Lalu Muhammad Zohri, Jamaika, Lombok NTB

0
744
foto: reuters

Banyak yang bertanya, mengapa orang Jamaika bisa lari begitu cepat. Pertanyaan ini kerap muncul melihat catatan Jamaika di kancah lari jarak pendek (sprint) dunia yang fenomenal.

Negeri dengan populasi 2,9 juta orang, ada di peringkat ke-14 perolehan medali Olimpiade 2008 Beijing. Jamaika meraih 6 emas, 3 perak, 2 perunggu (total 11 medali) semua didapat dari nomor sprint. Empat tahun kemudian di London, peringkat Jamaika turun jadi ke-18, tetapi perolehan total medalinya bertambah jadi 12 (4 emas, 4 perak, 4 perunggu). Semua medali lagi-lagi dari cabang atletik nomor sprint.

Mau tahu perolehan medali Jamaika di Olimpiade Rio 2016? Mereka mendapat 6 emas, 3 perak, dan 2 perunggu dan lagi-lagi, semuanya dari cabang atletik nomor lari jarak pendek.

Pada Kejuaraan Dunia Atletik 2013 di Moskow, Jamaika bertengger di peringkat 3 dengan 6 emas, 2 perak, 1 perunggu. Perolehan medali hanya kalah dari dua adidaya atletik, Rusia dan Amerika Serikat. Lagi-lagi semua medali Jamaika dari nomor sprint, termasuk emas 100 meter putra dan putri. Pada kejuaraan dunia atletik 2017 di London, kembali semua medali Jamaika datang dari nomor sprint (1 emas 3 perunggu).

Gelar manusia tercepat sejagat kini dipegang orang Jamaika atas nama Usain Bolt. Dia pemegang rekor dunia 100 meter putra dengan catatan 9,58 detik, bertahan sejak 2009. Pemegang rekor sebelumnya juga orang Jamaika atas nama Asafa Powell.

Fenomena yang nyaris mirip dengan Jamaika bisa dilihat pada Kenya. Negara Afrika Timur punya catatan sama hebatnya dengan Jamaika. Jika Jamaika spesialis produsen sprinter, Kenya khusus penghasil pelari jarak jauh dan menengah. Dari akumulasi Olimpiade Beijing dan London, 25 medali (8 emas, 8 perak, 9 perunggu) semua datang dari lari jarak menengah dan jauh. Pada kejuaraan dunia atletik 2013 di Moskow, Kenya meraih 5 emas, 4 perak, 3 perunggu semua dari lari jarak menengah dan jauh, duduk di peringkat empat klasemen medali di bawah Rusia, AS, dan Jamaika. Pada Olimpiade Rio 2016, Kenya mendapat 6 emas, 6 perak, dan 1 perunggu hingga duduk di peringkat 15 perolehan medali. Semua medali Kenya datang dari cabang atletik lari jarak jauh dan menengah.

Nah, saking menariknya Jamaika dan Kenya, banyak penelitian, film, atau buku disusun untuk menjawab fenomena itu. Buku komprehensif tentang fenomena ini salah satunya disusun oleh Jon Entine, “Taboo: Why Black Athletes Dominate Sports and Why Were Afraid to Talk About It.”

***

Tidak mudah memahami bagaimana negara miskin Jamaika bisa melahirkan manusia-manusia tercepat sejagat. Ada banyak teori untuk menjelaskan mengapa para kompatriot Bob Marley itu merajai lintasan lari di seluruh dunia.

Teori pertama menyebut nutrisi dan makanan sehat. Pelari hebat Jamaika mayoritas dulunya anak desa yang berjalan jauh ke sekolah, selalu makan makanan sehat dan minum air, bukan softdrink.

Teori lain mengungkapkan hasil latihan lari cepat di atas rumput. Lari di atas rumput memperkuat otot kaki. Konon Usain Bolt mengawali latihan lari di atas rumput.

Konsep lain adalah kemiskinan sebagai motivator. Hampir semua anak di Jamaika bermimpi ingin jadi bintang lari yang kaya raya.

Teori lain yang banyak diyakini secara ilmiah menyebut tentang gen leluhur yang membuat suatu ras punya keunggulan dalam olahraga tertentu. Teori ini yang dipaparkan Jon Entine dalam bukunya. Menurut Entine, Jamaika yang berada di Karibia memiliki satu garis ras dengan orang Afrika Barat. Mereka pada umumnya punya otot kuat, pinggul sempit, betis ringan, dan refleks tendon lutut lebih cepat. Mereka juga punya enzim anaerobik yang bisa berbuah energi lebih eksplosif.

Orang Kenya dan Afrika Timur cenderung lebih pendek dan kurus dengan kapasitas paru-paru lebih besar. Pelari-pelari Kenya banyak berasal dari dataran tinggi hingga secara alamiah punya daya tahan untuk lari jarak jauh. Tipikal Kenya adalah musibah untuk lari cepat. Rekor 100 meter putra di Kenya adalah 10,26 detik. Masih bagus rekornas Indonesia 10,17 detik atas nama Suryo Agung Wibowo.

Teori gen itu juga yang menjelaskan mengapa negara Eurasia seperti Iran kuat di angkat besi dan gulat. Dengan otot tubuh lebih besar, tungkai lebih pendek, badan lebih tebal, tidak ada prototipe sprinter maupun pelari maraton. Sementara Asia, dengan tubuh lebih pendek, lengan dan tungkai pendek, cenderung lebih fleksibel kuat di olahraga permainan semacam tenis meja dan bulutangkis.

Tentu saja, sukses Jamaika dan Kenya tidak semata karena genetik. Jauh di atasnya adalah sistem latihan yang lengkap dan tertata rapi.

Kesadaran resource besar dan genetik bagus, rezim latihan disusun sedemikian rupa sehingga bakat yang melimpah berbuah prestasi gemilang turun temurun. Disiplin, adalah syarat lain yang tidak bisa ditawar lagi.

***

Sekarang mari kita lihat Indonesia. Jamaika mini di Indonesia tampak pada provinsi Nusa Tenggara Barat. Dari zaman Purnomo, Mardi, Khadik Juntasi, Suryo Agung, John Muray, Franklin Burumi, terlihat persebaran muasal munculnya talent nomor sprint. Jawa Tengah, Sumut, Maluku, sampai Papua.

Mulai dari Fadlin, kita melihat sekarang NTB sebagai daerah yang rajin menyumbang sprinter berkualitas. Setelah Fadlin ada Iswandi, Sapwaturahman, Sudirman Hadi dan terakhir Lalu Muhammad Zohri. Sama halnya dengan Salatiga, selalu menjadi produsen pelari jarak menengah dan jauh macam Suryati, Ruwiyati, Triyaningsih dll. Bisa jadi di Salatiga ini faktor Yon Daryono dan klubnya punya pengaruh besar. Tetapi bahwa atlet-atlet hebat lari menengah dan jarak jauh selalu lahir dari Salatiga, itu luar biasa.

Nah, saya tidak terlalu paham sports science. Yang kita sama-sama tahu, kemajuan prestasi olahraga sekarang sudah tidak bisa lepas dari sports science.

Sports science tentu bisa mengungkap apakah memang betul, genetik atau kondisi alam dan geografis NTB punya faktor besar dalam melahirkan sprinter sprinter hebat. Jangan-jangan secara genetik memang bakat bakat NTB ini cocok sebagai sprinter. Kalau memang iya, mengapa tidak kalau sumber daya yang dimiliki dikerahkan untuk menggali potensi NTB lebih dalam lagi. Ya, seperti menjadikan NTB sebagai “Jamaika”.

Selama ini, kita terlalu sering terlena dengan selebrasi, apalagi kalau sudah pakai bumbu-bumbu politis. Puja-puji berlebihan bisa menjadikan atlet emas menjadi loyang bahkan kaleng. Sudah banyak buktinya.

Kalau memang ilmu dan teknologi menunjukkan di situ ada tambang atlet emas, kenapa tidak fokus dialihkan ke bagaimana menghasilkan lebih banyak emas-emas yang kelak menambah kebanggaan bangsa.

Bagaimana menurut kamu?

SHARE
Jurnalis senior dan pengamat olahraga, kini tinggal di Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here