Kenapa di HJB Ke-341 Tidak Ada Pameran Buku?

Memang tidak ada keharusan Pemkab Bojonegoro untuk menggelar pameran buku dalam rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-341 tahun ini. Toh pada tahun sebelumnya juga tidak ada acara pameran buku dalam rangkaian acara HJB. Tapi tak ada salahnya bertanya, kenapa di HJB ke-341 ini tidak ada pameran buku?

Pameran buku yang saya maksud di sini bukan bermakna sempit pameran buku untuk bisnis saja, tapi juga bisa saling bertukar buku (barter), mempertemukan para pegiat literasi, dan sebagainya.

Ada beberapa alasan kenapa HJB perlu menghadirkan buku ke ruang publik.

Mendorong Minat Baca Buku

Ada dua perspektif soal minat baca masyarakat rendah. Pertama karena bahan bacaan minim dan kedua karena memang masyarakat malas membaca. Tapi kita tidak perlu berdebat soal itu. Yang pasti mendekatkan buku ke masyarakat adalah hal mendesak yang perlu dilakukan. Dan itu, salah satunya, harus dilakukan oleh Pemkab. Menyediakan bahan bacaan lewat perpustakaan daerah tentu tidak cukup.

Baca Juga:  Bupati Bojonegoro Perempuan Pertama dalam Sejarah

Pemkab Bojonegoro bisa menggandeng toko buku di Bojonegoro, penerbit, komunitas baca, dan lainnya untuk ikut memeriahkan acara pameran buku. Hal ini bisa menjadi salah satu cara Pemkab mendekatkan buku ke masyarakat. Saya yakin toko buku akan berkenan memberi diskon untuk memeriahkan HJB.

Mempertemukan Pegiat Literasi

Di Kabupaten Bojonegoro banyak sekali pegiat literasi. Mereka berada berada di lembaga pendidikan macam kampus atau sekolah, juga di tengah masyarakat dalam bentuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta komunitas-komunitas yang konsen di dunia buku.

Nah, pameran buku bisa menjadi “lebaran” bagi para pegiat literasi untuk bersua dengan buku. Apalagi jika mereka dilibatkan dalam bentuk stan-stan yang menampilkan karya-karya mereka, atau buku-buku favorit mereka.

Baca Juga:  Klipingan: Belajar Filsafat kepada Tukang Becak

Membangun Image

Ini menjadi penting bagi Pemkab sendiri, yakni membangun image bahwa pemkab Bojonegoro memang peduli buku. Hal ini mempunyai dampak besar bagi Bojonegoro di masa depan. Karena buku adalah salah satu media di mana gagasan dan ilmu pengetahuan disebar ke publik. Dan Bojonegoro perlu menjadi daerah yang siap beradu gagasan.

Sejak dulu, saya dan teman-teman ngopi berkampanye tentang Bojonegoro yang harus siap bertarung gagasan di era mengglobal ini. Bojonegoro harus dikenal tidak hanya lewat banjir dan minyak, tapi juga lewat buku-bukunya.

Dan Alasan-alasan lainnya

Tentu saja banyak sekali alasan kenapa HJB perlu menghadirkan buku ke ruang publik. Soal bentuk acara terserah Pemkab saja. Namun pada intinya buku harus selalu dirayakan oleh masyarakat Bojonegoro. Dan pemkab bisa menjadi penggerak efektif di ranah ini. Karena jangan sampai, pemkab terkesan tak mempedulikan dunia buku dan pegiat literasi.

Baca Juga:  Beasiswa Bojonegoro untuk Diploma, S1 dan S2 Tahun 2021 Dibuka, Ini Syarat dan Tata Caranya

Dan usulan kecil macam begini dari rakyat biasa, tentu bukan sesuatu yang besar bagi pemkab untuk direalisasikan. HJB ke-342 pasti ada. Saya yakin itu.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *