Hikmah Jumat: Selamat Berbuat Baik

Sumber: Pixabay

Mengapa dia kok bisa saleh, baik ritual maupun sosial? Saya kok belum bisa? Mengapa dia bisa berbuat baik? Lha saya kok belum?

Pertnyaan-pertanyaan itu biasanya muncul dalam benak kita, lantaran kita sedang introspeksi terhadap diri, atau bisa dikatakan kita sedang berada pada posisi sedang mawas diri. Lantas, perlukah kita merasa demikian? Sepenting apakah kita harus mawas diri?

Bangga terhadap apa yang telah dicapai atau terhadap apa yang telah dikerjakan tidaklah buruk, dan tentu saja baik adanya. Bahkah bisa jadi dipandang perlu selama tidak menyeret seseorang kepada perasaan bangga terhadap diri sendiri kemudian menganggap dirinya sudah baik, ini yang berbahaya. Mengapa? Karena yang bangga dan merasa dirinya sudah sangat baik seringkali tidak (kurang?) bisa menemukan kekurangan dirinya sendiri.

Baca Juga:  Arumi Bachsin: Perlu Peran Orang Tua Tingkatkan Literasi Anak

Salah satu ulama, Abdullah bin Muawiyah pernah berstatemen dari balik jeruji penjara “pandangan kerelaan akan selalu buta terhadap aib, dan pandangan benci akan selalu menampilkannya”.

Adigium itu tidak hanya berlaku pada pandangan seseorang kepada orang lain, tapi juga untuk pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Walhasil, siapapun yang memandang dirinya sebagai orang baik, sampai dia bangga pada dirinya (arab: ujub) maka akan semakin kecil potensinya untuk menemukan kekurangan dan kesalahannya pada dirinya sendiri. Kebalikannya, dia akan melihat orang selain dirinya tidak sebaik dia.

Baca Juga:  Hikmah Jumat: Kerja Itu Ibadah, Rezeki Itu Jatah

Jika sudah demikian, kemungkinan berikutnya yang terjadi adalah dia akan rela dengan nafsunya yang selalu mengajak untuk durhaka pada Tuhannya.

Ibn Athaillah, penulis buku tasawuf al-Hikam ibn Athaillah menjelaskan bahwa asal dari kedurhakaan, kelalaian pada Tuhan dan cinta dunia itu berawal dari kerelaan seseorang pada hawa nafsunya, dan ketidakrelaan seseorang pada nafsunya adalah sumber setiap ketaatan pada Tuhan.

Banyak ulama-ulama terdahulu mencontohkan dalam urusan mawas diri ini, mereka mencontohkan bahwa sepanjang umurnya selalu melihat dirinya ‘belum baik’ dan ‘masih kurang baik’ sehingga mereka selalu termotivasi oleh pandangan itu untuk terus berbuat baik dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:  Menabung 45 Minggu untuk Sebuah iPhone Idaman

Selamat berbuat baik di hari yang paling baik, kawan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *