Membaca Post Rock dan Post Modernism di Warung Kopi

dinohzaur.blogspot.com

Belakangan ini, di warung kopi, selain fenomena “Mobile Legend”, saya juga kerap menjumpai diskusi-diskusi yang melibatkan istilah “post” di dalamnya. Mulai dari istilah post-modernism, post-colonialism, post-sixtyfive, hingga post dangdut.

Kata post sendiri adalah sebuah prefiks dalam bahasa Inggris yang mempunyai makna: pasca atau setelah. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa post-modernism berarti setelah modernisme, post-sixtyfive berarti setelah peristiwa enam lima [yang seharusnya peristiwa enam enam], dan post dangdut, merupakan subgenre dangdut yang lahir pasca dangdut era Bang Haji Rhoma: koplo, salah satunya.

Dalam dunia musik kita mengenal istilah post-rock yang apabila diterjemahkan seperti di paragraf sebelumnya bisa berarti “setelah rock”. Artinya, dari sudut pandang lini masa, post-rock lahir setelah rock. Tetapi, apakah hanya melalui penalaran waktu saja kita dapat memaknai istilah musik post-rock?

Post-rock, menurut Simon Reynolds, adalah memainkan musik bukan rock menggunakan instrumen-instrumen musik rock, dan lebih mengutamakan texture dan timbre daripada power chord. Simon Reynolds sendiri seorang jurnalis dan kritikus musik asal Inggris yang mengklaim sebagai orang pertama yang menelurkan istilah post-rock pada 1994 lalu.

Baca Juga:  Dunia Sophie Episode Takdir; Seni Melogikakan Takdir

Tortoise, Bark Psychosis, Slint, Talk Talk, dan Flying Saucer Attack adalah band-band generasi pertama yang memainkan musik post-rock sesuai definisi Reynolds. Dimana, masing-masing band memasukkan unsur yang berbeda seperti jazz, ambient, electronic, dll dalam rupa-suara musik yang mereka sajikan.

Pada rentang  1996-1997, muncul band-band post-rock generasi kedua seperti Mogwai, Godspeed You Black Emperror, Explosion In The Sky, Sigur Ros, Mono, A Silver Mt Zion yang merubah total prinsip post-rock dari sebelumnya. Post-rock sekarang ini memakai formula Quiet/Loud, Build up Crescendo, dan jarang sekali memakai verse-chorus-verse. Alur musiknya kerap memakai prinsip build up momentum yang diakhiri dengan klimaks.

Post-rock sendiri adalah genre musik yang sangat eksperimental dan diverse dalam perkembangannya. Genre musik lain seperti jazz, electronic, ambient, metal, dll sangat bisa diintegrasikan ke dalam genre musik yang satu ini. Saya sarankan, bagi musisi Indonesia yang tidak sibuk nyalon bupati atau gubernur, mungkin bisa mencoba-coba meraciknya dengan kombinasi musik lokal nusantara seperti dangdut atau gamelan.

Baca Juga:  Mengembalikan Kejayaan Buah Salak Wedi

Dalam praktiknya, post-rock merupakan genre musik yang tidak terlalu mengedepankan skill dalam bermusik. Walaupun banyak band-bandnya yang memainkan musik instrumental, namun notasi dan chordnya lebih membumi. Tidak seribet musik rock instrumental genk G3 yang sampai ujung jari-jari keras, saya tetap tidak bisa menirukan notasi melodinya. Hmmh.

Seperti halnya istilah post-modernism yang kerap dikaitkan dengan dekonstruksi yang cenderung dinamis dan kontekstual dalam memaknai sesuatu, bagi saya, musik-musik post-rock mempunyai kecenderungan yang sama. Meski musiknya telah memiliki judul dan sang musisi juga sudah mendeskripsikan makna lagu ke dalam lirik, namun, saya sebagai pendengar selalu memperoleh kesan dan emosi yang berbeda-beda ketika mendengarkan lagunya.

Saya pribadi sangat menyukai genre musik ini. Band-band favorit saya seperti Sigur Ros, Mogwai, God Is An Asrtronout, Hammock dan juga This Will Destroy You selalu bisa menghadirkan kesan ruang dan emosi yang selalu berbeda ketika mendengarkannya. Contohnya pada lagu “Take Me Somewhere Nice – Mogwai”.

Pada saat pertama kali mendengarnya, saya merasa berada di suatu tempat yang tenang dan damai dengan rumput hijau dan dikelilingi oleh pepohonan. Namun, pada proses mendengar untuk kedua kalinya, saya merasakan suatu kesedihan yang begitu luar biasa, seolah akan terjadi perpisahan yang mendesak dengan orang-orang di sekeliling saya.

Baca Juga:  Imbang Lawan Singapura di Leg Pertama, Indonesia Harus Menang di Leg Kedua

Berbeda dari musik rock yang selalu terkesan glamour dan extravagant, dari segi musik maupun gaya hidup, musik-musik post-rock terasa lebih membumi. Kemurnian musiknya lebih diunggulkan untuk memberi kesan ruang dan rasa sehingga terkesan lebih sunyi dan kontemplatif. Mungkin sebab itulah musik ini kurang diminati di pangsa mainstream, terutama di Indonesia yang memang suka dengan hal-hal yang berbau keributan. Yha khan?

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *