Madrasah Alternatif Guratjaga, Berdiri Sejak ‘Kami Dilarang Berkerumun’

Sistem pendekatan belajar yang digunakan pada madrasah ini dilabeli “Tradisionalis Kontemporer”. Mempertahankan yang lama yang masih baik, dan menerima nilai baru yang lebih baik.

***

Pada umumnya madrasah memiliki bangunan fisik berupa gedung atau ruang kelas. Selain itu ditunjang dengan beberapa sistem pendidikan untuk dijadikan acuan proses belajar. Biasanya juga tertempel visi misi pada dinding ruangan madrasah. Tapi yang ini beda.

Madrasah secara bahasa memiliki makna “membaca” sekaligus tempat belajar, sehingga terjadi proses saling belajar bagi siapapun yang ada di dalamnya. Madrasah atau tempat belajar, tentunya sangat erat kaitannya dengan pendidikan.

Mengacu pada UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Ramadhani, 2020)

Sedangkan, pendidikan sendiri menurut Ki Hajar Dewantara adalah suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak (Ihsan, 2021).

Melihat dari beberapa kutipan di atas, tentunya pendidikan memiliki peran penting dalam setiap kehidupan. Pendidikan benar-benar diharapkan mampu menjadi tuntunan atau pencerahan dalam perjalanan hidup manusia.

Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Begitu pula orang yang berilmu tinggi pasti mampu merenungi ilmunya secara mendalam.

Sehingga ilmu tidak saja membeku di dalam otak, namun mampu berbuah yang melahirkan akhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri, dan selalu bertanggung jawab atas ilmu yang didalaminya.

Pada konteks realitas di lapangan, tentunya saya yakin para pembaca gangkecil.com lebih cerdas daripada saya soal memahami kondisi lapangan pendidikan hari ini.

Baca Juga:  Jepang

Semenjak tahun 2019 lalu, dunia telah ditetapkan status pandemi covid 19. Pada saat itu sedang merebak virus corona yang mengguncang seluruh dunia. Segala bentuk aktivitas harus dipaksa dilakukan dari rumah dengan alasan keamanan dan kesehatan.

Parahnya, kondisi ini juga membuat aktivitas perekonomian masyarakat terganggu, bahkan aktivitas pendidikan juga harus dilakukan melalui rumah.

Kini gedung-gedung lembaga pendidikan semakin menjulang tinggi, namun gedung-gedung itu tampak angker karena jarang ditempati untuk belajar.

Hampir seluruh aktivitas belajar hampir 75% lebih telah dialihkan di dunia maya melalui berbagai macam platform digital. Kondisi ini tentunya membuat sebagian besar mahasiswa, pelajar mengalami banyak kegabutan.

Akan tetapi di balik kegabutan, sebagian orang juga dapat merasakan hikmahnya, artinya mampu mengalihkan dengan hal-hal yang positif.

Pertemuan Malam Jumat

‘Dilarang Berkerumun’ membuat sejumlah pemuda selalu melakukan pertemuan rutin pada setiap malam Jumat. Pertemuan itu terpusat pada salah satu teras rumah yang berada di perumahan di jln. Panglima Polim Bojonegoro, Jawa Timur.

Kelompok tersebut menamai diri “Madrasah Alternatif Guratjaga”. Nama Madrasah Alternatif Guratjaga diresmikan sejak November 2021.

“Sejak diresmikan sebagai ruang belajar pada Januari 2021 lalu, Madrasah Alternatif Guratjaga terus konsisten menggelar acara rutin Kamisan hingga saat ini. Jumlah pesertanya pun selalu konsisten, tak pernah lebih dari 5 orang.” ucap Kepala Madrasah, Yogi Abdul Gofur, sambil tertawa.

Yogi bercerita, awal terbentuknya forum ini sebenarnya dimulai dari pertemuan sejumlah pemuda dari warung kopi ke warung kopi. Menurut dia, Guratjaga berawal dari pegiat warung kopi yang ingin belajar (lebih) tentang literasi.

“Diantaranya Mas Wahyu Rizky, Widodo, dan saya. Dimulai dari kegiatan diskusi kecil-kecilan, kemudian digelar secara rutin setiap malam Jumat di teras rumah Mas Wahyu Rizky”. Imbuh Yogi.

Baca Juga:  Karya Ahmad Tohari di Antara 2 Budaya, Dilema Seorang Penerjemah

Uniknya, Madrasah Alternatif Guratjaga ini tidak memiliki bangunan fisik berupa gedung seperti halnya lembaga pendidikan pada umumnya. Namun memiliki bangunan tak kasat mata berupa kurikulum, sehingga proses saling belajar tetap berlangsung. “Agar guratan karya (literasi) senantiasa lestari dan terjaga (istiqomah), guratjaga ada,” tuturnya.

Secara harfiah (kata) sendiri, berasal dari kata gurat dan jaga. Menggurat karya, dan kemudian menjaganya. Lambat laun, tumbuh dan berkembang, ada diskusi kurikulum, sema’an karya saban Kamis malam itu. “Dan sekarang (masih dan terus) berproses menjadi Madrasah Alternatif Guratjaga,” ungkap Yogi.

Mempertahankan yang lama yang masih baik dan menerima nilai baru yang lebih baik

Madrasah Alternatif Guratjaga mampu berkonsentrasi hingga menyentuh titik inti dari suatu keilmuan. Selain terpusat di teras rumah, kegiatannya terkadang juga digelar di emperan taman Rajekwesi.

Seperti Rabu (03/11/2022) kawan-kawan dari Madrasah Alternatif Guratjaga memulai kegiatan belajar perdana untuk angkatan pertama sekolah yang melabeli diri sebagai lembaga Tradisionalis Kontemporer tersebut.

Kegiatan ngangsu kaweruh (belajar) dihelat di Taman Rajekwesi, Bojonegoro kota. Di angkatan pertama, kawan belajar tidak banyak. Tetapi antusias untuk ngangsu kaweruh (belajar) tinggi. Forum belajar seperti ini merupakan kemerdekaan belajar sebagai medium mensyukuri nikmat dari Tuhan.

Sistem pendekatan belajar yang digunakan pada madrasah ini dilabeli dengan nama “Tradisionalis Kontemporer”. Mempertahankan yang lama yang masih baik dan menerima nilai baru yang lebih baik. Melacak narasi yang pernah ditulis salah satu peserta Madrasah Alternatif Guratjaga yang bernama Widodo Romadhoni.

Dia menulis “Pembacaan Fatihah dan Surat Yasin, adalah bukti penting sekaligus pengingat bahwa kami seorang tradisionalis yang selalu memegang tradisi positif orang-orang terdahulu. Setelah pembacaan Surat Yasin, agenda berikutnya adalah sema’an karya. Di mana, para peserta belajar harus mengumpulkan karya tulis berupa opini pribadi yang telah disiapkan dari rumah masing-masing, untuk kemudian disimak bersama-sama.”

Baca Juga:  Olimpiade Aswaja Nasional Prodi PAI Unugiri Diikuti Mahasiswa dari Kampus Lintas Provinsi

Selalu diawali dengan tawasul, yasin dan tahlil

Madrasah Alternatif Guratjaga selalu mengawali forum dengan membaca tawasul, yasin, dan tahlil. Mereka selalu memegang teguh dan berupaya mempertahankan tradisi kaum tradisionalis yang masih baik.

Tawasul, yasinan, dan tahlilah merupakan tradisi yang tetap harus dipertahankan di tengah derasnya arus modernisasi. Agar tidak terjebak pada ritual saja, setelahnya kami juga melakukan semaan karya yang ditulis para peserta dan membahas keilmuan-keilmuan kontemporer.

Pembahasan keilmuannya pun tidak monoton pada satu ruang saja, namun lebih luas yang meliputi filsafat, ideologi, sains, ekonomi, psikologi, kebudayaan, politik, dan berbagai keilmuan lainnya.

Melalui forum seperti ini, ruang “saling belajar” menjadi semakin luas dan tidak terbatas. Selain itu Madrasah Alternatif Guratjaga juga dijadikan sebagai ruang media meneguhkan ke-istiqomah-an. Hampir setiap malam jum’at kami tidak pernah absen, dan selalu konsisten melaksanakan kegiatan di malam Jumat.

Jumat adalah hari yang agung, dengannya Allah mengagungkan dan menghiasi Islam. Allah memuliakan umat Muhammad SAW dengan hari Jumat, yang tidak diberikan kepada umat-umat nabi terdahulu (Bih, 2021). Hari jum’at merupakan hari yang penuh dengan kemuliaan, untuk menghormati hari jum’at kami selalu berusaha mengisi dengan sesuatu yang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *