Kisah Dinasti Prabu Tawang Alun dan Kerajaan Macan Putih di Blambangan

Situs Macan Putih/Sumber geoparkijen.jatimprov

Bumi Blambangan selalu menarik. Sejarah panjangnya membentang. Sebelumnya telah diulas sejarah sejak era Majapahit hingga Mataram. Nah, kini, izinkan saya membentang sejarah Blambangan di masa Kerajaan Macan Putih. Bagaimana Prabu Tawang Alun mendirikan Macan Putih, hingga masa ketika Macan Putih memilih bersekutu dengan Bali dan dalam perjalanannya berada di bawah kekuasaan Bali.

Kisah ini, tetap saya dasarkan pada sebuah buku berjudul Kisah Perjuangan Menegakkan Kerajaan Blambangan yang ditulis oleh Sri Adi Oetomo dan direrbitkan Sinar Wijaya tahun 1987. Buku ini dipengantari oleh Kepala Kantor Depdikbud Banyuwangi Soekmono. Jika Anda memiliki literatur lain, bolehlah dishare di sini, untuk melengkapi data-data yang ada.

BACA JUGA: Sejarah Singkat Blambangan dan Gejolak Perang di Era Majapahit hingga Mataram

Baiklah, saya mulai saja.

Tahun 1678-1685, Blambangan diperintah oleh Mas Kembar dengan gelar Prabu Mas Tanpa Una. Mas Kembar ini juga dikenal dengan gelar Pangeran Kedawung. Pasalnya, raja ini memindahkan pusat pemerintahannya ke Kedawung. Bekas kerajaan ini berupa gumuk atau bukit kecil yang ditumbuhi pepohonan di Dukuh Kedawung, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi.

Pada masa bersamaan, Mataram diperintah oleh Susuhunan Amangkurat I. Sunan Mataram ini tak begitu berambisi menaklukkan Blambangan. Penyerangan hanya sekali dilakukan dengan pasukan yang dipimpin Tumenggung Wiraguna. Namun, serangan itu gagal.

Di sisi lain, Blambangan terus besar. Kerajaan makin maju. Rakyat pun sejahtera. Pangeran Kedawung memiliki lima putra, Pangewan Tawang Alun yang menjadi putra mahkota, Mas Wila, Mas Ayu Tunjung Sekar, Mas Ayu Meloka, Mas Ayu Gringsing Retna. Di bawah Pangeran Kedawung, Blambangan terus melakukan kerjasama dengan Kerajaan Bali.

Pada tahun 1685, Pangeran Kedawung meninggal. Penggantinya adalah Pangeran Tawang Alun. Sedang adiknya, Mas Wila menjadi patih. Pergantian pimpinan ini lah mulai muncul benih-benih perseteruan, yakni antara raja dan patih. Antara Tawang Alun dan Mas Wila. Sedang di sisi lain, Kompeni berusaha mengadu domba. Perselisihan itupun dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Belanda.

Namun, Pangeran Tawang Alun yang sejak kecil memang sudah tampak sangat bijaksana, menghindari perang saudara. Ia pun suka rela menyerahkan kekuasaannya ke Mas Wila. Sehingga, tercatat Tawang Alun memimpin kerajaannya mulai 1685-1686. Akan tetapi, Tawang Alun mengajukan syarat agar memberikan 40 orang pengikut untuk menuju ke Wana Bayu. Di sana, Tawang Alun Bersama pengikutnya hendak membuka hutan dan membangun pedesaan.

Mas Wila sendiri kemudian bergelar Pangeran Prabu Mas Wilabrata dan memimpin tahun 1686-1687. Sang Prabu tak segan-segan menyingkirkan orang-orang yang tak disukainya, atau dianggap pendukung Tawang Alun. Di lain pihak, Tawang Alun terus membangun desanya. Dan tak lama, desanya cukup ramai, dan penduduk Wana Bayu terus meningkat. Bangunan didirikan, jembatan dibangun, pertanian digarap. Rakyatpun tetap mengganggap Tawang Alun sebagai raja. Sedang di sisi lain, di Kedawung, kesejahteraan merosot, warganya banyak pindah ke Bayu.

Baca Juga:  Petungan: Sistem Ukuran dalam Arsitektur Jawa

Melihat perkembangan itu, Prabu Wilabrata pun marah dan menyerang Wana Bayu. Perang saudara pun tak terelakkan. Perang sengit berlangsung. Bahkan, Prabu Wilabrata pun meninggal dalam peperangan. Dan setelah perang usai, Tawang Alun sangat menyesal. Dua adiknya meninggal, yakni Mas Wila (Prabu Wilabrata) dan Mas Ayu Tunjung Sekar. Dan satu keponakannya pun meninggal, yakni Mas Wilateruna, anak dari Mas Wila.

Kedawung kemudian diserahkan kepada adiknya Mas Ayu Meloka. Dan Mas Ayu Gringsing Retna menjadi patih. Tawang Alun sendiri tetap memilih tinggal di Bayu. Rakyat Bayu menginginkan Tawang Alun menjadi raja. Dan untuk memenuhi keinginan rakyat Bayu, Tawang Alun pun bersemedi di hutan Kabekten, di lereng gunung Raung.

Pada suatu malam, Tawang Alun mendapat wangsit bahwa dirinya akan menjadi seorang raja besar. Dan untuk mendirikan kerajaan baru, ia harus berjalan kea rah tenggara. Suara gaib itupun dijalankannya. Tiba-tiba, ia bertemu dengan seekor harimau putih sebesar kuda. Tawang Alun pun kaget dan hendak menghindarinya. Tapi, anehnya didengarnya suara gaib:

“Hai cucuku, kau jangan takut. Naiklah ke punggung harimau itu. Karena ia akan memberi bantuan kepadamu guna menunjukkan tempat membangun istana baru”. Tawang Alun pun mengikuti perintah itu, dan harimau berjalan ke sebuah tempat Bernama hutan Sudyamara. Di sini harimau itu menghilang. Tawang Alun sendirian. Ia pun yakin, di tempat itulah kerajaan baru harus dibangun. Dan tahun 1687 kerajaan selesai dibangun dan diberi nama kerajaan Macan Putih. Tawang Alun berkuasa hingga 1691.

Di bawah kekuasaan Tawang Alun, Macan Putih mencapai puncak keemasan. Pada masa itu, muncullah Mas Bagus Wangsakraiya yang dikenal sebagai penasehat raja dan sekaligus guru Prabu Tawang Alun.  Siapa Mas Bagus Wangsakraiya? Tak ada data yang jelas. Termasuk dari mana asal usulnya. Hanya cerita-cerita rakyat Banyuwangi menyebut Mas Bagus Wangsakraiya berasal dari Cina.

Tawang Alun dengan permaisuri Dewi Sumekar memiliki 4 anak. Mas Macan Apura, Mas Sasranegara, Mas Gajah Binarong, Mas Kertanegara. Dengan seorang selir memiliki 7 anak, Mas Dalem Wilalodra, Mas Dalem Wilosastro, Mas Dalem Wilokromo, Mas Dalem Wirioatmojo, Mas Dalem Wiroguno, Mas Dalem Wiroyudo, Mas Dalem Wirojoyo (Wirorejeki).

Baca Juga:  Bahagia adalah Makhluk Hidup

Pada suatu masa, Prabu Tawang Alun dan beberapa putra serta pengiring melawat ke Mataram. Maksudnya adalah silaturahim. Tapi, entah kenapa ada perselisihan antara pengawal Mataram dengan pengawal Macan Putih. Pangeran Kadilangu dengan kekuatan gaib dibunuh oleh Mas Bagus Wangsakraiya. Untuk menghindari perang besar, Tawang Alun Kembali ke Macan Putih. Dan sejak saat itu diputuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Mataram.

Pada tahun 1691 Prabu Tawang Alun meninggal dan konon jenazahnya dimakamkan di Pelecutan. Sepeninggal sang prabu, terjadi pertentangan di keluarga istana. Semua saling mencurigai. Kompeni pun masuk mengadu domba. Apalagi setelah Patih Sasranegara mengangkat dirinya sendiri menjadi raja. Kakaknya, Mas Macan Apura sangat menentangnya. Prabu Sasranegara berkuasa tahun 1691-1698 dengan permaisuri Mas Ayu Gading dari Pasuruan. Prabu Sasranegara menurunkan putra Mas Ayu Surabaya dan Mas Purba.

Sementara Mas Macan Apura terus merongrong kekuasaan Prabu Sasranegara. Bahkan, akibatnya sang raja sangat sedih hingga mengguncang kejiwaannya. Ia menderita penyakit saraf pada ingatan atau setengah gila. Meski demikian ia sangat sakti. Kemudian yang terjadi adalah perang saudara. Pasukan Mas Macan Apura terus mendesak pasukan kerajaan. Sang raja mengamuk. Darah membanjiri Macan Putih. Sang raja tak bisa mati, meski sudah terkepung dan banyak luka.

SIMAK VERSI YOUTUBE:

Panembahan Wangsakariya atau Mas Bagus Wangsakraiya pun tak tega melihat penderitaan Prabu Sasranegara. Dan memerintahkan menusuk sang raja dengan tombak pusaka Kyai Baru Klitik. Karena jika tidak dengan pusaka itu, maka sang prabu tak akan bisa mati.

Setelah itu, kakaknya, Mas Macan Apura pun naik tahta dan bergelar Pangeran Adipati Mas Macan Apura dan berkuasa tahun 1698-1701. Untuk menghindari perang saudara berlarut-larut, putri Prabu Sasranegara yaitu Mas Ayu Surabaya dijadikan permaisuri raja. Pada tahun 1701, Mas Purba menggantikan Prabu Mas Macan Apura. Pada saat itu, Mas Purba yang bergelar Prabu Danurejo baru berusia 8 tahun, sehingga musyawarah menetapkan Mas Ngabei Sutanaga menjadi patih sekaligus penasehat raja. Lalu, pusat kerajaan dipindahkan ke Wijenan. Konon Wijenan terletak di Kecamatan Singajuruh, Banyuwangi.

Panembahan Wangsakariya lantaran sudah lanjut usia memohon untuk mengundurkan diri dan bersemedi. Konon tempat peristirahatannya di Desa Cungking, di bawah pepohonan rindang. Cungking berada di Kelurahan Majapanggung, Kecamatan Giri.

Pangeran Danurejo sendiri berada di Wijenan pada tahun 1701-1708. Sang prabu memiliki putra 5 orang, yakni Mas Ayu Ganuh, Mas Nuweng, Mas Ayu Pendawa Jaya, Mas Ayu Topati, Mas Sirnadariya. Prabu Danurejo berhasil menyatukan wilayah kekuasaan di Blambangan setelah kurang lebih berkuasa 36 tahun, yaitu hingga tahun 1736.  Kekuasaan kemudian beralih ke Mas Nuweng dan bergelar Prabu Danuningrat.

Baca Juga:  Perburuan Renten Pembangunan Infrastruktur Indonesia

Oh ya, sejak Prabu Danurejo, Macan Putih sangat dekat dengan Bali. Bahkan, pengangkatan Prabu Danuningrat harus mendapat persetujuan Bali. Dan diputuskan adiknya menjadi patih dengan gelar Pangeran Wong Agung Wilis.

Sejarah seperti berulang, raja dan patih tak sejalan. Sang patihpun terusir dari kerajaan. Ia menyingkir dan diikuti oleh adiknya yang lain, Mas Sirna. Tujuannya untuk menghindari perang saudara. Pada suatu hari, 800 orang prajurit Bugis datang ke Blambangan. Prabu Danuningrat pun khawatir akan keamanan wilayahnya. Ia memerintahkan untuk mencari Wong Agung Wilis untuk Bersama-sama melawan pasukan Bugis. Tapi Wong Agung Wilis menolak.

Akan tetapi, sebenarnya Wong Agung Wilis mencari siasat. Ia dan orang-orangnya dengan tiba-tiba menyerang pasukan Bugis. Singkat kisah, pasukan Bugis berhasil diusir. Tapi Wong Agung Wilis sengaja tak melapor ke Prabu Danuningrat. Wong Agung Wilis sendiri sangat dekat dengan Bali. Dan hal itulah sejak awal yang memicu pertikaian kakak beradik ini.

Bahkan, sejarah selanjutnya mencatat bahwa, Raja Bali Gusti Dewa Agung sangat murka, Ketika Prabu Danuningrat dua kali dipanggil tidak menghadap ke Bali. Perselisihan itu, menyebabkan Prabu Danuningrat Bersama patihnya menyingkir dari kerajaan. Lalu, kerajaan kemudian diserahkan kepada Pangeran Banyu Alit sebagai adipati Blambangan. Pangeran ini hanya sebentar memerintah, lantaran dinilai tak mampu. Lalu diganti oleh Ketut Ngurah Dewa dan patih Ketut Gutabedah. Keduanya dari Menguwi.

Prabu Danuningrat sendiri mencoba mencari perlindungan ke Lumajang di bawah Tumenggung Kertanegara. Tapi sayang, sang tumenggung telah mendapat kabar tentang pelarian raja. Prabu Danuningrat kemudian diadili dihadapan Cokorda Menguwi dan dihukum pancung, di pantai Seseh, Kecamatan Menguwi, Bali.

Setelah itu, Blambangan masuk pada masa perjuangan melawan Kompeni Belanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *