Gus Baha: Kiai Substansi, Bukan Figur Seremoni

0
239
Sumber: Youtube Najwa Shihab

Dari konten Lebih Dekat dengan Gus Baha di channel YouTube Najwa Shihab beberapa pekan lalu, terlihat jelas betapa Gus Baha merupakan Kiai substansi, bukan figur seremoni.

Mengingat Gus Baha tentu ingat pokok bahasan. Isi. Inti. Konteks. Substansi. Tidak melebar. Tidak ndobos. Tidak ngolor-ngolor tema. Dan, tentu saja, tanpa sofistifikasi (kerumitan) gaya yang dikonsep demi popularitas nan khas.

Gus Baha wujud dari sosok yang menebar “kesebenaran” sikap. Nyel sederhana. Nyel substansi. Bukan sebuah metode kesederhanaan sikap nan sistematis, demi tujuan tertentu.

Untuk melihat betapa “nyel” dan substansinya sosok Gus Baha, kita bisa melihat sejumlah isi ceramah Gus Baha. Ya, Gus Baha memang sangat menghindari “ngaji umum” dan lebih fokus “ngaji urut”.

Tapi, kalau terpaksa harus ngaji umum, “ngaji umum” pun tetap fokus tema. Substantif. Tidak ngolor-ngolor tema, apalagi sekadar pelebaran konteks alias ndobos. Di sinilah keistimewaan Gus Baha, di mata saya. Terlebih, amat mementingkan sanad keilmuan. Bahkan, guyonnya pun bersanad.

Kita bisa tengok sejumlah ceramah “ngaji umum” Gus Baha. Ngaji umum di sini, sejenis ngaji tamu di sejumlah haul Kiai.

Dalam ngaji umum di Haul Mbah Hamid Pasuruan, Mbah Achmad Shiddiq Jember, Mbah Ali Maksum Krapyak, misalnya, Gus Baha selalu membahas kitab, amalan, atau karya-karya tokoh yang di-Hauli. Tak pernah membahas pemikirannya sendiri.

Dalam ngaji umum di Haul siapapun, Gus Baha selalu mbalah kitab atau membahas sosok yang di-Hauli. Ini yang menurut saya sangat khas dan patut disyukuri atas kehadiran Gus Baha di tengah-tengah kita saat ini.

Kita tahu, selama ini, tiap ngaji haul di tokoh tertentu, penceramah justru meng-Hauli dirinya sendiri. Membahas pemikirannya sendiri. Itu masih lumayan lebih baik sih. Ada yang lebih buruk: ndobos kesana-kemari dan menjauh dari substansi.

Dalam konten Lebih Dekat dengan Gus Baha yang cukup viral tersebut, banyak pemahaman dan ilmu-ilmu yang ditangkap secara dekat dan tidak samar dari Gus Baha. Selain tentang pemikiran-pemikiran Gus Baha, juga tentang Gus Baha itu sendiri.

Gus Baha, secara tegas bilang, komitmen hatinya hanya ingin mengenalkan kalau ajaran Allah itu indah. Solusi. Bahkan Gus Baha tak kepikiran jika ceramahnya viral. Sampai sekarang, beliau tidak tahu kalau ceramah-ceramah itu terkenal.

Keinginan Gus Baha hanya menerangkan hukum Allah. Itu bukan karena Gus Baha ingin dikenal. Tapi agar hukum Allah bisa dikenal dan dipahami masyarakat. Gus Baha, bahkan tak tahu dan tak mau tahu pandangan orang lain terhadap apa yang beliau lakukan.

“Saya nggak punya WA dan nggak mau dengar (komentar orang).” Ucap Gus Baha.

Komentar di atas, tentu sejenis “fosil” di tengah euforia panggung tokoh-tokoh era digital saat ini —- era di mana banyak figur yang, bahkan kesederhanaan sikapnya adalah metode marketing ala humble bragging.

Gus Baha nyel tanpa metode marketing apalagi humble bragging. Gus Baha fokus. Dan sikap fokus itu yang memicu Gus Baha tak terbebani dengan gaya dan ciri khas yang akan mempertahankan popularitasnya. Gus Baha tak butuh itu.

“Mungkin barokahnya baca banyak. Mungkin Pak Quraish lebih tahu saya baca banyak. Saya menghidupkan ilmu Qur’an yang mungkin orang lain nganggap itu nggak penting. Itu tadi, bahwa kebenaran itu dimulai dari diperkenalkan.”

Dalam konten tersebut, kalimat di atas menjadi amat mengena bagi saya. Saya seperti tak bisa lupa bagaimana mimik wajah Gus Baha saat mengucap kalimat tersebut. Kualitas sopan santun dan tawadhuitas personal dan sesekali keluguan khas santri kampung tampak begitu saja.

Selain kesederhanaan sikap, yang saya ingat-ingat dari Gus Baha adalah keberpihakan. Ini sangat keren. Gus Baha selalu berpihak pada minoritas. Pada awam. Pada yang kecil, dan pada netralitas itu sendiri.

Dalam khazanah Gus Baha, keberpihakan selalu ada jalan lain. Ada teropong lain. Ada dekonstruksi pandangan. Dan, tentu saja, ada penjungkirbalikan logika yang amat logis, meski tidak populis.

Untuk masalah keberpihakan, kita tentu tak bisa lupa bagaimana Gus Baha “menghajar” sosok Dubes Indonesia untuk Saudi Arabia dalam haul Mbah Ali Maksum Krapyak.

Secara personal, bagi saya, gojlokan Gus Baha pada Dubes Indonesia untuk Saudi Arabia adalah simbol runtuhnya feodalisme, formalisme, seremonialisme, fashionalisme tampilan oleh substansi dan esensi. Hancurnya kemasan oleh isi.

Dalam konteks chanel Najwa Shihab misalnya, ketika ada pertanyaan tentang bagaimana mengobati rasa kecewa akibat tak jadi berangkat haji, Gus Baha mampu menjelaskan bahwa masyarakat yang pernah dididik Kiai pasti kecewanya tak ekstrem-ekstrem amat.

Sebab, menurut Gus Baha, ada banyak amalan yang sesungguhnya serupa haji. Seperti shalat jumatan ya seperti haji, ingat Allah dari subuh sampai matahari terbit juga menyamai umroh. Dan banyak pahala-pahala yang lebih tinggi dari haji, tapi jarang diketahui.

Tentu saja penjelasan itu amat menentramkan dan membesarkan hati bagi mereka yang ditakdir tak bisa brangkat haji. Gus Baha semacam selalu punya jawaban yang membesarkan hati bagi masyarakat awam.

Bagi saya, keahlian Gus Baha menghibur yang papa, menyemangati yang lalai, dan mendamprat yang ndobos adalah karomah wali di era post truth saat ini.

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here