Kita Perlu Belajar Kepada Iblis?

Sumber: Pixabay

Cukuplah kau jangan berbuat jahat, maka kau auto akan baik. Karena hakikat manusia adalah baik. Yang pelik ialah menjadi faedah. Menjadi manfaat marang liyan. Karena manfaat dan faedah atau kebergunaan, rasanya tak akan tumbuh begitu saja tanpa berbuat apa-apa. Dan kemanfaatan itu akan menjadi sebuah ‘cipta’ saat bisa ajeg menjalankannya. Benar begitu kan?

Btw, masalah konsistensi atau keistiqamahan ini, tidak terlalu salah jika kita berguru pada Iblis. Sekali lagi kepada Iblis. Iblis benar-benar istiqamah menjalankan sumpah serapahnya kepada Tuhan untuk menggoda manusia sampai akhir segala jenis kehidupan.

Makhluk yang konon diusir oleh Tuhan dari surga sebab tak mau sujud kepada Adam ini, adalah memang senironya Adam. Ya kan?

Baca Juga:  Buruh Kontemporer dan Si Juru Tulis

Dia mempunyai logika yang tak bisa dibilang tumpul atau rancu. Kita tentu sudah hafal mengapa Iblis membangkang tak mau sujud pada Adam. Menurut dia, seharusnya manusia (Adam) lah yg sujud pada Iblis dengan premis anasir cikal bakal penciptaan keduanya.

Ya, kira-kira begitu Ilmu Mantiq dari Iblis.

Sampai sekarang, ia masih tidak jauh berbeda. Hingga saat ini Iblis terus menyusun berbagai macam strategi untuk mengelabuhi manusia. Karena ia sadar manusia juga semakin maju dan canggih, ia pun terus mengadakan diskusi dan seminar-seminar demi meningkatkan kualitas kawanan Iblis. Semacam tips dan trik untuk menggoda manusia di post-truth ini.

Konon kata jenate Si Mbah, Iblis itu mempunyai rasa-ingin-tahu yang sangat tinggi. Iblis suka menguak sesuatu yang masih menjadi rahasia, menyingkap segala yang masih batas muka atau kulit saja.

Baca Juga:  Menabung 45 Minggu untuk Sebuah iPhone Idaman

Seperti membuka alasan mengapa ia musti sujud pada Adam? Membuka tirai pembatas shaf salat pria dan wanita, dan tak sedikit dari mereka yang juga membuka koran, majalah dan apa saja jenis buku. Ia selalu mencari hal-hal baru, apapun itu, yg dianggapnya masih dalam ranah keghaiban. Sekali lagi menguak apa saja. Apa pun itu.

Tentu semua tadi adalah upaya ia untuk menepati sumpah serapahnya pada Tuhan. Dia sudah diusir Tuhan dari surga. Tentu dia tak mau jika hukumannya ditambah lagi hanya karena sumpahnya untuk menggoda manusia itu dilanggar. Begitu kan?

Suatu ketika, Iblis pernah sampai di satu titik konklusi; “Ternyata hal paling susah itu bukan menyingkap tirai pembatas shaf salat pria dan wanita, atau mengungkap kenapa saya harus sujud pada kamu (Adam). Bukan.” Ucapnya tandas. “Tapi yang paling sukar adalah menyingkap mengapa saya dulu begitu mudah mengucap sumpah pada Tuhan untuk menggoda kalian,” pungkas sang iblis dengan wajah tertunduk menekuri tanah, ketika aku bertemu dengannya tadi malam, dalam mimpi.

Baca Juga:  Agustusan Dan Guyonan Kehidupan

Menuju Senja, 18/3/2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *