Hikmah  

Hikmah Jumat: Istiqomah Itu Mudah, Tapi Juga Berat

Sumber: Pixabay

“Istiqomah lebih baik daripada seribu karomah, dan tetapnya karomah itu sebab keberlanjutannya istiqomah.”

***

Demikian kata pepatah Arab. Saking pentingnya istiqomah, istilah ini banyak kita temukan di ayat suci maupun hadits shahih.

Ibn Rajab al-Hanbali, pernah mendefenisikan bahwa istiqomah adalah konsisten menapaki jalan lurus (mustaqim) atau benar dengan menjalankan semua perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Walhasil, kurang tepat jika seorang dari kita mengatakan “saya istiqomah ngrokok merek ini, sampai sekarang tidak pernah ganti merek” karena merokok bukanlah perintah Tuhan. (Hehehe)

Tidak sedikit pula dari kita yang salah mengartikan diksi ‘karomah’ kemudian mengidentikkannya dengan kesaktian atau kemampuan di luar kebiasaan orang. Padahal pada ungkapan pepatah Arab di atas, kita bisa memahami bahwa karomah itu adalah kemuliaan (baik berupa kesaktian atau selainnya). Dan istiqomah itu levelnya mengalahkan seribu kemuliaan, karena memang istiqomah ini berat, tidak sembarang orang mampu melakukannya.

Baca Juga:  Gus Baha: Kiai Substansi, Bukan Figur Seremoni

Oh ya, tulisan ini sebenarnya bermula dari keinginan penulis menjawab pertanyaan dari beberapa kawan, bagaimana caranya istiqomah?.

Untuk menjawab pertnyaan itu, sebenarnya perlu diketahui bahwa cara orang dalam beristiqomah itu bermacam-macam. Tentu semua berdasarkan pengalamannya masing-masing atau berdasarkan pengalaman guru, kyai, atau ajaran ulama-ulama terdahulu.

Cara yang akan dipaparkan dalam tulisan ini tidak mutlak dan bisa jadi tidak sama dengan pengalaman para pembaca.

Guru saya dulu pernah mengajarkan bahwa untuk bisa istiqomah ‘kamu harus janji kepada dirimu sendiri, jika kamu tidak bisa melakukan apa yang selama ini akan kamu istiqomah-i, kamu harus meng-qodlo’i (mengganti) nya di lain waktu, atau kamu tebus dengan sedekah (materi) atau sedekah dengan berbuat baik kepada orang lain. Sehingga kamu akan merasa berat untuk meninggalkan yang kamu istiqomahi lantaran harus menebusnya dengan menggantinya dengan sesuatu’.

Baca Juga:  Selamat Hari Natal

Sekedar ilustrasi saja, jika kita punya rutinitas menulis berbagi kebaikan di hari tertentu kemudian karena kesibukan atau hal lain pada hari tersebut kita tidak bisa menulis pada hari tersebut, maka untuk menjaga keistiqomahan kita kudu menggantinya di lain hari atau menebusnya dengan kebaikan kepada orang lain. Baik berupa materi atau kebaikan non materi.

Tulisan ini akan ditutup dengan ungkapan seorang ahli tarekat bahwa puncak keistiqomahan seorang murid tarekat adalah konsisten berdzikir batin maupun lahir.
Model dari berdzikir (mengingat Tuhan) ini setidaknya ada empat:

(1) berdzikir ketika ta’at dengan merasa bahwa semua kekuatan dan pertolongan untuk beribadah adalah murni dari Tuhan,

(2) berdzikir ketika maksiat dengan cara beristighfar dan bertaubat,

Baca Juga:  Hikmah Jumat: Jangan-jangan Tuhan Sedang Tidak Peduli pada Kita

(3) berdzikir ketika menerima nikmat adalah dengan cara menyukurinya, mentasarufkan pemberian Tuhan di jalan yang benar, terakhir

(4) berdzikir ketika menerima musibah dengan cara bersabar dan terus bersyukur bahwa semua cobaan dan apapun yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik untuk kita dan pasti ada hikmah di balik semuanya. Selamat mencoba kawan.

Allahumma bãrik lana fi Rajab wa Sya’ban, wa ballighna Ramadhan (ya Tuhan, berkahi kita semua di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan (usia) kita di bulan Ramadhan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *