Story  

Kiri, Kiri, Kiri

foto: clipart-library.com

Ideologi dunia mengalami pasang surut mengiringi dinamika zaman. Variasinya juga bermacam ragam. Baik di negara maju maupun di kawasan negara ketiga, seperti di nusantara raya Tanah Air kita ini.

Benturan kecil hingga menjadi penyulut pertikaian yang mengorbankan banyak nyawa, juga sering tak terhindarkan. Tentu hal itu patut kita sesali.

Pada akhirnya, muncul istilah ekstrem kanan atau fundamentalisme agama. Juga ekstrem kiri yang kerap diindektikkan dengan sosialisme, bahkan juga komunisme.

Baca Juga:  Proses Pilkada di Planet-Planet Selain Bumi

Kelompok moderat pun sibuk menjaga bandul penyeimbang. Khususnya di negeri Pancasila tercinta ini. Seluruh penggenggam idelogi tertentu terus melakukan kaderisasi dan konsulidasi untuk bertahan hidup di alam pikiran manusia yang makin bebas. Tentu agar tidak punah dan dapat terus memperjuangkan cita cita luhur yang mereka yakini.

Bulan kemerdekaan bangsa kita, melalui perayaan yang biasa disebut dengan Agustusan juga menjadi momentum yang sayang untuk dilewatkan. Seluruh kalangan gegap gempita. Tak terkecuali para pelajar.

Baca Juga:  Bodjonegoro Tanah Milik Rakjat Jelata

Ideologi mana yang dominan di momen Agustusan? Seorang teman menyebut bukan kanan. Juga bukan tengah, tapi kiri. Kok bisa?

“Lihat saja orang yang ikut gerak jalan itu. Semua bilang kiri, kiri. Jarang yang kanan, kanan. Apalagi tengah, tidak ada,” jawabnya dengan muka datar, sambil menyeruput kopi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *