Kisah Raden Pabelan Mengejar Cinta Retno Pembayun

0
104
sumber: @nienov77

Jaraknya kira kira 9 km dari arah kota, jika titik nolnya kita ambil dari depan gedung DPRD Kabupaten Boyolali ke kanan, kita belok kanan, lalu melaju di jalan berliku yang terus cenderung ke kiri. Saya suka pemandangannya, hamparan luas yang menghijau, model topograpinya khas tanah di bawah lereng.

Jika melihat pemandangan yang demikian, orang kampung saya bilang andan-andan. Struktur tanahnya berpasir, warnanya agak putih, melihat kiri kanan sepanjang perjalanan, tampak tanaman padi dengan system irigasinya yang cukup bagus, ada juga sayuran, bawang merah, dan sejumlah jenis holtikultura. Akhirnya saya sampai di Dusun Malangan desa Dukuh, Kecamatan Banyudono. Iya, di sana, tujuan perjalanan saya hari ini (9/10/2018), tepatnya di makam Ki Ageng Pengging Sepuh alias Joko Sengoro alias Syarif/Sayyid Kebungsuan, suami Dyah Hayu Ratna Pembayun putri Brawijaya V yang terkenal pula dengan sebutan Pangeran Handayaningrat.

Saya sampai lokasi pukul 11:15, langsung menuju masjid kecil dekat lokasi untuk persiapan melaksanakan shalat jumat.

Dalam catatan sejarah, secara politik, Joko Sengoro tidak sejalan dengan kakak iparnya, Raden Patah yang baru saja mendirikan Demak waktu itu. Joko Sengoro, pria yang menurut jumhur sejarawan merupakan putra Syaikh Jumadil Kubro ini puncaknya malah dituduh makar dan dihukum mati oleh Demak, hal yang sama nanti juga terjadi kepada salah satu anaknya, Kebo Kenongo, yang tak lain adalah ayah dari Mas Karebet alias Joko Tingkir. Kepada Sengoro, Sunan Ngudung menjadi pelaksana hukuman, sementara pada Kebo Kenongo, Raden Patah memerintahkan kepada Sunan Kudus yang tak lain adalah putra dari Sunan Ngudung untuk menjadi eksekutor.

Sudah, ah. Jadi rumit gini kalau dikupas dari sisi politiknya hehe. Saya yakin, mereka semua adalah kekasih Allah, Alfatihah…

Gini aja, sekarang ayo kita kupas soal Pembayun, setidaknya saya menemukan 4 nama Pembayun dalam sejarah kita, dan, kau tahu tidak ? Semua melahirkan kisah heroik, lho.

Pembayun pertama berhubungan dengan Joko Sengoro. Joko Sengoro menikah dengan Pembayun. Hal itu terjadi setelah dirinya berhasil menyelamatkan sang calon istri dari seorang penculik bernama Menak Daliputih, Raja Blambangan Putra Menak Jingga. Ia kemudian diangkat menjadi Adipati di Pengging untuk melakukan percepatan pembangunan di wilayah itu. Konteks pemerintahan dia terhitung sangat sukses, pun bidang dakwah.

Pembayun kedua tak lain adalah anak pertama Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, berarti dia adalah buyut dari Pembayun yang pertama, dia cantik jelita. Ada banyak cerita tentang Pembayun ini.

Salah satunya, saat di Pajang, ada seorang pria yang dikenal playboy tajir. Namanya Raden Pabelan, dia anak dari Tumenggung Mayang, tak ada wanita yang luput dari godaannya, dari dayang hingga anak para pejabat, semua pernah dipacarinya. Tumenggung Mayang sering mendapat aduan dari gadis gadis bahkan kadang orang tua si gadis, dia malu dengan ulah anaknya, puncaknya dia memarahi habis habisan pemuda tampan itu. “Sukamu mempermainkan wanita saja, kalau kau benar benar laki-laki, pacari itu anak sultan,” ujar Mayang menghardik.

Ucapan Mayang itu tentu bermaksud agar anaknya taubat, tapi dasar Pabelan, dia malah merasa tertantang, diam diam dia mulai mencari tahu sang putri. “Secantik apa sih, putri Sultan,” mungkin begitu pikirnya. Dia mulai rajin ikut ayahnya jika ada acara di Keraton, ya akhirnya ketemu, dan dia langsung kelimpungan pada pandangan pertama. “Wwaaaaw,” kira kira begitu ekspresinya.

Pabelan memang dibikin mabuk kepayang dengan pesona Retno Pembayun. Wajah cantiknya benar benar tak sekejab pun bisa pergi dari ingatannya. Sudah begitu, tak mudah baginya untuk dapat bertemu, bahkan untuk sekedar melihatnya. “Bagaimana caranya supaya aku bisa lebih sering bertemu dengan dia,” gumamnya kesal. Akhirnya, tak kurang akal, dia memacari salah satu dayang sang putri, kena, melalui dayang itulah, dia berkirim surat kepada Pembayun. Bagi si dayang itu tak soal. Berkat pacar barunya itu, surat cinta Pabelan sampai ke tangan Pembayun, dibaca sih, tapi tak ada tanggapan apapun. Pabelan pusing tujuh keliling, suatu malam, dia sampai pernah menyusup ke kamar si dayang untuk menanyakan respon Pembayun.

Tumenggung Mayang melihat gelagat tidak beres dengan tingkah anaknya, lha gimana, jarang tidur, sulit makan, dan penampilannya mulai awut awutan, dia melihat anaknya seperti pria stres. Setelah didesak apa yang sesungguhnya terjadi, telinga Mayang seperti disambar petir mendengar pengakuan terus terang anaknya itu.

“Apa, Le ? Gila kamu, ya ?,” bentak Mayang, kakinya maju selangkah, wajahnya didekatkan ke muka anaknya.

“Kan ini atas perintah Romo !,” balas Pabelan tak kalah sengit.

“Gusti Pengeran, ora ngono karepe Romo, Le. Celaka, ini benar benar celaka,” tukas Mayang. Tapi ibarat nasi telah menjadi bubur, Pabelan benar benar tak bisa dibilangi.

Mayang terus membujuk agar anaknya bisa melupakan putri rajanya itu, sehari, seminggu, sebulan, dua bulan, Pabelan tak bergeming. Ibu Pabelan juga gagal membujuknya. Takut putranya kenapa kenapa, Mayang mencoba membuka diri.

“Lalu, inginmu seperti apa, Le ?,” tanya Mayang.

“Romo yang kesana, lamarkan,” pinta Pabelan.

“Tidak, itu tidak mungkin, kamu jangan aneh aneh,” jawab Mayang.

“Kalau tidak mau ya saya akan kesana sendiri,” jawab Pabelan. Tumenggung Mayang benar benar tak habis pikir dengan kenekatan anaknya itu.

Setelah terjadi perdebatan cukup lama, hati Mayang akhirnya luluh, dia menyerah.

“Nanti kalau kamu ketangkap prajurit penjaga kaputren gimana ?,” tanya Mayang kali ini dengan nada melemah, sedih.

“Ya Romo yang harus ngajari, bagaimana saya jangan sampai ketangkap,” pinta Pabelan. Mayang menghela nafas panjang,

“Duh, Gusti,” tuturnya putih.

Dengan berat hati, akhirnya Mayang menurunkan ilmu kanuragan kepada anaknya itu.

“Yo wes, tirakat yo,” ujar Mayang.

“Siap !,” begitu kira kira jawab Pabelan.

Inti dari ilmu yang diberikan itu adalah Pabelan bisa masuk ke kaputren, tembok kaputren yang tinggi itu bisa seolah olah pendek, atau dia melompatinya dengan mudah.

Tok cer, Pabelan benar benar bisa masuk tanpa ketahuan prajurit penjaga. Bahkan dia juga berhasil menemui Pembayun dan berbincang dengannya. Sayup sayup suara laki laki dari kaputren terdengar prajurit, mereka segera mengecek. Begitu para prajurit masuk.

“Siapa itu ?,” teriak seorang prajurit dengan senjata terhunus. (Bersambung)

 

 

 

SHARE
Politisi PKB di Bojonegoro, menyukai sejarah. Punya kebiasaan mengunjungi situs-situs kuno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here