Story  

Kabar dari Mahasiswa KKN UNUGIRI Bojonegoro, Bentuk Tim Kenanga Bagi Ibu-ibu PKK

Ketahuilah olehmu, setiap yang namanya ilmu. Tidak kecuali sejarah. Harus siap dan rela diuji serta dipertanyakan benar atau tidaknya. Jangan kamu telan begitu saja seperti sebutir kacang. Ragu-ragu itu suatu langkah yang mesti ditempuh, jika kita mau sampai ke keyakinan yang tak tergoncangkan (H. Mahbub Djunaidi).

***

Malam itu ponsel saya bunyi. Ada notifikasi whatsapp. Terdengar kabar dari salah satu adik tingkat kampus. Dia adalah seorang gadis berkacamata berusia 21 tahun. Ia semester 7 yang sebentar lagi memasuki level akhir perkuliahan di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro.

Namanya Yulya Iswati. Dia mengabarkan bahwa dirinya sedang melaksanakan tugas semester akhir KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sempat merasakan kebingungan pada saat pertama menjalankan tugas KKN, apalagi dia ditunjuk sebagai kordes (Kordinator Desa). Seorang ketua yang memimpin jalannya kegiatan KKN di wilayah desa yang ditempati. Ya wajar saja, kebingungan itu datang sebab ini pengalaman baru bagi dia. Nanti kalau sudah terbiasa kebingungannya juga akan hilang dengan sendirinya. Toh saat ini, dia juga menjadi seorang pemimpin salah satu organisasi tingkat kecamatan.

Dia mengabarkan sedang KKN di desa Mojorejo kecamatan Kedungadem. Kedungadem merupakan kecamatan ujung timur yang langsung perbatasan dengan kecamatan Sukorame kabupaten Lamongan.

Dia lalu mengabarkan kelompok KKN yang di pimpinnya berjumlah 12 orang, terdiri dari 2 laki-laki dan 10 perempuan. Anggotanya terdiri dari beberapa jurusan, yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI) 5 orang, Statistika 2 orang, Hukum Ekonomi Syariah (HES) 2 orang, Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) 1 orang, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) 1 orang, dan Farmasi 1 orang. “Wah formasinya lengkap ini Yul, sebab terdiri dari 3 jenis fakultas. Mulai dari 2 fakultas keagamaan (tarbiyah dan syari’ah), 1 fakultas umum (keguruan dan ilmu pendidikan), 2 fakultas eksakta (Ilmu kesehatan dan SainTek)” saya mencoba menjelaskan.

Baca Juga:  Sepenggal Cerita Hidup dari Dusun di Lereng Pegunungan Kendeng

Tema umum KKN UNUGIRI kali ini mengambil tema “Pencegahan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi”.

Dia pun mencoba mengajak kelompoknya untuk berdiskusi dalam menetapkan program kerja. “Cobalah metode penelitian dan pengembangan diterapkan, kamu bisa pilih salah satu dari metode PAR (Participatory Action Research) atau ABCD (Asset Based Community Development), kemudian didukung dengan menggunakan metode analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats)” salah satu obrolan kami saat berdiskusi lewat chat WA.

Selang beberapa minggu kemudian dia mengabarkan kembali, “Program unggulan kami ada 3 kom, bawang goreng kenanga, moringatea (teh daun kelor), Hand sanitizer alami (tapi yang satu ini masih menjadi pertimbangan kelompok kami)” chat WA dari dia.

Mojorejo merupakan desa yang hampir 100% penduduknya berprofesi sebagai petani. Melihat aset terbesar desa yaitu bawang merah, sehingga kami mengolah bawang merah menjadi bawang goreng dengan nama (kenanga). Nama Kenanga ini merupakan ciri khas dari desa Mojorejo.

Kemudian tiba saatnya launching produk unggulan, kali ini kelompoknya melaunching produk unggulan bawang goreng kenanga dan moringa tea (teh daun kelor). Acara launching dilaksanakan dengan menggandeng Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Bojonegoro (Budiyanto, S.Pd) serta anggota DPRD komisi B Bojonegoro (Choirul anam, S.Th. MM) sebagai narasumbernya.

Baca Juga:  Mahasiswa UNUGIRI Gelar KKN "Sinergi Kampus dalam Akselerasi Pembangunan Desa"

Saat di sela-sela acara berlangsung kelompoknya mendapat apresiasi dari kedua narasumber.

“Narasumber memberikan apresiasi karya KKN Unugiri karena mampu menjadikan bawang goreng sebagai produk ekonomi. Padahal ketika harga anjlok, bawang merah hanya dibiarkan sampai busuk. Tetapi kali ini menjadi olahan yang memiliki nilai jual tinggi. Selain itu kelompok KKN Unugiri juga mampu mengolah daun kelor yang awalnya hanya dimanfaatkan sebagai sayur oleh masyarakat namun kini bisa dijadikan produk yang memiliki nilai jual, yaitu moringa tea,” dia menceritakan melalui chat WA.

“Kurang lebih selama 3 minggu kita menyiapkan produk unggulan dengan melalui beberapa kali uji coba dan sering kali gagal, bahkan sempat merasa kurang PD dengan masyarakat (sempat dibandingkan dengan KKN yang dulu) karena program kita yang berbeda. Sampai akhirnya bisa melaunching produk unggulan dan menggandeng dinas terkait serta anggota DPRD,” dia melanjutkan ceritanya.

Terkadang memang benar, bahwa keberhasilan harus berhadapan dengan kegagalan bekali-kali terlebih dahulu.
Selain itu kelompok tersebut juga berhasil membentuk “Tim Kenanga”, yang akan melanjutkan produksi bawang goreng kenanga.

Tim kenanga terdiri dari kelompok ibu-ibu PKK desa setempat dan siap menjadi promotor utama pemulihan ekonomi di desa Mojorejo.

Selain program unggulan, kelompok KKN ini juga memiliki program pendukung atau tambahan, seperti halnya :
1. Bidang pendidikan meliputi; pendampingan di sekolahan terdekat dan membuka bimbingan belajar gratis untuk anak-anak desa Mojorejo.
2. Bidang keagamaan meliputi; pendampingan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), rutinan tahlil bersama masyarakat setempat.
3. Bidang sosial meliputi; rantang kasih bersama ibu PKK, serta kegiatan menyapa warga di sawah dengan membantu masyarakat di sawah, dan menanam pohon bersama masyarakat.
4. Bidang kesehatan meliputi; Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) Lansia (Lanjut Usia) dan balita, serta melamun pencegahan covid 19.
5. Bidang teknologi meliputi; pelatihan desain grafis dan pelatihan membuat video pendek kreatif, sebagai media pemasaran produk.
6. Bidang ekonomi meliputi; pelatihan ekonomi kreatif “tim kenanga” dalam produksi bawang goreng kenanga dan moringa tea.

Baca Juga:  Sang Desainer Grafis Sejati

Hingga akhirnya kurang lebih seminggu lagi, mahasiswa KKN UNUGIRI harus berpisah dengan masyarakat desa Mojorejo. “Kami berharap setelah meninggalkan desa ini, semoga kegiatan yang kami ciptakan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. serta nantinya masyarakat desa setempat bisa melanjutkan program kami secara mandiri”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *