Jurtizen dan Keterampilan Mengelola Informasi  

Ketika seseorang ngeshare informasi ke media sosial, apa yang sebenarnya diperlukan? Apakah keterampilan menulis serupa jurnalis atau sastrawan? Apakah harus pandai membedakan antara opini, esai, atau artikel? Sepertinya tidak. Yang dibutuhkan adalah jujur bercerita sesuai fakta. Dan salah satu prasyaratnya adalah bersabar untuk cek ricek.

Keterampilan menulis memang diperlukan oleh siapapun yang gemar berbagi cerita lewat teks. Mirip keterampilan public speaking bagi seorang motivator. Namun, di era ‘saling berbagi informasi’ kini, keterampilan menulis menjadi nomor kesekian. Dikalahkan oleh adu cepat informasi dengan aneka latar belakang dan tujuan masing-masing.

Jika dulu, di era media, informasi dikendalikan oleh pers. Siapapun yang hendak membangun opini publik, harus lewat media.  Namun kini di era media sosial, informasi dikendalikan oleh individu atau masyarakat yang saling berbagi informasi, berkelompok, berpencar, membuat banteng pemisah, dan lainnya. Tak jarang, informasi begitu gaduh dan liar.

Baca Juga:  Noah dan Cerita-cerita dari Lagu Bintang di Surga

Nah, ketika semua orang kini berperan penting dalam dunia tukar menukar informasi, maka perlu ada keterampilan dasar dalam proses mencari dan menyebarkan informasi. Dan untuk mempermudah, keterampilan dasar ini bias mengadopsi keterampilan dasar jurnalistik. Ada prinsip-prinsip dasar jurnalistik yang ‘wajib’ dimiliki oleh semua orang di era digital kini. Dan inilah titik temu betapa pentingnya jurnalisme bagi warga media sosial.

Konten Adalah Kita  

Jurnalisme Netizen (untuk kemudian disingkat Jurtizen) memang belum begitu akrab di telinga publik. Namun, istilah ini sebenarnya bukanlah hal baru. Lantaran sudah lama dikenal istilah Citizen Journalism atau jurnalisme citizen. Secara sederhana, citizen bermakna warga negara. Sehingga jurnalisme citizen adalah jurnalisme warga. Yakni warga negara aktif berperan melakukan tugas-tugas jurnalistik, seperti mengumpulkan dan membagikan informasi kepada publik.

Baca Juga:  Bulan Puasa Bulan Konsumtif

Jurnalisme Netizen bukanlah rumusan baru, melainkan fenomena yang tak terelakkan seiring berkembangnya dunia digital.

Sesuai khittahnya, jurnalisme adalah dunia milik jurnalis atau wartawan. Atau lebih luasnya, adalah dunia milik insan pers. Namun, di era digital kini, kegiatan jurnalistik tentu bukan hanya monopoli kelompok profesi tertentu. Ketika media sosial memberi ruang seluas-luasnya bagi semua orang untuk menyebarkan informasi, maka pengelolaan informasi bukan lagi di tangan jurnalis atau pers. Oleh karena itu, kegiatan jurnalistik perlu dimiliki oleh semua orang pula.

Boleh jadi, warga internet atau yang kini dikenal dengan netizen setiap hari membagikan informasi ke publik. Sehingga dia juga ‘berperan’ menyiarkan informasi sebagaimana lembaga pers. Netizen membikin dan mengelola informasi yang disebut sebagai konten. Sedang jurnalis mengelola informasi yang disebut berita.

Baca Juga:  Doa di Sore Hari Lengkap, Ibadah Makin Berkah

Meski di hadapan hukum, produk keduanya beda. Namun bisa jadi keduanya punya cara-cara yang hampir mirip. Sehingga tak ada kelirunya jika netizen memerlukan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik, etika jurnalistik, dan segala hal tentang jurnalistik. Pada sisi lain, insan pers harus menghadapi tantangan baru, yakni ‘bersaing’ dengan konten yang diproduksi oleh netizen dengan jumlah yang cukup banyak. Bahkan jumlahnya tak terhitung.

Kita bisa mengandaikan ketika konten dibikin dengan tetap memegang teguh prinsip jurnalistik, menapaki jalan jurnalisme, dan mengikuti etika jurnalistik, hasilnya bisa saja akan lebih bagus dari produk jurnalistik seorang jurnalis. Jurtizen boleh dibilang wajah baru dari jurnalisme warga yang berbasis internet.

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *