Kerja Antropologi dalam Penulisan Sastra

Sumber: i.pinimg.com

Adakah persamaan sastrawan dengan antropolog? Tentu ada. Keduanya sama-sama mengamati kebudayaan masyarakat, menafsirkannya, memaknainya, lalu menyajikannya dalam sebuah tulisan (laporan). Keduanya sama-sama berhadapan dengan masyarakat. Tentu dengan caranya masing-masing.

Banyak karya seorang antropolog yang ditulis dengan bahasa luwes, tidak kaku, layaknya membaca sebuah kisah. Ketika kita membaca Abangan, Santri, Priyayi karya Clifford Geertz kita seperti bukan sedang berhadapan dengan laporan ilmiah, tetapi sedang menelusuri kisah tentang masyarakat Jawa. Banyak hasil wawancara tokoh dihadirkan untuk memperkuat analisa.

Lalu ketika kita membaca Isinga, sebuah roman berlatar kebudayaan masyarakat Papua, banyak informasi yang bisa diperoleh dari karya yang ditulis oleh Dorothea Rosa Herliany ini. Kita pun boleh berpikir bahwa apa yang disampaikan Dorothea adalah hasil studi antropologi. Di roman itu, masyarakat Papua tergambar dengan sangat detail melalui tokoh-tokohnya. Yakni tentang perempuan-perempuan Papua, perubahan sosial akibat masuknya kebudayaan asing, serta konflik masyarakat lokal dan pendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *