Kehabisan Bensin di Tengah Jalan

0
1450

Apakah anda pernah bepergian dengan motor dan kehabisan bensin di tengah jalan? Mungkin sekali anda pernah mengalaminya. Tapi lain cerita jika hal itu dialami oleh Mukicoi, teman saya yang super unik ini. Karena saat kejadian apes itu Mukicoi nggak membawa uang sepeserpun. Nah, kira-kira kalau itu anda yang mengalami, apa yang hendak anda lakukan?

Apakah akan menuntun motor sampai rumah? Atau menghubungi keluarga untuk dijemput?Mana pilihan anda? Karena Mukicoi mempunyai jawaban sendiri.

Suatu ketika, menjelang minggu terakhir bulan puasa, Mukicoi kehabisan bensin di tengah jalan. Kebetulan saat itu dia tidak membawa uang untuk membeli bensin. Kemudian dia mendatangi sebuah toko penjual bensin.

“Maaf pak, saya kehabisan bensin dan saya tidak membawa uang. Bolehkah saya menghutang? Nanti sesampai dirumah saya akan balik sini untuk membayarnya,” kata Mukicoi memelas.

“Maaf mas, tidak bisa,” jawab penjual bensin. Mungkin melihat muka Mukicoi timbul rasa ragu.

“Tapi kalau mas mau meninggalkan STNK sebagai jaminan bolehlah,” kata penjual menambahkan.

“Saya tidak bawa STNK pak, gimana kalau HP saya sebagai jaminan,” kata Mukicoi.

Setelah mengeluarkan kartu dari ponsel, Mukicoi menyerahkannya ke penjual sebagai jaminan satu liter bensin. Masalahnya kemudian, Mukicoi tidak segera kembali ke penjual bensin. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, Mukicoi nggak datang-datang.

Dan pada sebuah siang, Mukicoi tiba muncul di kios bensin itu.

“Maaf pak, saya yang dulu yang menjaminkan HP saya dengan bensin,” kata Mukicoi sopan.

Si penjual bensin agak kebingungan. Dia lalu menjawab “Maaf mas, hape nya sudah saya jual, lama sekali sih pean kesininya. Saya kira sudah nggak akan ke sini,” kata penjual bensin.

Mukicoi bingung. Itu hape satu-satunya harta miliknya. Dengan muka memelas ia  meminta kepada penjual bensin untuk mengupayakan hape nya bisa kembali. Wajah melas Mukicoi akhirnya menggerakkan hati si penjual bensin. Mukicoi kemudian diajak ke pembeli hape yang masih kerabatnya. Syaratnya Mukicoi tidak boleh memaksa apabila si pembeli tidak mau mengembalikan. Setelah berlama-lama ngobrol, akhirnya si pembeli berkenan mengembalikan hape tersebut. Mukicoi sangat bersyukur.

***

Kehabisan bensin ternyata sudah sangat sering dialami Mukicoi. Jika tak ada hape, STNK yang dijaminkan. Jika tidak ada semua, maka dua spion bolehlah ditukar dengan seliter bensin.

Hingga pada suatu ketika, Mukidin, teman Mukicoi kebingungan mencari STNK. Seingatnya, STNK selalu ditaruh di jok motor. “Ini pasti ulah Mukicoi, siapa lagi”, kata Mukidin dalam hati menahan marah. Karena beberapa hari lalu, Mukicoi meminjam motornya.

“Coi, kamu menjaminkan STNK ku ya?” tanya Mukidin dengan nada tinggi. Mukidin sudah tahu kebiasaan Mukucoi.

“Lihat nih, aku kena tilang,” kata Mukidin masih dengan nada tinggi. Teman-teman yang kebetulan berkumpul mulai menahan tawa.

“Iya mungkin, tapi di mana ya,” jawab Mukicoi polos. Anda pasti tahu kan, bahwa Mukicoi ini pelupa stadium akut.

Tertawa teman-teman semakin meledak, Mukidin pun ikut tertawa mendengar jawaban Mukicoi. Dia mau marah, tapi jawaban Mukicoi absurd banget.

“Wah kacau…pokonya kamu harus bertanggungjawab,” kata Mukidin mencoba serius.

Mukicoi ingat ia pernah menjaminkan STNK motor Mukidin. Tapi ia benar-benar lupa kepada penjual bensin mana ya.

Karena tak ada jalan lain, maka Mukidin mengajak Mukicoi untuk mendatangi satu persatu penjual bensin eceran. Mereka menanyakan apakah pernah ada STNK yang dijaminkan untuk seliter bensin.

Dari puluhan toko yang didatangi, tak satupun penjual bensin yang merasa telah menerima STNK, atau mungkin salah satu dari mereka tidak ada yang mengaku. Dan hingga kisah ini ditulis, STNK tersebut belum ditemukan.

Karena penasaran, Mukidin sesekali masih menanyakan ketika dia membeli bensin di toko bensin di Kota Kediri perihal keberadaan STNK tersebut. Dia masih berharap suatu saat nanti STNK itu ditemukan. Walaupun sebenarnya dia sudah mendapatkan STNK baru setelah dia mengurusnya di kepolisian dengan biayanya sendiri karena mustahil meminta ganti dari Mukicoi.  Oalah Coi.. Mukicoi.

__________

*) Penulis suka melamun dan kini tinggal di Kota Kediri.

SHARE
Penulis menerbitkan buku Urip Mung Nderek Ngguyu, Menabur Tawa Menuai Bahagia (2019). Alumni Ponpes Attanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro. Kini Tinggal di Kediri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here