Lepaskan Duka Cita, Lalu Buka Diri untuk Menerima

0
234
Sumber: Pixabay

“Wanita mengekspresikan semua hal dengan cara menangis, tangisan membuat mereka merasa lebih baik.”

***

Anda penyuka Layangan Putus? Tentu mengikuti episode 7, di mana Reno bayi yang baru lahir meninggal dunia. Kinan (Putri Marino) menangis mengungkapkan duka mendalam. Kinan merupakan istri dari Mas Aris (Reza Rahadian). Kesedihan Kinan pun menyedot perhatian pecinta web series ini.

Tapi, tulisan ini bukan hendak berkisah tentang Layangan Putus. Akan tetapi tentang kesedihan. Bagaimana sebenarnya orang bersedih itu? Dan bagaimana cara ‘tepat’ mengungkapkannya?

***

Kesedihan atau duka cita adalah perasaan yang umum dan semua orang pasti pernah dan akan mengalaminya. Dalam dukacita, kita merasa bahwa banyak hal terasa sulit. Kita susah mengatasinya, kita seperti memiliki pikiran-pikiran “Selama bertahun-tahun aku merasa sia-sia”. Itu adalah perasaan sedih, kehilangan, kekecewaan, patah hati, penderitaan, kesepian, pesimisme dan penyesalan.

Dasar psikologis dari semua duka cita adalah keterikatan. Keterikatan dan ketergantungan terjadi karena kita merasa tidak lengkap dengan diri sendiri. Atas dasar ini, kita akan berusaha mencari objek, entah itu jalinan hubungan, tempat, orang dan konsep apapun untuk memenuhi kebutuhan batin kita.

Keterikatan menciptakan ketergantungan, dan ketergantungan secara tidak sadar menyebabkan ketakutan pada kehilangan.

Untuk itu, kita dianjurkan untuk tidak mengikatkan dan menggantungkan hidup kita terlalu tinggi pada apapun hal yang ada di dunia. Karena ketika kita jatuh, kita akan merasakan sakit yang luar biasa. Mari kita renungkan bahwa ketidakabadian adalah kenyataan hidup.

Duka cita bisa dipicu oleh kehilangan suatu keyakinan, peran, harapan, ataupun hubungan. Biasanya, perasaannya meliputi “Aku tak akan pernah melupakan ini, Ini terlalu sulit.” Aku sudah mencoba, tetapi tak ada yang membantu.

Sebagian besar manusia membawa duka cita. Lelaki khususnya akan cenderung berusaha menyembunyikan perasaan itu, karena ia merasa tidak jantan dan maskulin jika menangis. Laki-laki sering lupa bahwa ia juga seorang manusia, entah tidak tahu atau memang tidak mau tahu, jika fungsi air mata sebenarnya adalah untuk melegakan hati.

Kejadian ini seperti pada web series yang belakangan tengah viral dan diminati masyarakat Indonesia dalam berbagai kalangan usia, yaitu Layangan Putus episode ke-7. Web series ini dibintangi oleh aktor kondang, Reza Rahadian (Mas Aris) dan Putri Marino (Kinan) sebagai pemeran utamanya.

Dalam episode tersebut, pasangan suami istri itu harus kehilangan anaknya yang baru lahir (Reno). Kehilangan membawa mereka berdua larut dalam dukacita dan perkabungan. Kinan, sebagai seorang ibu merasa sedih, tak berdaya, hancur, dan kecewa. Ia terus menangis sepanjang malam.

Tangisannya justru membuat dia semakin merasa tenang dan bisa melepaskan perasaan dukacita. Ini persis seperti teori lama yang berbunyi “Wanita mengekspresikan semua hal dengan cara menangis, tangisan membuat mereka merasa lebih baik.”

Hal ini berbanding terbalik dengan Mas Aris sebagai seorang suami. Aris tampak selalu berusaha menyembunyikan kesedihannya dihadapan orang-orang. Padahal, ia juga merasakan perkabungan yang sama dengan sang istri.

Pada suatu malam, Mas Aris seorang diri pergi ke kamar yang sudah disiapkannya untuk bayi tersebut. Tiba-tiba Aris menangis tersendu-sendu, raut wajah dan matanya memperlihatkan betapa sedihnya ia karena kehilangan. Lelaki memang baru akan meluapkan perasaannya ketika sedang tidak ada siapa-siapa.

Ada beberapa cara untuk menangani dukacita. Saya akan memberikan tips buat Anda yang sedang berdukacita. Oke, mari kita bahas cara-cara tersebut.

Alih-alih menekan duka cita, jika perasaan itu dibiarkan muncul dan dilepaskan, kita bisa dengan cepat beralih dari level duka cita ke level penerimaan. Duka cita tidak akan pernah usai jika kita tidak bisa menerima keadaan itu. Penolakan yang justru akan membuat dukacita semakin merajarela dalam diri kita.

Begitu kita bisa menerima kenyataan bahwa kita bisa menangani duka cita, kita akan naik dari level penerimaan ke level kebanggaan. Ini seperti “Aku mampu melakukannya dan aku mampu menanganinya”. Pikiran ini menjadi penting untuk dicamkan, karena dengan itu kita merasa lebih optimis dan kepercayaan diri kita meningkat.

Duka cita harus dilepaskan. Dengan membiarkannya pergi, kita beralih ke level penerimaan dan disusul dengan kedamaian. Ketika kita melepaskan duka cita yang kita peluk selama bertahun-tahun, keluarga dan teman-teman kita melihat perubahan ekspresi wajah kita. Langkah kita akan menjadi semakin ringan dan aura dalam diri kita kian cerah.

Duka cita terbatas oleh waktu. Fakta ini dapat membuat kita menjadi lebih yakin dan bersedia untuk mengalami perasaan paling tidak mengenakkan tersebut. Jika kita tidak melawan perasaan duka cita dan sepenuhnya berpasrah padanya, perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Kita hanya perlu membiarkan diri kita mengalami sepenuhnya.

 

SHARE
Penulis adalah kontributor Gangkecil.com, penyuka bola tinggal di Bojonegoro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here