Gangkecil.com Bertumbuh Menjadi Ruang Berbagi Cerita

0
102

Seberapa cepat media berkembang di era digital?

Tak hanya ‘dipaksa’ mengubah bentuk, media massa (pers) juga harus mengakrabi teknologi yang menggulung waktu penyebaran informasi jadi makin singkat. Sekali kamera gadget diklik, lalu menulis ala lari spring, berita lengkap dengan fotonya sudah tersebar luas. Lalu, media sosial, secepat kilat menyebarkannya secara bersamaan. Ribuan, bahkan jutaan orang akan mengetahui kabar terkini dengan cepat.

Fenomena ini, tentu tak terbayang di benak saya pada 20 tahun lalu. Ketika itu, saya menjadi wartawan di Surabaya. Saya pegang ponsel Nokia 3310, lalu ganti Siemens C45. Kamera masih analog menggunakan film/klise. Siang liputan, sore sekitar pukul 16.00 WIB meluncur ke tukang cetak foto di Kawasan Jalan Basuki Rahmat. Klise perlu dipotong sesuai jumlah jepretan. Menjelang magrib, balik lagi untuk mengambil hasil cetakan.

Lalu, teknologi bergerak cepat. Media online mulai bermunculan. Detik.com, Liputan6.com dan seterusnya. Namun, saya tetap setia berada di jalur koran, menulis hari ini untuk dibaca keesokan harinya. Banyak media koran kemudian bermigrasi ke online, yang tentu mengubah pola pikir, pola kerja, dan pola hidup insan pers. Dan ketika teknologi makin berkembang, media sosial melesat mejadi klangenan baru bagi masyarakat. Cara masyarakat mencari berita pun berubah. Jika biasanya menunjungi laman website media, kini pintu masuknya lewat media sosial. Media pun kemudian punya ketergantungan tinggi pada media sosial.

Di tingkat lokal, media online lokal muncul bak jamur musim hujan. Sulit menghafal satu persatu namanya. Orang makin bebas mendirikan media, pun orang makin bebas memilih membaca media mana. Tak kalah gempita, media sosial mengambil peran lewat algoritma yang ia bikin. Media sosial selalu merekam dan membaca kecenderungan orang. Apa yang dibaca tiap hari, website apa yang dibuka, tema apa yang disukai, barang apa yang sedang dicari, dan seterusnya. ‘Perekaman’ itu kemudian ditindaklanjuti dengan suguhan iklan-iklan yang mendekati apa-apa yang dibutuhkan orang.

Model perusahaan merekrut jurnalis juga mengalami perubahan. Perusahaan biasanya menyaratkan jurnalis tak hanya bisa menulis, tapi juga fotografi, aktif di media sosial, dan sebagainya. Hubungan ketenagakerjaan di dunia media pun banyak mengalami perubahan. Kini, ada tren media nasional bekerjasama dengan media lokal untuk saling ‘tukar berita’ atau media nasional merekrut satu orang untuk memproduksi konten di sebuah daerah. Soal sumber pendapatan perusahaanpun beda jauh. Kini tak cuma dari iklan banner, melainkan juga dari adsense dan sejenisnya.

Lain lagi ihwal jurnalisme. Seiring kebutuhan, jurnalisme menemukan persinggungan-persinggungan bidang lain dan memunculkan nama/penyebutan jurnalisme. Ada jurnalisme investigatif, jurnalisme sastrawi, jurnalisme bencana, jurnalisme narasi, jurnalisme data, jurnalisme pustakawan, jurnalisme ini dan jurnalisme itu.

Lalu bagaimana dunia jurnalisme yang ideal di era kini yang entah anda menyebutnya era apa.

Atas pertanyaan itu, saya lebih suka menjawabnya: ya tidak bagaimana-bagaimana. Lho kok? Begini. Dunia jurnalistik adalah dunia menyebarkan informasi dengan berbagai prasyarat yang menyertainya. Entah itu bernama perusahaan, yayasan, ataupun koperasi yang menaungi pers, jurnalistik akan menjadi dirinya sendiri, lengkap dengan prasyarat-prasyaratnya.

Bukankah media pers sekarang bersaing dengan media sosial? Pada sisi konten dan kecepatan, iya. Bahkan boleh jadi sama. Akan tetapi, pers akan tetap pers dan media sosial akan tetap menjadi media sosial, tak akan bisa ditukar. Boleh jadi ini subyektif saya yang lantaran sudah lama di jurnalistik lalu mengatakan demikian. Tentu anda boleh membantahnya.

Bagi saya, yang membedakan dari semuanya adalah profesionalitas jurnalis dan perusahaan. Dan menjadi professional itu tak bisa (hanya) diukur oleh berlembar-lembar sertifikat, persyaratan perusahaan atau piagam penghargaan. Selain profesionalitas adalah penguasaan teknologi informasi. Karena mau tidak mau, teknologi memiliki peran besar pada peningkatan profesionalitas hingga penyebaran informasi. Profesionalitas itu bergerak terus, sesuatu yang dinamis.

Ketika dalam perjalananya, media saling mengklaim membawa ‘kebenaran’, pun hal itu bukan sesuatu yang baru dan patut digumuni. Adil dan Harian Rakyat sama-sama media massa di masa lampau, dan keduanya saling serang lewat opini-opininya. Sehingga, dari sini, posisi publik (khalayak ramai) sangat menentukan.

Kebutuhan jurnalistik mengasah profesionalitas mencari informasi itu sama pentingnya dengan kebutuhan publik mengasah ‘profesionalitas’ mencerna informasi, menyaringnya dan memutuskan ‘saya harus membacanya’ atau ‘saya harus menontonnya’.

***

Mohon dimaafkan. Padahal, sejak awal, saya hendak menulis tentang gangkecil.com pada tahun 2022 ini. Pengennya menulis tentang bagaimana gangkecil bertumbuh menjadi ruang berbagi cerita. Tapi, begitulah kita (eh saya), ketika hendak berjalan ke kanan, kadang belok ke kiri. Pun demikian sebaliknya.

Gangkecil.com lahir dari upaya merawat tulisan-tulisan yang berserak, mengikat cerita-cerita yang tercecer. Dan sebagaimana media massa pada umumnya, Gangkecil.com juga menyajikan informasi ke pembaca. Menerapkan kerja-kerja jurnalistik untuk peliputan. Namun, tak semua tulisan adalah karya jurnalistik. Karena sebagai ruang berbagi cerita yang sangat terbuka dengan aneka model tulisan. Ada cerpen, ada guyonan, ada tulisan serius bak jurnal, dan lain sebagainya. Yang penting bercerita.

Apakah berarti hasil kerja-kerja jurnalistik di gangkecil berrti jurnalisme bercerita? Entahlah, Anda mungkin bisa membantu saya menjawabnya. Dan bagaimana Gangkecil.com di tahun 2022? Mari berbagi cerita saja.

Salam
Nanang Fahrudin, Founder Gangkecil.com
Email: redaksi@gangkecil.com

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here