi/tak terverifikasi, tepat/kurang tepat, ilmiah/non ilmiah, dan seterusnya dan seterusnya. Semua akan blur, akan menjadi samar.

Baca Juga:  Beda Bupati Beda Gaya, dari Dialog Jumat hingga Cangkrukan Bareng Buk’e

Generasi digital adalah generasi sebagai konsumen dan produsen informasi sama-sama mudahnya. Keduanya bisa berjalan beriringan. Berbeda dengan era sebelum internet, produsen informasi terbesar adalah media massa, namun kini semua adalah produsen.

Akan ke mana dunia informasi ini akan berjalan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *