Media Sosial dan Konsep Curhat di Zaman Nabi

Kita seringkali mendengar atau bahkan melakukan curhat. Curhat, dalam KBBI diartikan sebagai menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi pada orang terdekat.

Jika mengikuti definisi ini, maka kriteria ‘curhat’ ada dua, terhadap sesuatu yang bersifat privat dan disampaikan pada orang terdekat. Kenapa kepada yang terdekat? mungkin maksudnya agar lebih aman dan yang dicurhati terpercaya tidak ‘ember’ atau suka bocorin rahasia.

Tapi, apakah kenyataannya demikian? Tidak ada yang bisa menjamin. Banyak bukti, urusan privasi yang diceritakan pada orang lain justru menuai masalah. Meski keluarga atau teman dekat, tetep saja tidak bisa terjamin keamanannya.

Lebih mirisnya lagi di era sosial media, curhatan yang bersifat privasi pun ‘nongol’ di beranda FB, insta-story, atau story WhatsApp. Saya tidak tahu apakah setelah menulis curhatan di berbagai platform tersebut, semakin ‘plong’ atau malah semakin ‘ruwet’.

Baca Juga:  Hilangnya Unsur Bermain dalam Sepakbola

Seingat saya, saya tidak pernah melakukannya. Sebab, menuliskan curhatan di sosmed sangat berpotensi memperkeruh suasana, baik lahir maupun batin.

Apakah di zaman Nabi ada yang curhat pada beliau, atau pernahkah beliau curhat?

Nabi dan Rasul selain menerima wahyu (jika Rasul malah harus menyampaikan kepada umat) juga bertugas mendampingi, mengayomi dan mengajar umat.

Hampir setiap hari, tiap Nabi mengajar para sahabat, mereka tidak sungkan bertanya pada Nabi, banyak dari sahabat yang curhat pada Nabi atas aneka ragam permasalahan hidup mereka (banyak hadits tentang curhatan sahabat Nabi).

Ada yang karena kelamaan menjomblo, susah mencari jodoh, curhat dan meminta pada Nabi, ada yang usai melakukan dosa besar dan pingin tobat kemudian curhat, ada pula yang urusan-urusan sepele, misal ‘bojo galak’ hehe.

Nabi selalu melayani curhatan dengan sabar dan memberikan solusi. Karena hal itulah kita sering menjumpai hadits yang,  jika kita baca secara tekstual, kita menemukan ketidakkonsistenan Nabi dalam menjawab sebuah hukum, padahal anggapan ini salah.

Baca Juga:  Sebebas Apa Kita Bermedia Sosial?

Sebagai contoh, ketika Nabi ditanya, amal apa yang paling baik? Nabi pernah menjawab: sholat pada waktunya, pernah juga Nabi menjawab berbuat baik pada orang tua. Nabi seringkali menjawab pertanyaan sesuai dengan kondisi penanya, dari jawaban Nabi itu kemudian menjadi sebuah hukum.

Ketika Nabi masih hidup, semua sahabat curhatnya pada Nabi langsung, sehingga urusan selesai dan beres di tangan beliau, sepeninggal beliau, apalagi saat ini posisi kita sudah jauh dengan Nabi, kepada siapa kita akan curhat?

Nabi punya para pewaris yaitu ulama’/kyai (sesuai dengan al ulama’ waratsatul anbiya’), tentu para pewaris tidak hanya mewarisi ilmu, hikmah dan akhlak beliau saja, tapi juga mewarisi keruwetan umat, pisuhan dan hinaan umat dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Jurnalisme Media Sosial

Ulama mungkin tidak selalu bisa memberikan solusi tepat, tapi setidaknya akan menunjukkan jalan yang sesuai syariat, dan satu lagi, ulama/kyai jika dicurhati, seringkali mengasihi, bukankah kriteria ulama/kyai adalah alladzina yandzurul ummah bi ainir rahmah (mereka yang melihat umat dengan pandangan kasih sayang)?

Selamat berhari Jumat kawan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *