Story  

Cinta Beda Agama, Bagaimana Kita Bersama Meski Tak Sama

Sumber: Pixabay

Cinta bisa datang kapan saja dan di mana saja. Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita ingin jatuh cinta, tak terkecuali dengan orang yang mempunyai keyakinan berbeda. Berbicara tentang cinta beda agama adalah topik yang umum dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia.

Pasangan artis Rio Febrian – Sabria Kono, Ari Sihasale – Nia Zulkarnaen, dan yang terbaru Dimas Anggara – Nadine Chandrawinata, menjalani hubungan beda agama. Meski mereka menikah dengan keyakinan masing-masing, tetapi rumah tangganya berjalan baik-baik saja tuh. Namun, beberapa orang tetap menganggap jalinan kasih antara dua orang yang berbeda agama sangat berisiko.

Lantas, apa yang harus mereka lakukan jika berada pada posisi ini? Haruskah pasangan itu bertahan dengan memegang agama masing-masing serta segala risiko, atau terpaksa mengakhiri hubungannya?

Psikolog dari International Wellbeing Center, Jakarta, Tiara Puspita mengatakan bahwa pada dasarnya hubungan cinta lintas agama memang lebih rumit. Dua insan yang akan menjalani hubungan berbeda keyakinan harus mengerti benar konsekuensi yang akan dihadapi, seperti soal perbedaan nilai, kebudayaan, kemungkinan pertentangan dari lingkungan terdekat, sampai isu perpindahan agama. Ini bisa menjadi tarik ulur yang panjang.

Baca Juga:  Bahagia adalah Makhluk Hidup

“Kita perlu memahami dan mendiskusikan konsekuensi hubungan yang akan dijalani bahkan sebelum memulai hubungan. Tujuannya, saling memahami arah dan ekspektasi kedua belah pihak, terkait perbedaan yang ada,” kata Tiara Puspita.

“Diskusikan secara terbuka mengenai ekspektasi, nilai, kebudayaan yang kalian anut agar satu sama lain lebih mengerti dan memahami. Diskusikan pula bagaimana kalian akan menghadapi reaksi keluarga,” lanjutnya.

Selain berdiskusi dengan pasangan, bicarakan juga dengan lingkungan terdekat dan keluarga. Tujuannya, kamu dan pasangan mampu menemukan solusi terbaik jika ingin melanjutkan hubungan hingga ke jenjang pernikahan. Memang tidak mudah dan besar kemungkinan terjadi pertentangan dari berbagai pihak. Tetapi kamu juga tidak bisa terus-menerus menyembunyikan hubungan ini bukan?

Pasangan sebaiknya jangan menghindari pembicaraan seputar perbedaan keyakinan dan menunda-nunda mencari solusi. Seringkali kita suka berpikir, yang dijalani saat ini, masih masa pacaran, belum tentu juga menikah dengan dia. “Nanti saja memikirkannya. Tapi mau sampai kapan? Jangan berusaha lari dari kenyataan. Cepat atau lambat, perbedaan keyakinan tetap bisa menjadi masalah,” ucap Tiara Puspita.

Baca Juga:  Ledre dan Manisnya Cinta

Menurut dia, lebih baik pahit di awal daripada berakhir dengan perceraian. Dalam hal ini, pasangan harus memahami konsekuensi dan tuntutan keluarga, sehingga arah hubungan menjadi lebih jelas dan memiliki masa depan ketimbang menjalani hubungan tanpa arah. “Ini bisa menjadi bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu,” ujar Tiara.

Akan lebih baik dibicarakan sedini mungkin. Ada beberapa pilihan. Pertama, salah satu mengalah dan mengikuti keyakinan pasangannya. Konsekuensinya, kamu bisa ditentang keluarga habis-habisan, bahkan dikucilkan. Maka pertimbangkan lagi matang-matang, apakah dia benar-benar pilihanmu hingga kamu rela berkorban sedemikian besarnya?

Kedua, memilih tetap berhubungan dan berkomitmen menjalani pernikahan beda agama di masa depan. Jika ini pilihannya, maka setiap pasangan perlu mempertimbangkan lebih jauh bagaimana dengan keyakinan yang akan dianut anak-anak mereka kelak.

Baca Juga:  Sejarah dan Perjalanan Kantor Pos dari Tahun ke Tahun

Faktanya, mayoritas agama yang dianut seseorang biasanya tak lepas dari kontribusi kedua orang tuanya. Jika kedua orang tua tersebut beragama Islam, biasanya anak-anaknya juga akan memeluk agama yang sama. Begitu juga dengan orang tua yang beragama Kristen, Hindhu, Budha, dll.

Lalu bagaimana dengan dua orang tua yang memiliki agama berbeda? Masalah ini harus didiskusikan jauh-jauh hari sebelum pasangan tersebut memiliki seorang anak. Tapi, akan lebih baik jika anak tersebut diberi ajaran terkait agama-agama yang diyakini kedua orang tuanya, kemudian beri dia kebebasan untuk memilih sendiri agama apa yang akan ia anut.

Pilihan ketiga, lebih baik mengakhiri hubungan sebelum beranjak lebih jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *