Mengarang Sejarah Bodjonegoro

0
145

Sejarah berasal dari bahasa Arab syajarotun yang berarti pohon, keturunan, atau asal usul. Pada abad ke-13, bahasa melayu mengenal istilah “syajarah” yang mirip dengan pengucapan “sejarah” di masa modern kini. Lalu muncul juga istilah riwayat, hikayat, babad, dan lain sebagainya. Namun, istilah-istilah yang dipakai oleh masyarakat melayu silam itu tidak sama artinya dengan sejarah yang kita kenal sekarang. Pasalnya, istilah sejarah kini punya konotasi Barat. Sejarah disamakan dengan history. History berasal dari bahasa Yunani yang artinya “belajar dengan bertanya-tanya”.

Sejarah/history dengan perspektif Barat punya timbangan yang berbeda denggan tradisi “sejarah” di masyarakat masa lampau di Indonesia dan terkhusus Jawa. Timbangan-timbangan itu kemudian mampu menjustifikasi mana sejarah yang obyektif dan mana yang tidak obyektif. Hal ini memang menjadi sebuah perdebatan yang tak berujung. Akan tetapi yang pasti terjadi kini adalah kita mengenal nama-nama ahli sejarah seperti Gibbon, Hegel, Von Rakne, Toynbe, dan lainnya. Kita tidak akan pernah mendengar nama-nama Mpu Prapanca, Mpu Tantular atau Yasadipura sebagai ahli sejarah. Kenapa? Ya karena ukuran ahli sejarah adalah Barat.

Padahal, Mpu Prapanca misalnya mempunyai karya agung berjudul Nagarakertagama. Karya itu diteliti hingga kini. Namun, dengan menggunakan kacamatan sejarah ala Barat tersebut, maka Prapanca kurang masuk hitungan sebagai ahli sejarah. Salah satu yang meragukan Prapanca adalah Prof. Dr. C.C. Berg. Berg menilai Prapanca telah memalsukan beberapa data tentang Raja-Raja Singasari. Sutjipto Wirjosuprapto dalam tulisannya “Prapantja sebagai Penulis Sedjarah” yang ditulis tahun 1960 menyanggah asumsi sang profesor tersebut.

Prapanca saat menyusun Kitab Nagarakertagama telah berusaha untuk melakukan “obyektivitas”, memilih narasumber yang dinilai kredibel. Oleh karena itu, keraguan Berg atas kualitas Nagarakertagama dinilai Sutjipto hanya karena alasan politis bahwa Barat menginginkan posisi lebih unggul.

Saya menyukai jalan pikiran William H. Frederick dan Soeri Soeroto yang menyunting buku berjudul Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi terbitan LP3ES tahun 1982.  Tulisan Sutjipto Wirjosuprapto adalah salah satu subjudul dalam buku tersebut. Di bab awal, Frederick dan Soeroto menulis tentang perbedaan antara sejarah dan masa lampau. Masa lampau adalah masa di mana kejadian itu berlangsung yang tak akan mungkin diulang atau dilihat. Dan sejarah tak lain sekadar perspektif untuk bisa melihat masa lampau tersebut.

“Bila sesuatu berada di masa lampau, ia berada di masa itu dalam arti yang mutlak….Kita tidak bisa berkunjung ke masa lampau…Masa lampau hanya satu, tapi pandangan manusia terhadapnya senantiasa berubah dan berbeda-beda tanpa pembatasan”. (hal: 4).

Oleh karena itu sejarah adalah sebuah pemikiran untuk menafsirkan masa lampau. Meski sejarah ditulis, difilmkan, atau diungkapkan dengan berbagai macam bentuk, tetap saja bukan masa lampau yang sebenarnya hadir. Sekali lagi, masa lampau tetap berada di masa lampau. Tidak terjamah dengan sebenar-benarnya.

Bodjonegoro Tempo Doeloe (BTD)

Bodjonegoro memiliki sejarah panjang. Ada yang mengaitkannya dengan Prabu Anglingdharma hingga pendopo kabupaten pun dinamai Pendopo Malawapati. Sejarah kemiskinan yang dipaparkan oleh CLM Penders juga banyak menjadi rujukan penulis dan siapa saja yang hendak melihat masa lampau Bodjonegoro. Keberadaan sungai Bengawan Solo juga menjadi magnet orang meneliti masa lampau Bodjonegoro. Semua itu kemudian membentuk image tentang Bodjonegoro.

Padahal, di luar itu ada banyak kisah lain tentang Bodjonegoro di masa lampau yang belum diungkap. Kisah-kisah itu berupa cerita-cerita kecil masyarakat Bodjonegoro di masa lampau.  Sebut saja tentang bioskop. Karena ternyata di Bodjonegoro pernah ada lebih dari tiga bioskop yang hadir menemani pecinta film. Di mana saja gedung bioskop itu? Cerita tentangnya tak banyak yang tahu.

Lalu tentang kayu jati. Era kerajaan Jipang, kayu jati dikirim ke beberapa kerajaan untuk digunakan sebagai bahan dasar kapal. Bahkan berita koran Soeara Masjarakat edisi 19 November 1952 menyebut bahwa kayu jati dari hutan Bodjonegoro dikirim ke Manyar, Gresik lewat Bengawan Solo. Perdagangan waktu itu masih banyak memanfaatkan jalur transportasi air di bengawan.

“Pengiriman pertama 160 m2 ke Manjar tengah diberangkatkan lagi dan kini masih dipersiapkan lagi 4 rakit (300 m2). Nampak persediaan di setasiun pengirimannya di Ngulanan 4 km sebelah barat kota ini 278 m3 (ukuran) besar, dan 146 (ukuran) kecil hingga jumlah persediaan 425 m3,” tulis koran tersebut.

Masyarakat Bodjonegoro juga banyak yang mengabaikan cerita-cerita “kecil” lain semisal kapan dokter gigi pertama ditugaskan di RSUD Bodjonegoro? Juga tentang balsem yang pada tahun 1950 an menjadi obat paling merakyat. Cerita-cerita itu tentu asyik sekali menjadi bahan alternatif untuk melihat Bodjonegoro di masa lampau. Semua tentang masa lampau perlu mendapat tempatnya masing-masing. (Diolah dari pengantar buku BTD)

(Tulisan ini pernah tayang di Jawa Pos Radar Bojonegoro)

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here