Maling Teriak Maling

0
1304
foto: pinterest

Masih ingat dengan sepeda pancal yang dipakai Mukicoi dan Mukidin untuk beli soto yang uangnya kurang pada kisah Soto dua Porsi? Sepeda itu ternyata punya buntut cerita panjang.

Begini. Sepeda itu salah satu dari kendaraan operasional organisasi, khususnya bagi beberapa teman luar kota Kediri yang nggak punya kendaraan. Sepeda pancal tersebut merupakan hibah dari salah satu teman untuk organisasi, dan Mukicoi diminta sebagai orang yang bertanggungjawab untuk merawatnya.

Mukicoi terlihat senang dengan tanggungjawab itu. Karena kebiasaannya yang tidak bisa diam, sepeda menjadi teman menikmati suasana kota Kediri. Bahkan sering sekali ia tak diketahui ke mana, padahal saat itu sepeda sangat dibutuhkan untuk aktivitas keorganisasian.

Tapi kami sudah bersepakat tidak menyalahkan Mukicoi. Bukan karena apa-apa. Ya karena memang begitulah dia adanya. Dan kalau dipikir-pikir, kamilah yang salah karena memberi tanggungjawab itu kepada Mukicoi. Jadi kami tahu diri. Nerimo.

Nah, ceritanya sepeda tiba-tiba hilang. Mukicoi lupa meninggalkannya entah di mana. Yang kami ingat terakhir kami melihat Mukicoi memakai sepeda tersebut di saat kita punya kegiatan sunday meeting yaitu pertemuan mingguan para pembelajar bahasa Inggris untuk belajar dan berlatih berbahasa Inggris. Waktu itu bertempat di area parkir balai Kota Kediri. Kita memang sering menggunakan area parkir tersebut, karena tempatnya yang luas dan beratap sehingga terlindung dari terik matahari dan hujan.

Mukicoi dan kami pun baru menyadari bahwa sepeda itu tidak ada setelah beberapa hari. Mukicoi sudah berusaha mencari dengan mengecek di beberapa tempat yang biasa dia datangi dan menanyakan penjaga tempat-tempat tersebut. Tetapi hasilnya nihil. Dan kami tidak bisa menyalahkan apalagi meminta dia mengganti.

Karena sepeda pancal yang dia pakai sudah tidak ada, Mukicoi seringkali meminjam sepeda motor teman-teman untuk aktifitasnya. Suatu saat ketika Forum Putra Daerah Peduli Pendidikan (FPDP2) mempunyai kegiatan di area wisata gunung klotok, tepatnya di Museum Airlangga, Mukicoi mendapat tugas untuk untuk belanja kelengkapan kegiatan yang kurang.

“Din pinjam motornya untuk beli spidol,” kata Mukicoi kepada Mukidin.

Setelah mendapatkan kunci motor, segera Mukicoi menuju motor yang terparkir di depan museum dan pergi.

“Ini Din kuncinya,” kata Mukicoi mengembalikan kunci motornya sepulang dari belanja.

“Aman kan motornya?,” kata Mukidin memastikan kondisi motornya sambil menerima kunci dari Mukicoi.

“Amanlah,” jawab Mukicoi sambil senyum.

Sesaat setelah mengembalikan kunci motor ke Mukidin, tiba-tiba Mukicoi berlari mengejar seorang bapak yang menaiki motor ke luar Museum.

“Pak.. Pak.. berhenti pak..,” teriak Mukicoi sambil mengejar bapak tersebut.

Melihat Mukicoi berlari dan panik sambil berteriak-teriak, kami teman-temannya termasuk Mukidin ikut berlari mengejar Mukicoi untuk mengetahui apa yang terjadi.

Mendengar dirinya di teriaki, bapak tersebut segera berhenti.

“Ada apa mas?,” tanya bapak tersebut kebingungan.

“Ini motor saya pak, kok bapak bawa?,” Mukicoi balik bertanya. Bapak tersebut kaget dan mukanya merah tanda ia marah.

“Ngawur, ini motor saya. Sampean jangan macam-macam?,” jawab bapak tersebut dan balik bertanya.

“Ia pak, ini motor teman saya. Ini orangnya,” kata Mukicoi sambil menunjuk pada Mukidin.

“Ya kan Din?,” tanya Mukicoi kepada Mukidin. Yang ditanya kebingungan.

“Maaf pak. Ada salah paham. Ini bukan motor saya. Motor saya di sana itu di parkiran,” jawab Mukidin.

Mukicoi jadi kebingungan. Dan dengan cepat ia meminta maaf kepada bapak tersebut. Untungnya bapak itu nggak memperpanjang masalah.

“Maaf pak, maaf banget. Saya kira ini motor teman saya.. maaf ya pak,” kata Mukicoi kepada bapak tersebut.

Giliran kami yang heran. Apa sebenarnya maunya Mukicoi.

“Kamu gimana to Coi.. barusan kan kamu pakai motorku masak dah lupa. Kebangetan,” Kata Mukidin kedewan kepada Mukicoi.

Tapi Mukicoi malah tertawa terbahak-bahak.

Kami semakin bingung.

“Aku tadi beli spidol pakai motornya bapak tadi lho Din, kirain itu punyamu Din,” kata Mukicoi sambi tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha…..” meledakklah tawa kami.

Kok bisa kuncinya sama ya. Oalah Coi.. Mukicoi

 

SHARE
Penulis menerbitkan buku Urip Mung Nderek Ngguyu, Menabur Tawa Menuai Bahagia (2019). Alumni Ponpes Attanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro. Kini Tinggal di Kediri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here