BUKU  

Membaca Dunia Sophie Epesode Mitos-Mitos; Seleksi Alam Itu Mitos Atau Fakta?

Sumber: Pixabay

Mitos tidak dapat dihakimi begitu saja, sebab awal mula lahirnya sains selalu berkaitan dengan mitos.

Perasaan yang membosankan kini semakin menghantui Sophie, gadis berusia 14 tahun saat sedang berada di sekolahan. Sepulang dari sekolah Sophie mengecek kembali kotak surat di rumahnya. Kali ini bukan surat dari filosof misterius yang didapatnya. Dalam kotak tersebut, kini pertama kalinya dia menerima surat dari ayahnya yang bercerita tentang kerinduan terhadap anaknya.

Selain kerinduan, ayah Sophie juga menceritakan dirinya yang hampir selesai membaca tumpukan buku yang dia bawa saat berlayar. Pikirku: hebat sekali orang itu, seorang kapten di balik banyak kesibukannya masih sempat membaca tumpukan-tumpukan buku.

Memang benar dalam sejarah kebangsaan kita, setiap tokoh besar yang lahir pastilah dia seorang pembaca yang kuat dan baik.

Hal ini tidak saja terjadi pada tokoh besar nasionalis, lihatlah tokoh besar agama yang lahir. Jika kita mau melihat riwayatnya lebih dalam, dapat dipastikan mereka semua adalah pembaca yang kuat dan baik. Selain membaca, mereka juga para penulis serta para pendidik tanpa tanda jasa. Mereka semua mendidik masyarakat tanpa bayaran, serta tidak terkungkung dalam sistem dan gedung-gedung.

Gambaran Mitologi Dunia

Sekarang kita mencoba bersama-sama untuk memasuki pembahasan gambaran mitologi dunia. Mitos merupakan suatu cerita atau gambaran Dewa-Dewa guna menjelaskan mengapa kehidupan dapat berjalan seperti adanya. Jadi sebelum munculnya filsafat di Yunani, mitos-mitos tentang kehidupan telah berkembang terlebih dahulu.

Kedatangan para filosof Yunani kemudian menentang mitos-mitos yang telah berkembang dengan berusaha memberikan bukti-bukti bahwa penjelasan mitos tidak bisa dipercaya. Guna memasuki pemikiran para filosof kita harus memahami gambaran mitos terlebih dahulu.

Setiap mitos yang berkembang di seluruh dunia pasti selalu didapti adanya suatu keseimbangan yang rawan antara kekutan baik dan kekuatan jahat.

Setiap mitos yang disuguhkan pasti membahas tentang adanya pertentangan antara kekuatan jahat dan kekuatan baik. Selain itu juga mengenai tentang penjelasan suatu fenomena yang dijelaskan melalui cara yang kurang ilmiah. Sehingga sangat sulit untuk dinalar oleh logika dan cenderung dipercayai begitu saja. Tugas filsafat ialah salah satunya membongkar mitos-mitos agar dapat dijelaskan secara ilmiah.

Baca Juga:  E-book di Tengah Hiruk Pikuk Hari Buku 

Mitos Thor dan Palunya

Salah satu mitos yang paling terkenal di wilayah Skandinavia ialah Thor dan Palunya. Konon, bagi para petani Viking, Thor dipuja sebagai Dewa Kesuburan.

Menurut mereka ketika sedang terjadi hujan, maka Thor sedang mengayunkan palunya. Sehingga dengan terjadinya hujan, tumbuh-tumbuhan dapat berkecambah dan hidup dengan subur. Dan mereka tidak dapat memahami mengapa tumbuh-tumbuhan dapat hidup setelah hujan.

Selain itu Thor juga dianggap dewa yang sangat penting yang mampu mengamankan wilayahnya dari kekuatan jahat para raksasa. Si raksasa inilah nantinya yang dianggap sebagai kekutan jahat, raksasa akan mengacaukan wilayah Midgard dengan cara menculik Dewi Freyja. Jika Dewi Freyja diculik oleh raksasa, maka di ladang tidak akan ada tumbuh-tumbuhan. Bahkan para perempuan tidak dapat memiliki anak, mereka telah menganggap Dewi Freyja adalah Dewi Kesuburan.

Selain dapat digunakan untuk membuat hujan, palu Thor juga dianggap sebagai senjata yang dapat membunuh raksasa. Cerita tentang Thor ini telah menggambarkan tentang keseimbangan alam dipertahankan dengan terjadinya pertempuran antara kekuatan baik dan jahat.

Para filosof pun menentang tentang pemikiran tersebut. Pasalnya kondisi ini membuat orang-orang di sana hanya berpangku tangan ketika sedang terjadi bencana kekeringan. Mereka hanya mengharap kepada para sang Dewa, sehingga ketika kekeringan melanda dianggapnya Palu Thor sedang dicuri oleh raksasa. Menyikapi hal ini, orang-orang melakukan upacara sesembahan dengan seekor kambing, bahkan manusia. Sesembahan tersebut dipercaya dapat menambah kekuatan kepada Thor, sehingga dapat merebut kembali palunya dan menurunkan hujan.

Seleksi Alam Mitos atau Fakta?

Baca Juga:  Meditation of Room

Membahas episode “mitos-mitos” membuat pikiran saya harus dipaksa mengingat kembali perdebatan beberapa tahun silam. Dalam suatu organisasi orang-orang seperti kita ini menggunakan kata “seleksi alam” sebagai analogi terhadap suatu fenomena hilangnya seseorang dari peredaran proses secara tiba-tiba. Saya ingat betul, kala itu perdebatan sangat sengit dan sepakat mengatakan seleksi alam adalah mitos.

Seleksi alam memang benar dapat dikatakan sebagai mitos, jika orang-orang seperti kita mampu melihat jelas fenomena di baliknya. Sebab sesuatu yang terjadi tentu berkaitan dengan kita, dan seleksi alam telah tiada. Ketika kita mampu melihat duduk persoalannya secara jelas, maka kata “seleksi alam” ini akan lenyap dengan sendirinya. Sehingga kepekaan sosial kita terasah dan selalu berusaha melahirkan sikap serta keputusan yang tepat dalam menyikapi permasalahan tersebut.

Kata seleksi alam ibarat dua mata pisau yang tajam, selain dapat dikatakan mitos juga dapat dikatakan sebagai fakta. Seleksi alam dapat dikatakan sebagai fakta, jika orang-orang seperti kita ini tidak mampu melihat permasalahan di baliknya secara jelas. Maka yang nampak di depan mata hanyalah “seleksi alam” dan orang seperti kita tak dapat menjelaskan secara ilmiah.

Sehingga cenderung melakukan pembiaran terhadap suatu permasalahan yang ada. Kalau anak-anak bilang “diam tolah-toleh, bergerak salah kabeh”, selebihnya Wallahu A’lam Bi_Shawab.

Pertentangan para filosof dengan mitos

Mitos-mitos yang terjadi sedang mencoba menggambarkan penjelasan kepada orang-orang mengenai sesuatu yang tidak dapat mereka pahami. Tidak berhenti disitu, masalahnya, mitos juga dapat mempengaruhi kebudayaan orang-orang setempat. Pada tahun sekitar 700 SM, mitologi Yunani ditulis oleh Homer dan Hesiod, dalam bentuk tulisan inilah mitos dapat diperdebatkan.

Para filosof menganggap mitos ialah hasil pemikiran manusia, para dewa dianggap terlalu menyerupai manusia. Bahkan sama egoisnya dan sama curangnya, bahkan dewa-dewa itu dilahirkan dan mempunyai badan. Pemikiran inilah yang nantinya membuat para filosof Yunani mengecam dan menentang mitos-mitos yang telah terjadi pada saat itu.

Baca Juga:  Buku Tjalon Wartawan Karya Zain A.S.

Salah satu filosof yang bernama Xenophanes mengungkapkan “Manusia menciptakan dewa-dewa sesuai dengan bayangan mereka sendiri”. Mungkin, jika tidak dilakukan pertentangan dewa-dewa dapat diciptakan sesuai keinginan dan kepentingan manusia.

Pertentangan-pertentangan inilah nantinya yang akan menjadi awal mula lahirnya sains.

Perkembangan Cara Pikir Mitologis ke Cara Pikir Berdasarkan Pengalaman dan Akal

Pada masa itu orang Yunani memulai dengan mendirikan banyak negara dan kota, setiap warga negaranya dapat secara bebas dengan memikirkan politik dan kebudayaan. Sehingga orang-orang mulai berpikir dengan cara-cara yang baru, setiap warga negara secara bebas dapat bertanya sebagaimana mestinya masyarakat diatur.

Adanya kebebasan inilah, orang-orang mulai mengajukan pertanyaan secara filosofis yang masih berkaitan dengan mitos-mitos kuno. Pada saat itulah orang-orang juga berusaha keras dalam berpikir untuk mendapatkan jawabannya. Sehingga sedikit demi sedikit ada beberapa mitos yang mulai tergerus dan mulai ditinggalkan oleh penduduk setempat.

Pada fase inilah, orang-orang dapat memaknai perkembangan cara berpikir mitologis ke cara berpikir yang berdasarkan pengalaman dan akal. Artinya banyak mitos yang mulai terpatahkan oleh penjelasan-penjelasan ilmiah. Filsafat Yunani pada fase ini memiliki tujuan untuk menemukan penjelasan-penjelasan proses alam secara ilmiah.

Mitos pada saat itu diciptakan oleh manusia sebagai penjelasan mengenai suatu proses alam sebelum adanya sesuatu yang bernama SAINS.

Tunggu di episode selanjutnya “Para Filosof Alam”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *