Media di Bojonegoro, Secuil Cerita Masa Lampau

Sejak kapan dunia penerbitan surat kabar di Bojonegoro ada? Bagaimana dunia wartawan di masa lampau?

“Saya mulai masuk menjadi wartawan Jawa Pos dan ditugaskan di Bojonegoro tahun 1986,” kata Mundzar Fahman, seorang jurnalis senior yang selepas pensiun mengabdikan diri di dunia kampus.

Waktu itu Mundzar berusia sekitar 30 tahun. Ia melamar posisi wartawan Jawa Pos berbekal kegemarannya menulis resensi dan artikel yang sebagian juga dimuat di Jawa Pos. Diterima sebagai wartawan, ia ditugaskan untuk daerah liputan wilayah Bojonegoro-Lamongan.

Saat ia masuk Bojonegoro, di kabupaten ini sudah banyak sekali wartawan. Termasuk koresponden Jawa Pos bernama (Pak) Usman. Selain wartawan Jawa Pos, beberapa wartawan juga meliput wilayah Bojonegoro. Seperti Bambang Soen, Budiono Darsono, Jayus Pete dan banyak nama lainnya.

Wartawan era 80 hingga 90-an adalah wartawan-wartawan dengan notes dan pulpen. Pesawat telepon rumah sudah ada, tapi jumlahnya sangat jarang, sehingga mereka mengandalkan kaki, bukan ponsel.

Baca Juga:  Cerita Muhamad Ali, Peternak Sapi yang Pernah Belajar di Australia

“Jam 10 pagi, saya sudah mulai menulis pakai mesin ketik. Belum ada mesin fax apalagi email. Hasil ketikan di kertas saya masukkan ke amplop. Lalu saya bawa ke terminal untuk dititipkan bus ke arah Surabaya. Dulu terminal di sana, Jalan Rajegwesi yang sekarang jadi taman itu,” cerita Pak Mundzar.

Pada masa itu, para wartawan kebanyakan sekaligus seorang penulis. Jayus Pete misalnya adalah seorang sastrawan bahasa jawa yang cukup terkenal. Para wartawan biasanya nongkrong di sekitar Apotek Bojonegoro yang berada di perempatan Mbok Mbok kini. Atau tepatnya di depan Toko Buku Nusantara saat masih berada di Jalan Panglima Sudirman.

Zaman berkembang. Dunia pers pun berkembang, termasuk Jawa Pos yang mulai mengembangkan Radar di sejumlah daerah. Termasuk di Bojonegoro. Awalnya, Radar Bojonegoro dalam bentuk biro dan berkantor di Jalan Diponegoro. Lalu tahun 2001, Radar Bojonegoro mulai berkantor di Jalan Panglima Polim dan memiliki beberapa wartawan di Bojonegoro dan daerah sekitar. Saat itu, Radar Bojonegoro dipimpin oleh Aris Sudanang.

Baca Juga:  Jonathan Rahardjo dan Proses Memaknai Kehidupan dengan Menulis Buku

“Setelah saya menjadi wartawan Jawa Pos di Bojonegoro, saya ditarik ke Surabaya dan meliput wilayah Gresik. Setelah itu juga menjadi Koordinator Liputan untuk Radar Banyuwangi yang saat itu baru berdiri. Dan tahun 2002, saya memulai menjadi Direktur Radar Bojonegoro,” kenangnya. Radar kemudian pindah ke Jalan Ahmad Yani seperti saat ini.

Tapi, sebelum tahun 2000, tepatnya tahun 1999, usai Departemen Penerangan ditutup, Dinkominfo Pemkab Bojonegoro bermaksud mendirikan koran. Salah satu orang yang menggodog berdirinya media pelat merah itu adalah Mugito Citrapati yang saat itu menjadi koresponden Panjebar Semangat di Bojonegoro.

Pendek cerita, lahirnya Warta Bojonegoro dalam bentuk tabloid yang cetak setiap bulan sekali. Warta Bojonegoro dalam perjalanannya berubah-ubah bentuk dengan pernah menjadi koran (ukuran Jawa Pos), kembali ke bentuk tabloid, hingga akhirnya tahun 2019 berubah bentuk menjadi majalah.

Baca Juga:  Menjadi Pemulung di Mayantara

Kelahiran Warta Bojonegoro hampir bersamaan dengan Radar Bojonegoro. Jika Radar Bojonegoro diterbitkan oleh perusahaan yang berkantor di Surabaya atau menjadi bagian dari koran nasional Jawa Pos, berbeda dengan Warta Bojonegoro yang merupakan surat kabar yang semua majamenen penerbitannya dikelola di Bojonegoro. Maklum Warta Bojonegoro milik Pemkab Bojonegoro.

Ket: pernah dimuat di Warta Bojonegoro edisi Juni 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *