Kisah Sukses Sebelum Miskin

0
1070
kayamarart.com

Faizal tak bisa tidur nyenyak. Berulangkali, ponselnya berdering. Ini dering ke-14 selama dia tidur-tiduran di teras depan rumah. 13 dering lainnya, dia abaikan begitu saja. Baginya, jika bukan urusan bisnis, dering ponsel hanyalah pengganggu produktivitas hidup. Dia malas menanggapinya.  Namun, karena merasa kasihan pada ponselnya yang lelah berdering, baru pada dering ke-14 ini, dia merespon.

“Iya, halo”

“Gimana, Pak?”

“Apanya yang gimana?”

“Terkait tawaran kami mengusung bapak di Pilbup mendatang”

Suara di ponsel tiba-tiba senyap. Faizal tak menjawab, orang yang berada di seberang pun tak berani banyak berbicara. Menunggu dengan sabar, apa yang bakal diucapkan Faizal. 10 detik  berselang, tak ada jawaban. Hanya terdengar hembusan udara yang mendesah perlahan, menginstrumeni kesunyian.

“Biar saya pikirkan dulu,” ucap Faizal sambil menutup sambungan telepon.

Sudah sebulan ini, frekuensi keberderingan ponsel Faizal meningkat. Jika biasanya ia ditelpon sebanyak 15 kali sehari, kini bisa mencapai 20 hingga 30 kali. Jika biasanya dia menggunakan ponsel hanya untuk urusan bisnis jual beli, kini banyak petugas parpol yang menghubungi, berniat mengkadernya menjadi calon Bupati.

Faizal memang tidak pernah tertarik pada politik. Dia jauh lebih berminat pada dunia usaha. Dia satu dari jutaan orang yang meyakini sebuah hadis bahwa sembilan dari sepuluh pintu rejeki adalah berdagang. Iya, di usianya yang baru menginjak 30 tahun, Faizal tergolong pedagang muda yang sukses. Faizal berjualan mangga. Bukan mangga biasa, tapi mangga ajaib. Buah mangga yang pohonnya dia dapat dari planet Namek.

Suatu hari, sekitar 6 hingga 7 tahun lalu — Faizal masih kuliah— saat berada di depan teras rumah, Faizal didatangi sosok pengemis tua bertongkat yang membawa sebatang pohon dengan panjang sekitar 150 cm. Kepada Faizal, pengemis itu meminta sedekah. Namun, anehnya, setelah meminta sedekah, lelaki tua itu memberikan pohon yang dia bawa itu kepada Faizal. “Ini pohon mangga ajaib, saya dapat dari planet Namek, jika kau tanam, kau akan kaya raya,” kata pengemis itu sambil memasukkan uang pemberian Faizal ke kantong plastik miliknya.  Kalau bisa membuat kaya, kenapa tidak ditanam sendiri, batin Faizal. Sekadar iseng, Faizal pun menanamnya.

Pohon mangga milik Faizal berbuah di musim yang tidak seharusnya. Jika pada umumnya mangga berbuah pada musim hujan dan akhir tahun, tidak bagi pohon mangga Faizal. Pohon mangga itu justru berbuah di musim kemarau, bulan-bulan pertengahan tahun. Selain itu,  mangga tersebut memiliki rasa enak yang sangat ekstrim. Manis seperti madu, dan ada sedikit kombinasi rasa asam yang pas. Biji buahnya sangat kecil.

Awalnya, Faizal menanamnya di belakang rumah. Namun, banyaknya masyarakat yang ingin mencoba memakannya, memantik jiwa bisnisnya muncul. Dia pun menjual buah mangga itu. Tentu, dengan harga yang tidak sama dari mangga-mangga lainnya.  Karena keunikan dan rasanya yang sangat enak, buah mangga itu menjadi buah ekslusif. Jika mangga biasa dijual kiloan, satu buah mangga milik Faizal bisa tembus Rp. 50 ribu.

Harga buah mangga Faizal kian naik seiring santernya mitos bahwa buah tersebut bisa dijadikan obat. Entah siapa yang membikin  cerita, konon, berbagai macam penyakit bisa sembuh hanya dengan memakan buah tersebut. Mangga Faizal pun kian populer. Dari satu buah seharga Rp. 50 ribu, kini naik menjadi Rp. 150 hingga Rp. 300 ribu perbuah, sesuai besar kecil ukurannya.

Dengan progres bisnis yang menjanjikan seperti itu, Faizal pun memperbanyak pohon mangganya. Dari awalnya satu pohon, dia cangkok jadi puluhan hingga ratusan pohon. Bahkan, 4 tahun setelah itu, Faizal berani menyewa lahan milik Perhutani berukuran puluhan hektar hanya untuk ditanami pohon mangga tersebut. Kini, pebisnis muda itu sudah memiliki puluhan karyawan yang dipekerjakan sebagai penjaga kebun dan pengirim buah. Tidak hanya pasar domestik, Faizal juga mengekspor buah mangga itu di sejumlah negara ASEAN.

Mangga ajaib kian populer. Keuntungan yang ia terima, kian hari kian besar.  Alasan tersebut, membuatnya memutuskan untuk memperbesar dan mengembangkan sayap bisnis. Tidak hanya berjualan mangga, kini dia juga memiliki bisnis properti dan jual beli mobil mewah. Praktis, aset pribadinya berupa tanah dan mobil mewah tak bisa dihitung jari.

Nama Faizal kian tenar. Sebagai pemuda kaya raya yang tak bisa kehabisan harta, namanya dikenal setiap orang di seluruh penjuru kabupaten. Entah pelosok kampung maupun pusat kota, semua mengenal namanya. Faizal jauh lebih populer daripada Bupati. Anak-anak kecil hingga orang dewasa mengenal nama baiknya. Maklum, tidak hanya kaya raya, dia juga ahli bersedekah. Fakta itu membuat banyak petugas partai yang berniat meminangnya untuk dijadikan kader partai.

“Kaya aja tidak cukup. Anda harus berpolitik agar kekayaan Anda semakin awet,”

“Lho, kog bisa?”

“Dengan berpolitik, Anda bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintah agar pro keuntungan. Tidak hanya awet, kekayaan Anda juga bisa berkembang,”

Dua tahun menjelang Pilbup, pertahanan Faizal pun jebol. Demi keinginan mengawetkan dan mengembangkan kekayaan, dia pun bergabung dengan salah satu partai dominan di kota. Partai Komunitas Indonesia (Pakin). Partai dengan pendukung terbesar di kota. Mengingat, hampir seluruh komunitas bergabung di dalamnya.

Kesibukan Faizal meningkat berlipat-lipat. Jika sebelumnya hanya mengurus dan mengawasi penjualan mangga, kavling properti dan sejumlah mobil, kini dia juga ikut wira-wiri mengurus berbagai kegiatan partai. Dengan dalih menggalang agenda dukungan demi kemenangan Faizal di pilbup mendatang, para pengurus partai pun meminta Faizal mendanai berbagai kegiatannya. Faizal kerap torok gara-gara kegiatan tersebut. Namun, demi popularitas, apalah arti uang.

Berbagai agenda Faizal di dunia politik, membuat fokus perhatian di dunia usaha melemah. Sibuk membangun citra positif, dia lupa, banyak urusan korporasi yang terlunta-lunta. Sejumlah karyawan tidak diperhatikan. Sudah 3 bulan, gaji mereka tidak terbayar gara-gara uang gaji harus digadaikan untuk kepentingan politik. Atasnama kesejahteraan, karyawan properti dan perkebunan pun bergolak. Diam-diam, tanpa sepengetahuan bos besar,  sejumlah aset Faizal dijual untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Yang paling parah, sejumlah pohon mangga ajaib itu dicopy-paste ke sejumlah daerah lain untuk dijual. Padahal, itu pantangan terbesar bagi para karyawan. Mengingat, Faizal sangat menjaga eksklusivitas mangga ajaib itu. Kini, mangga ajaib sudah tidak menjadi komoditas mahal. Sebab, semua orang sudah memilikinya. Dampaknya, Neraca penjualan Faizal pun menurun drastis.

Faizal sempat oleng. Bahkan, dia menjual sejumlah aset mobil mewah dan tanah kavling miliknya. Bukan untuk menyelamatkan bisnisnya, tapi untuk biaya membangun citra politik yang teramat mahal itu. Faizal kian total dalam mengurus citra. Di sisi lain, dunia bisnis yang dia bangun mulai keropos dari dalam. Seperti biasa, sebagai orang kaya, dia tidak menyadarinya.

Oleh parpol pengusungnya, Faizal dipastikan maju di Pilkada. Parpol pengusung, seperti yang kita semua ketahui, meminta sejumlah uang pada Faizal untuk dijadikan mahar sekaligus legalitas rekomendasi dari partai pusat. Faizal pun menyetujui. Hampir semua aset tanah dan mobil dia jual untuk biaya rekom dan operasional tim sukses.

“Alah, tidak masalah. Yang penting masih punya banyak pohon mangga ajaib. Aset yang hilang, dalam waktu dekat pasti kembali”, batin Faizal. “Apalagi, toh aku nanti bakal jadi Bupati. Betapa mudahnya membuat kebijakan yang pro keuntungan pribadi”

Melihat gelagat Faizal yang kian abai pada dunia  usaha, para karyawan memutuskan keluar diam-diam. Mereka enggan bekerja ikut Faizal lagi. Tak ada yang mengurus kebun. Kondisi itu semakin parah karena pohon mangga ajaib sudah tidak menjadi komoditas spesial. Hampir semua orang kini memilikinya, menanamnya di teras rumah. Konsumen Faizal pun menurun drastis. Penjualan mandeg. Pelan-pelan, tak ada lagi yang membutuhkan mangga ajaib.

Faizal baru menyadari itu semua ketika mendekati masa pencoblosan. Kantor partai kembali meminta sejumlah uang pada Faizal untuk biaya bensin menuju TPS. Semacam uang pelicin bagi para calon pemilih, yang bakal disebar pada fajar subuh  jelang masa pemilihan. Faizal benar-benar kelimpungan saat menyadari aset utamanya, pohon mangga ajaib, telah kehilangan tajinya. Telah kehilangan harganya. Faizal benar-benar bingung. Tak ada lagi uang untuk disetor pada Timses dan parpol. Sebulan jelang pencoblosan, dukungan timses ke Faizal melemah, dukungan parpol ke Faizal juga mulai memuai. Dampaknya, Faizal kalah dalam pemilihan.

Dengan menundukkan kepala, Faizal pulang ke rumah. Menyulut sebatang kretek lalu menyandarkan kepalanya di tembok. Dia merenungi kekalahan-kekalahan yang dia alami. Usahanya berjualan mangga telah usai. Hampir semua pohon mati akibat tidak dirawat. Di sisi lain, banyak masyarakat yang sudah memiliki pohon itu. Praktis, tak ada yang  membeli buah itu lagi.

Gara-gara ambisi maya di dunia politik, kini dia dibuai kesengsaraan. Seluruh asetnya hilang, karyawannya pergi. Di dunia usaha, dia bangkrut. Di dunia politik, dia gagal total. Namun, tak ada satupun yang dia sesali. Baginya, semua sudah tinakdir pada plot episode kehidupannya. Sesuatu yang memang harus dia lewati.

Kalaupun menyesal, ada satu hal yang sangat dia sesali. Sesuatu yang baginya jauh lebih penting dari kekayaan aset dan nama besar. Sesuatu itu adalah kekasih hati, seorang istri. Dia menyesal, kenapa saat kaya raya dulu, dia tidak segera mencari pendamping hidup. Kini, ketika episode kaya-raya itu telah usai, pemuda bernama lengkap Faizal Adi Wardhono itu baru menyadari bahwa dia jomblo.

 

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here